Tampilkan postingan dengan label darah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label darah. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2011

Kenapa Bayiku Kuning?

Betapa bahagianya ketika bayi anda lahir dengan selamat. Namun saat mau pulang, dokter belum memperkenankannya karena ia mengalami kuning. Pasti anda cemas sekali. Mengapa ia kuning? Apakah berbahaya? Apa yang terjadi bila tidak diobati? Dan Bagaimana mengobatinya? Kuning pada bayi baru lahir disebut ikterus atau jaundice yaitu timbunan bilirubin di bawah kulit. Hal ini disebabkan melekatnya bilirubin atau pigmen empedu, yang berwarna kuning pada kulit dan mata.

Kalau kadar bilirubin jumlahnya hanya belasan mg/dl biasanya tidak apa-apa. Tetapi yang mengerikan adalah bila kadar bilirubin sangat tinggi yang disebut sebagai hiperbilirubinemia. Pada keadaan hiperbilirubinemia, kadar bilirubin dapat melebihi 20 mg/dl, sehingga dapat masuk ke dalam otak dan menyebabkan kerusakan otak yang permanen.

Mengapa Kadar Bilirubin Meningkat?

Tinggi rendahnya kadar bilirubin tergantung banyaknya sel darah merah yang pecah dan kemampuan hati memproses dan mengeluarkan bilirubin. Kuning yang tidak berbahaya terjadi pada kadar bilirubin sekitar 5 – 6 mg/dl di hari ketiga dan keempat. Kemudian menurun dan menghilang dalam satu minggu. Kadar bilirubin sampai 17 mg/dl pada hari keempat dan kelima umumnya juga masih dapat ditoleransi secara baik oleh bayi.
  • Ada pula peningkatan kadar bilirubin yang tidak normal. Yang paling sering adalah bila sel darah merah bayi terlalu banyak yang pecah.
    Penyebab tersering adalah darah ibu kurang cocok dengan darah bayi. Bila ibu mempunyai rhesus negatif sedangkan bayi mempunyai rhesus positif, atau ibu mempunyai golongan darah O sedangkan bayi mempunyai golongan darah A, B atau AB, maka darah bayi akan banyak yang pecah.
    Penyebab lain yang sering ditemukan pada orang Asia adalah kurangnya enzim Glucosa-6-Phosphate Dehydrogenase (G-6-PD) yaitu enzim yang bertugas memperkuat dinding sel darah merah.
    Selain itu, bayi kadang mengalami benturan di kepala pada saat lahir, sehingga terjadi benjolan di kepala yang berisi darah. Darah ini kemudian mencair dan melepaskan bilirubin.
    Untung masih ada beberapa faktor yang melindungi bayi dari bilirubin yang tinggi. Sebagian bilirubin akan saling berikatan dengan protein albumin. Bentuk yang terikat dengan albumin tidak berbahaya dan tidak dapat masuk ke dalam otak. Selain itu, hati juga bekerja keras untuk mengeluarkan bilirubin yang berlebihan.
Nah, bila ada gangguan terhadap kedua proses tersebut bilirubin akan menjadi berbahaya juga, misalnya:
  • Bayi mendapat beberapa macam obat yang mengandung antibiotik misalnya sulfa, eritromisin, atau klorampenikol. Obat-obat tersebut berikatan dengan albumin, sehingga jumlah albumin yang tersisa kurang mampu mengikat bilirubin.
  • Bayi prematur sering mengalami gangguan fungsi hati.
  • Bayi yang mengalami infeksi, yang juga dapat mengganggu fungsi hati.

Apakah pemberian ASI eksklusif dapat meningkatkan bilirubin?

Setelah bayi pulang, pada hari ke enam sampai 2 minggu, bayi yang mendapat ASI kadang-kadang juga mempunyai risiko peninggian bilirubin. ASI mengandung enzim ß-glucuronidase, dan beberapa jenis asam lemak yang dapat mengganggu pemrosesan bilirubin. Dalam keadaan ini, ASI boleh dihentikan sementara tetapi tetap diperas agar tidak berhenti. Bila penyebabnya benar karena ASI, dalam 48 jam bilirubin akan turun dengan cepat sebanyak 3 mg/dl dalam 1 hari. Lalu ASI dapat diberikan kembali.

Apa yang harus dilakukan bila bayi kuning?

