Tampilkan postingan dengan label nyamuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nyamuk. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2012

Beda Demam Dengue dengan DBD

Meski perjalanan awal penyakit ini hampir mirip, namun dua penyakit infeksi virus dengue ini memiliki tingkat kegawatan berbeda.

Demam dengue dan demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamukAedes aegypti. Infeksi virus dengue menyebar dengan cepat dan dapat menyerang banyak orang pada masa epidemik. Kondisi lebih parah dialami oleh anak-anak. 

DBD merupakan bentuk yang lebih parah dari demam dengue karena perdarahan dan syok terkadang dapat terjadi yang dapat berakibat fatal, yakni kematian. Menurut dr.Alan Tumbelaka, Sp.A (K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Jakarta, gejala penyakit demam dengue atau DBD secara umum hampir mirip. "Pada fase awal, dua penyakit ini tidak bisa dibedakan," katanya. 

Secara umum, penyakit demam dengue dan DBD memiliki ciri.

Demam dengue
- Demam akut selama 2-7 hari, disertai sakit kepala, nyeri otot dan sendi
- Bisa disertai penurunan trombosit.
- Panas akan turun pada hari ketiga atau keempat. 
- Tingkat penyembuhannya lebih baik.


DBD:
- Demam tinggi mendadak, disertai nyeri kepala, nyeri di bagian belakang bola mata, terkadang juga nyeri perut.
- Ada tanda ruam atau bintaik merah di kulit
- Tidak disertai dengan batuk atau sakit di tenggorokan.
- Trombosit dan leukosit turun (kurang dari 100.000)
- Terjadi peningkatan hematokrit (naik 20 persen dari jumlah normal).
- Perdarahan pada jaringan lunak (hidung, mulut, atau gusi).
- Terjadi perembesan plasma. Makin bocor bisa menyebabkan syok. 

Ditambahkan oleh dokter Alan, penentuan penyakit demam dengue atau DBD baru bisa dilakukan pada hari ketiga lewat gejala klinis ditambah pemeriksaan penunjang. "Diagnosis DBD bisa ditegakkan bila memenuhi dua kriteria klinis dan penurunan trombosit serta peningkatan hematokrit," paparnya.


Bersumber dari : www.kompas.com

Senin, 24 Oktober 2011

Obat Antinyamuk, Amankah?

Obat antinyamuk tidaklah sepenuhnya aman, karena mengandung zat-zat kimia yang berefek samping merugikan kesehatan…

Antinyamuk bakar menghasilkan asap yang diyakini dapat mengusir nyamuk, namun ada kecurigaan bahwa asap tersebut juga dapat meningkatkan kejadian ISPA, seperti batuk dan sesak pada anak. Tetapi hingga kini belum diperoleh bukti yang kuat mengenai efek tersebut. Antinyamuk elektrik memiliki efek yang hampir sama dengan antinyamuk bakar; menghasilkan asap, hanya saja tidak terlihat. Antinyamuk semprot menghasilkan partikel aerosol yang bersifat sebagai racun kontak bagi nyamuk. 

Umumnya kandungan zat aktif dalam ketiga jenis antinyamuk tersebut sama, yaitu insektisida. Ada bermacam-macam insektisida yang terkandung dalam antinyamuk yang saat ini beredar, antara lain propoxur, dichlorvos, chlorpyrifos, dan turunan pyrethroid (seperti pyrethrine, d-allethrine, dan transfluthrine). Propoxur, dichlorvos, dan chlorpyrifos mempunyai daya racun yang lebih tinggi daripada turunan pyrethroid.
Propoxur, jika terpapar dalam jumlah besar dapat menurunkan aktivitas kolinesterase (enzim yang berperan dalam transmisi impuls saraf), sehingga menimbulkan gejala keracunan seperti pandangan kabur, keluar keringat berlebih, pusing, mual, muntah, diare, dan sesak nafas.

Dichlorvos, telah ditetapkan WHO sebagai racun kelas I. Suatu penelitian menyatakan bahwa dichlorvos bersifat embriotoksik dan teratogenik (membahayakan perkembangan janin) pada mencit percobaan, yang mungkin juga sama membahayakannya bagi perkembangan manusia. Selain itu dichlorvos juga bersifat mutagenik pada bagian tubuh yang kontak dengan zat tersebut, sehingga berpotensi memicu kanker.
Chlorpyrifos bersifat neurotoksik (meracuni saraf) pada individu yang rentan dan dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.