Yang paling penting adalah mencegah bilirubin agar tidak meningkat terus sampai mencapai kadar yang berbahaya.
Biasanya dokter akan menggunakan suatu diagram untuk memperkirakan apakah kadar bilirubin akan meningkat terus sampai kadar yang berbahaya atau tidak. Diagram tersebut dibuat berdasarkan pemeriksaan kadar bilirubin pada jam tertentu, untuk bayi dengan kehamilan lebih dari 35 minggu dan berat badan lebih dari 2.500 gram.

Bersumber dari : www.anakku.net

Jumat, 04 November 2011

Adenomyosis


Apa itu Adenomyosis
Adenomyosis adalah penetrasi dan bertumbuhnya jaringan endometrium (jaringan yang melapisi dinding dalam rahim) ke dalam myometrium (lapisan otot rahim), sering disebut pula dengan endometriosis internal. Jadi penyakit ini sejenis dengan endometriosis. Adenomyosis dapat ada bersamaan dengan endometriosis eksternal. Dan jaringan endometrium yang salah tempat ini, seperti endometrium yang normal, akan mengikuti siklus menstruasi, jadi cenderung mengalami pendarahan pada saat menstruasi. Darah yang terkumpul di dalam jaringan otot rahim ini akan menyebabkan pembengkakan; rahim menjadi lebih besar. Pembengkakan (adenomyosis) ini dapat merata atau terfokus di satu tempat. Jika pembengkakan ini terfokus di satu tempat maka disebut sebagai adenomyoma, yang mana menyerupai tumor rahim lainnya.

Umumnya adenomyosis salah didiagnosa sebagai fibroid rahim. Sebenarnya terdapat perbedaan mendasar diantara fibroid (suatu tumor yang jelas) dan adenomyoma. Fibroid berasal dari satu sel yang abnormal, yang dibawah pengaruh hormon estrogen akan berkembangbiak. Pertumbuhan tumor mungkin dapat menggeser dan menekan jaringan sekitarnya, tetapi dia tidak pernah menyusup ke jaringan otot rahim, oleh karena tidak menyusup ke jaringan otot rahim maka dimungkinkan untuk mengangkat seluruh tumor ini tanpa mengganggu jaringan rahim yang normal selama proses pembedahan yang disebut myomektomi (pembedahan untuk mengangkat fibroid). Sebaliknya adenomyoma bukanlah suatu tumor dengan batas yang jelas, tetapi lebih kea rah pembengkakan local dari dinding rahim sebagai akibat penetrasi jaringan endometrium. Oleh karena itu tidak mungkin untuk mengangkat jaringan yang terkena adenomyosis tanpa mengangkat jaringan otot rahim yang dipenetrasi tadi.

Apa gejala dari adenomyosis
Bisa saja seseorang memiliki adenomyosis dan dia tidak merasakan gejala apapun. Gejala-gejala adenomyosis adalah triad gejala yakni pembesaran rahim, nyeri pelvis dan menstruasi yang banyak dan abnormal. Nyeri, yang dirasakan terutama selama menstruasi disebut dysmenorrhea dapat berupa kram yang hebat atau seperti disayat pisau. Nyeri dapat juga dirasakan pada saat tidak sedang menstruasi. Pembesaran rahim dapat merata dengan tonjolan-tonjolan rahim yang besar atau dapat pula seperti “tumor” yang terlokalisir. Pendarahan pada saat menstruasi dapat banyak sekali dan berhari-hari, mungkin dengan bekuan-bekuan darah. Pendarahan yang hebat ini dapat menyebabkan anemia (berkurangnya kadar Hemoglobin dalam sel darah merah). Selain itu diluar saat menstruasi bisa ada pendarahan abnormal (pendarahan sedikit-sedikit, bercak-bercak).

Efek dari adenomyosis pada kesuburan dan kehamilan tidak jelas. Adenomyosis mungkin menyebabkan berkurangnya kesuburan. Informasi yang ada menyebutkan bahwa adenomyosis bisa ada pada 17% wanita hamil yang berusia di atas 35 tahun. Adenomyosis jarang dihubungkan dengan komplikasi obstetrik ataupun pembedahan. Pada kebanyakan kasus wanita hamil dengan adenomyosis, adenomyosisnya ditemukan secara kebetulan pada saat operasi cesar atau pada saat operasi pengangkatan rahim. Jadi adenomyosis dengan ketidaksuburan masih memerlukan penelitian yang lebih lanjut.

Bagaimana adenomyosis didiagnosa
Adenomyosis seringkali ditemukan secara kebetulan, ditemukan pada saat operasi pengangkatan rahim karena alasan lain. Adenomyosis bisa didagnosa dengan melakukan suatu histerosalpingogram (suatu pemeriksaan roentgen daerah panggul setelah suatu kontras dimasukkan ke dalam dinding rahim). Pada saat ini diagnosa lebih baik didapat dengan pemeriksaan MRI yang dapat mendeteksi adanya adenomyosis dan seberapa luas adenomyosis dan juga dapat membedakannya dari fibroid. Pemeriksaan MRI panggul ini harus dikerjakan dengan media kontras Gadolinium yang disuntikkan ke pembuluh darah. Selain itu USG transvaginal (USG yang alatnya dimasukkan ke dalam vagina), ditangan pakar yang berpengalaman, juga dapat mendiagnosis secara akurat. Dengan MRI maupun USG (di tangan pakar yang berpengalaman) dapat dideteksi adenomyosis pada lebih dari 90% kasus.
Adenomyosis adalah suatu keadaan yang umum dijumpai oleh karena itu harus dipertimbangkan pada setiap wanita dengan pendarahan yang abnormal. Keadaan ini cenderung tidak terdiagnosa, karena pendarahan yang abnormal seringkali dianggap akibat kelainan hormonal.

Apakah ada obat-obat untuk mengurangi gejala adenomyosis
Seringkali pembesaran rahim yang tidak begitu besar biasanya tidak menimbulkan gejala dan karenanya tidak diperlukan obat-obatan. Untuk kasus-kasus pendarahan hebat disertai nyeri yang amat sangat dapat dipakai obat GnRH agonis yang mana obat ini menyebabkan suatu keadaan seperti menopause dengan penghentian fungsi indung telur secara lengkap dan juga menghentikan menstruasi, yang menyebabkan jaringan yang abnormal bisa menyusut. Keadaan seperti menopause ini sangat menguntungkan bagi pasien-pasien yang mengalami anemia karena memungkinkan pasien untuk memulihkan anemianya, terutama dibantu dengan obat-obatan penambah darah. Tapi obat GnRH agonis ini tidak mudah ditoleransi oleh karena menyebabkan gejala-gejala menopause seperti hot flash. Konsekuensi lainnya adalah pengeroposan tulang, peningkatan kolesterol jahat dan penurunan kolesterol yang baik. Oleh karena itu pemakaian obat ini biasanya dibatasi selama 6 bulan saja. GnRH agonis juga digunakan untuk mengobati kemandulan yang dihubungkan dengan adenomyosis. Tapi obat ini bisa memulihkan kesuburan hanya pada kasus-kasus yang ringan, tidak pada kasus-kasus yang berat.
Hormon progesterone ataupun pil KB tidak begitu efektif, khasiatnya bersifat temporer.

Pembedahan macam apa untuk adenomyosis
Hysterectomy (operasi pengangkatan rahim) saat ini dipertimbangkan sebagai satu-satunya terapi yang efektif untuk adenomyosis yang menimbulkan gejala. Ahli bedah yang berpengalaman dapat hanya mengangkat sebagian dari rahim (hanya daerah rahim yang mengandung adenomyosis saja). Meskipun hanya sebagian rahim yang diangkat tetapi dengan begitu maka tidak dibolehkan lagi adanya kehamilan. 

Bersumber dari : suryo-wibowo.blogspot.com
Ditulis oleh : dr. Suryo Wibowo, MKK, SpOk

Kamis, 03 November 2011

Bayi Kuning Harus Dijemur?

Tidak semua ibu-ibu yang mempunyai bayi mengetahui bahwa bayinya kuning. Apa itu bayi kuning serta bagaimana penanganannya. Adakah manfaatnya penjemuran di sinar matahari?

Apa yang disebut bilirubin?

Bayi kuning terjadi karena adanya peningkatan bilirubin di dalam darah. Bilirubin merupakan hasil pemecahan sel darah merah yang telah mecapai usia tertentu (sel yang telah tua). Bila jumlahnya di dalam darah cukup banyak, ia akan ditimbun di bagian-bagian tubuh tertentu. Gejala yang terlihat ialah warna kuning pada kulit, bagian putih bola mata dan mukosa (selaput lendir) tubuh.