Lotion antinyamuk umumnya mengandung zat aktif Diethyltoluamide (DEET), yang berefek mengiritasi kulit dan berbahaya bila mengenai selaput lendir tubuh atau permukaan kulit yang terluka.

Fakta-fakta di atas jelas mengkhawatirkan, mengingat risiko kontaminasi pada anak-anak lebih tinggi daripada orang dewasa, dikarenakan:

(1) daya tahan tubuh anak masih lemah sehingga lebih rentan
(2) proses pernafasan anak lebih cepat sehingga lebih banyak zat kimia yang terhirup.

Jika demikian, antinyamuk apa yang aman digunakan?

  1. Cara tradisional yaitu memasang kelambu pada tempat tidur anak
  2. Menjaga kebersihan rumah dan sekitarnya
  3. Memasang kasa nyamuk pada pintu dan jendela
  4. Menggunakan raket antinyamuk
  5. Pilihlah antinyamuk yang mengandung insektisida yang lebih rendah daya racunnya, seperti turunan pyrethroid (kandungan zat aktif dapat dibaca pada label kemasan).
  6. Gunakan antinyamuk sesuai keperluan. Untuk ruang tertutup sebaiknya gunakan bentuk semprot. Selama penyemprotan sebaiknya tidak ada orang lain di dalam ruangan, dan ruang baru dimasuki setelah 2-3 jam.
  7. Ruang ber-AC sebaiknya tidak menggunakan antinyamuk apapun karena dapat membuat zat kimia terakumulasi.
  8. Jika menggunakan antinyamuk bakar atau elektrik, ruangan harus selalu terbuka sepanjang pemakaian.
  9. Hindarkan anak-anak dari kontak dengan antinyamuk. Lotion antinyamuk baru boleh diberikan pada anak-anak berusia di atas 9 tahun, dan dioleskan secukupnya saja. Lotion tidak boleh dioleskan pada kulit yang terluka.
Prinsipnya semua antinyamuk memang mengandung zat kimia yang dapat menjadi racun. Karena itu gunakanlah sesedikit mungkin sesuai kebutuhan.
Referensi :
  • Asmatullah, Andleeb, S., and Akhtar, N. 2004. Developmental Defects Induced By Dichlorvos In Mice. Journal of Research (Science), Bahauddin Zakariya University, Multan, Pakistan. Vol.15, No.3, December 2004, pp.271-279.
  • Donatus, I. A. 2001. Toksikologi Dasar. Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi. Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
  • Klaassen, C. D. 2001. Cassarett & Doull’s Toxicology: The Basic Science of Poisons. 6th Edition. McGraw-Hill. New York.
 Bersumber dari : www.anakku.net

Kamis, 29 September 2011

DBD, Tak Selalu Perlu Transfusi Trombosit

Jumlah trombosit yang rendah bahkan sampai di bawah 20.000 tanpa pendarahan yang signifikan bukan merupakan indikasi untuk diberikan trombosit.
Jadi kadar trombosit yang rendah saja tidak memerlukan transfusi trombosit… Kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat, jumlah trombosit yang rendah saja bukan indikasi untuk mendapat transfusi trombosit.
Satu hal yang selalu menggelitik dan menimbulkan rasa prihatin adalah bila terjadi peningkatan kasus demam berdarah maka permintaan trombosit di PMI meningkat tajam. Di lingkungan Forum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) maupun Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, menekankan bahwa transfusi trombosit hanya diberikan pada pasien dengan perdarahan yang berat seperti muntah darah, mimisan yang terus menerus atau perdarahan dari saluran cerna bawah berupa BAB berdarah segar.
Jumlah trombosit yang rendah bahkan sampai di bawah 20.000 tanpa pendarahan yang signifikan bukan merupakan indikasi untuk diberikan trombosit sehingga kadar trombosit yang rendah saja tidak memerlukan transfusi trombosit.

Berat atau ringan?