Dalam prosesnya bilirubin akan ditemukan dalam 2 bentuk. Yang pertama yang disebut bilirubin bebas (indirek), merupakan hasil pemecahan hem yang merupakan hasil penguraian hemoglobin (zat dalam sel darah merah). Bilirubin ini bersifat racun, sukar larut dalam air mudah larut dalam lemak, dapat menemus lapisan pelindung otak sehingga menyebabkan kerusakan. Yang kedua bilirubin direk yang merupakan hasil perubahan dari bilirubin indirek di hati. Bilirubin ini mudah larut dalam air sehingga lebih mudah dikeluarkan oleh tubuh.

Mengapa banyak terbentuk bilirubin?

Pada saat masih dalam kandungan, karena paru-paru yang belum berfungsi, janin memiliki sel darah merah yang sangat banyak. Sel darah merah inilah yang dibutuhkan untuk mengangkut oksigen dan zat makanan dari ibu ke janin. Setelah lahir, paru-paru mulai berfungsi, sel darah merah tak dibutuhkan lagi akan dihancurkan. Proses penghancuran ini akan menghasilkan bilirubin.

Bayi cukup bulan mempunyai batas aman untuk kadar bilirubin 12 mg/dl. Sedangkan bayi kurang bulan, batas aman kadar bilirubinnya adalah 10 mg/dl. Jika kadarnya meningkat diluar kadar tersebut disebut hiperbilirubin (patologis, penyakit). Bilirubin yang terlalu tinggi pada keadaan tertentu dapat masuk kedalam otak dan menyebabkan kerusakan otak dengan gejala gangguan pendengaran, keterbelakangan mental dan gangguan tingkah laku.

Penanganan bayi kuning

Kuning yang fisiologis (normal) biasanya dimulai 24 jam setelah lahir dan hampir sebagian besar terjadi pada usia 2-4 hari . Biasanya kuning akan menghilang atau berkurang pada usia 1 sampai 2 minggu. Kuning dengan kadar bilirbin tinggi merupakan hal yang patologis. Ini dapat disebabkan oleh berbagai penyakit seperti hepatitis, toksoplasma, sifilis, malaria, kelainan di saluran empedu atau ketidak cocokan golongan darah atau rhesus ibu dan bayi.

Pemberian ASI (Air Susu Ibu)

Pada bayi yang kuning sebagian ibu-ibu menghentikan pemberian ASI. Menurut rekomendasi AAP, justru pemberian ASI tidak boleh dihentikan, bahkan harus ditingkatkan (lebih kurang 10-12 kali sehari). Sedangkan pemberian banyak air putih tidak akan menurunkan kadar bilirubin.

Terapi sinar

Dilakukan di klinik atau rumah sakit. Caranya yaitu dengan memberikan sinar lampu berspektrum 400-500 nanometer pada kulit bayi. Dengan terapi sinar bilirubin dalam tubuh bayi dapat dipecah sehingga mudah larut dalam air, dieksresikan dengan cepat ke dalam kandung empedu dan dikeluarkan dari dalam tubuh.

Transfusi tukar

Ialah suatu tindakan mengganti darah bayi yang mengandung kadar bilirubin yang sangat tinggi (lebih dari 20 mg/dl pada bayi usia 2 hari, lebih dari 25 mg/dl pada bayi usia lebih dari 2 hari) dengan darah donor yang sesuai dengan darah bayi.

Terapi dengan sinar matahari

Terapi dengan sinar matahari saat ini masih menjadi perdebatan. Dasar pemberian sinar matahari karena sinar matahari mempunyai panjang gelombang sekitar 450-460 nm. Sinar yang mempunyai spektrum emisi pada panjang gelombang tersebut (warna biru, putih dan sinar matahari), akan memecah bilirubin menjadi zat yang mudah larut dalam air.

Bayi yang kuning dengan kadar fisiologis, dapat dijemur di bawah sinar matahari pagi antara pukul 07.00 sampai 09.00, adalah merupakan waktu yang paling efektif, jadi tidak dapat sepanjang waktu, serta belum terlalu panas. Penjemuran biasanya diberikan selama lebih kurang 15 hingga 30 menit.

Beberapa ahli yang tidak setuju dengan penjemuran, berpendapat bahwa meletakkan bayi dibawah sinar matahari tidak akan menurunkan kadar bilirubin dalam darah. Malahan sinar matahari tersebut akan menyebabkan luka bakar pada kulit. Selain itu bayi akan kedinginan. Oleh karena itu yang terpenting ialah memberikan ASI secara cukup dan teratur pada bayi-bayi yang kuning, bahkan dengan frekuensi yang lebih ditingkatkan.

Kuning ialah suatu pertanda, merupakan proses alamiah walaupun dapat pula menjadi sesuatu yang patologis. Yang penting diperhatikan ialah kuning harus dapat dikendalikan sehingga tidak menjadikan bahaya. Penjemuran dengan sinar matahari masih dapat dilakukan dengan memperhatikan kondisi-kondisi yang menjadi kontra indikasi.

Referensi

American Academy of Pediatrics (2004). Management of hyperbilirubinemia in the newborn infant 35 or more weeks of gestation. Pediatics, 114(1):297-316.

Bersumber dari: www.anakku.net

Kamis, 29 September 2011

DBD, Tak Selalu Perlu Transfusi Trombosit

Jumlah trombosit yang rendah bahkan sampai di bawah 20.000 tanpa pendarahan yang signifikan bukan merupakan indikasi untuk diberikan trombosit.
Jadi kadar trombosit yang rendah saja tidak memerlukan transfusi trombosit… Kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat, jumlah trombosit yang rendah saja bukan indikasi untuk mendapat transfusi trombosit.
Satu hal yang selalu menggelitik dan menimbulkan rasa prihatin adalah bila terjadi peningkatan kasus demam berdarah maka permintaan trombosit di PMI meningkat tajam. Di lingkungan Forum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) maupun Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, menekankan bahwa transfusi trombosit hanya diberikan pada pasien dengan perdarahan yang berat seperti muntah darah, mimisan yang terus menerus atau perdarahan dari saluran cerna bawah berupa BAB berdarah segar.
Jumlah trombosit yang rendah bahkan sampai di bawah 20.000 tanpa pendarahan yang signifikan bukan merupakan indikasi untuk diberikan trombosit sehingga kadar trombosit yang rendah saja tidak memerlukan transfusi trombosit.

Berat atau ringan?

Menurut WHO secara klinis seseorang yang terinfeksi virus dengue bisa tanpa gejala maupun dengan gejala. Yang bergejala dibagi 2 lagi yaitu Demam Dengue (DD) dan Dengue Haemorhagic Fever (DHF). Pasien dengan DHF biasanya dengan gejala yang lebih berat dan gejala perdarahan yang lebih jelas. Ini sesuai dengan klasifikasi WHO terakhir yang diterbitkan pada tahun 1997. Derajat berat ringannya DHF dibagi menjadi 4, tergantung perdarahan yang terjadi, serta ada tidaknya gangguan sistem sirkulasi pada saat seseorang masuk rumah sakit.
Semakin berat kondisi pada saat masuk semakin tinggi derajat sakitnya dan tentunya hal ini berhubungan dengan resiko terjadinya kematian. Selain demam tinggi yang mendadak kadang kala juga disertai nyeri di ulu hati, mual bahkan muntah, kepala pusing seperti melayang, pegal dan rasa nyeri di otot. Setelah 2-5 hari bisa terjadi manifestasi perdarahan baik berupa bintik merah pada kulit terutama di tangan, kaki dan dada, mimisan, gusi berdarah bahkan sampai muntah darah.
Penderita DHF selalu dihubungkan dengan trombosit yang rendah. Kadar trombosit yang rendah juga menjadi patokan kapan pasien harus dirawat. Walau sebenarnya selain trombosit yang rendah adanya darah yang semakin pekat (hemokonsentrasi) ditandai oleh hematokrit yang meningkat serta tanda-tanda perdarahan merupakan hal lain yang
juga dilihat sebelum memutuskan apakah pasien perlu dirawat atau tidak.
Pada pasien demam berdarah selain jumlah trombosit yang menurun, fungsi trombosit juga menurun. Oleh karena itu biasanya disebutkan bahwa pada pasien DHF trombosit terganggu baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Sebagai mana kita ketahui bahwa trombosit merupakan salah satu sel darah yang berperan pada sistem keseimbangan proses pembekuan dan perdarahan (hemostasis) di dalam tubuh kita. Oleh karena itu, adanya gangguan pada trombosit ini juga akan meningkatkan terjadinya proses pendarahan.

Trombosit rendah bukan berarti harus segera ditingkatkan

Lihat dulu penyebab penurunan kadar trombosit, apakah karena penekanan produksi di sumsum tulang, penggunaan trombosit yang berlebihan atau adanya antibodi anti-trombosit dalam darah. Transfusi trombosit yang tidak pada tempatnya justru akan memperburuk keadaan karena akan merangsang proses inflamasi lebih lanjut sehingga penghancuran trombosit akan lebih meningkat.

Kapan perlu transfusi trombosit?

Divisi Penyakit Tropis dan Infeksi Departemen Ilmu penyakit Dalam serta pakar dari Divisi Hematologi dan Onkologi Medis Departemen Ilmu Penyakit FKUI-RSCM menyatakan bahwa transfusi trombosit diberikan pada pasien dengan perdarahan spontan dan masif (banyak). Pemberian transfusi trombosit juga harus dilakukan dengan hati-hati dengan melihat komponen sistem pembekuan darah yang lain.
Oleh karena itu jumlah trombosit yang rendah bahkan lebih rendah dari 20.000 tanpa perdarahan yang signifikan bukan merupakan indikasi dilakukan transfusi trombosit. Karena faktor ketidaktahuan kadang keluarga pasien meminta kepada dokter agar keluarganya yang sedang dirawat diberi transfusi trombosit padahal tidak ada indikasi untuk pemberian transfusi trombosit.
Biasanya trombosit akan naik dengan sendirinya setelah hari ke-7 sejak mulai terjadinya demam. Selama perawatan jika tidak terjadi syok atau perdarahan masif, cairan infus yaitu cairan kristaloid seperti cairan ringer laktat atau asering yang diberikan untuk menjaga agar volume cairan di dalam pembuluh darah tetap terjaga baik.
Dengan penanganan pasien DBD sesuai prosedur, pemberian komponen darah trombosit dapat diberikan secara selektif. Sehingga pada saat dibutuhkan sesuai indikasi maka komponen trombosit tetap tersedia. Karena selain pada kasus DBD dengan perdarahan yang masif, transfusi trombosit juga dibutuhkan bagi pasien-pasien dengan kelainan darah atau pasien dengan gangguan liver yang berat.
Semoga informasi ini dapat menekan permintaan komponen darah trombosit yang tidak sesuai dengan indikasi.

Bersumber dari : www.anakku.net
Ditulis oleh : Hardiono Pusponegoro ( Dokter Spesialis Anak, Konsultan Saraf Anak. Bekerja di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/ RS Dr. Cipto Mangunkusumo. Praktek di Klinik Anakku Kelapa Gading. Founder Klinik Anakku Check My Child dan Sekolah Anakku. Juga menjadi pimpinan redaksi Majalah Anakku.)

Sabtu, 17 September 2011

Bayi Rawan Bahaya Terhadap Pengharum Ruangan

Kabarnya bayi sejak masih janin di dalam kandungan sangat rentan terhadap pengharum ruangan. Secara kimiawi zat-zat yang terkandung di dalamnya katanya bisa mengganggu dan menghambat pertumbuhan janin dalam kandungan.

Sementara itu pada bayi yang sudah lahir konon teresiko terhadap paparan langsung dari pengharum ruangan. Sebab katanya bisa terserap ke dalam kulit bayi dan bisa teredar langsung di dalam darah. Seperti misalkan kamper yang bisa mengakibatkan peningkatan kadar zat bilirubin di dalam darah bayi. Hal itu bisa mengakibatkan gangguan pada system saraf pusat.

Sehingga bila masih ada ibu hamil atau bayi ataupun balita maka sebaiknya hindarkan penggunaan pengharum ruangan yang secara berlebihan. Namun sebagai gantinya kita gunakan benda penyerap bau saja. Seperti contohnya karbon aktif dan silica gel Dan untuk sebagai pewanginya atau pengharum ruangannya maka kita bisa gunakan pengharum ruangan alami seperti ekstrak tumbuh-tumbuhan wangi seperti ekstrak bunga-bungaan atau buah-buahan yang kita teteskan pada sebuah gumpalan kapas. Bisa juga ekstrak tersebut kita uapkan dengan air panas atau kita campur dengan alcohol atau spirtus sehingga aroma harumnya akan menyebar ke mana-mana.

Dan bila bahan penyerap bau tak sedap tersebut sudah jenuh maka kita masih bisa aktifkan dia kembali. Caranya yaitu bisa kita panaskan lagi di oven dengan suhu 105 derajad Celcius.