Menurut WHO secara klinis seseorang yang terinfeksi virus dengue bisa tanpa gejala maupun dengan gejala. Yang bergejala dibagi 2 lagi yaitu Demam Dengue (DD) dan Dengue Haemorhagic Fever (DHF). Pasien dengan DHF biasanya dengan gejala yang lebih berat dan gejala perdarahan yang lebih jelas. Ini sesuai dengan klasifikasi WHO terakhir yang diterbitkan pada tahun 1997. Derajat berat ringannya DHF dibagi menjadi 4, tergantung perdarahan yang terjadi, serta ada tidaknya gangguan sistem sirkulasi pada saat seseorang masuk rumah sakit.
Semakin berat kondisi pada saat masuk semakin tinggi derajat sakitnya dan tentunya hal ini berhubungan dengan resiko terjadinya kematian. Selain demam tinggi yang mendadak kadang kala juga disertai nyeri di ulu hati, mual bahkan muntah, kepala pusing seperti melayang, pegal dan rasa nyeri di otot. Setelah 2-5 hari bisa terjadi manifestasi perdarahan baik berupa bintik merah pada kulit terutama di tangan, kaki dan dada, mimisan, gusi berdarah bahkan sampai muntah darah.
Penderita DHF selalu dihubungkan dengan trombosit yang rendah. Kadar trombosit yang rendah juga menjadi patokan kapan pasien harus dirawat. Walau sebenarnya selain trombosit yang rendah adanya darah yang semakin pekat (hemokonsentrasi) ditandai oleh hematokrit yang meningkat serta tanda-tanda perdarahan merupakan hal lain yang
juga dilihat sebelum memutuskan apakah pasien perlu dirawat atau tidak.
Pada pasien demam berdarah selain jumlah trombosit yang menurun, fungsi trombosit juga menurun. Oleh karena itu biasanya disebutkan bahwa pada pasien DHF trombosit terganggu baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Sebagai mana kita ketahui bahwa trombosit merupakan salah satu sel darah yang berperan pada sistem keseimbangan proses pembekuan dan perdarahan (hemostasis) di dalam tubuh kita. Oleh karena itu, adanya gangguan pada trombosit ini juga akan meningkatkan terjadinya proses pendarahan.

Trombosit rendah bukan berarti harus segera ditingkatkan

Lihat dulu penyebab penurunan kadar trombosit, apakah karena penekanan produksi di sumsum tulang, penggunaan trombosit yang berlebihan atau adanya antibodi anti-trombosit dalam darah. Transfusi trombosit yang tidak pada tempatnya justru akan memperburuk keadaan karena akan merangsang proses inflamasi lebih lanjut sehingga penghancuran trombosit akan lebih meningkat.

Kapan perlu transfusi trombosit?

Divisi Penyakit Tropis dan Infeksi Departemen Ilmu penyakit Dalam serta pakar dari Divisi Hematologi dan Onkologi Medis Departemen Ilmu Penyakit FKUI-RSCM menyatakan bahwa transfusi trombosit diberikan pada pasien dengan perdarahan spontan dan masif (banyak). Pemberian transfusi trombosit juga harus dilakukan dengan hati-hati dengan melihat komponen sistem pembekuan darah yang lain.
Oleh karena itu jumlah trombosit yang rendah bahkan lebih rendah dari 20.000 tanpa perdarahan yang signifikan bukan merupakan indikasi dilakukan transfusi trombosit. Karena faktor ketidaktahuan kadang keluarga pasien meminta kepada dokter agar keluarganya yang sedang dirawat diberi transfusi trombosit padahal tidak ada indikasi untuk pemberian transfusi trombosit.
Biasanya trombosit akan naik dengan sendirinya setelah hari ke-7 sejak mulai terjadinya demam. Selama perawatan jika tidak terjadi syok atau perdarahan masif, cairan infus yaitu cairan kristaloid seperti cairan ringer laktat atau asering yang diberikan untuk menjaga agar volume cairan di dalam pembuluh darah tetap terjaga baik.
Dengan penanganan pasien DBD sesuai prosedur, pemberian komponen darah trombosit dapat diberikan secara selektif. Sehingga pada saat dibutuhkan sesuai indikasi maka komponen trombosit tetap tersedia. Karena selain pada kasus DBD dengan perdarahan yang masif, transfusi trombosit juga dibutuhkan bagi pasien-pasien dengan kelainan darah atau pasien dengan gangguan liver yang berat.
Semoga informasi ini dapat menekan permintaan komponen darah trombosit yang tidak sesuai dengan indikasi.

Bersumber dari : www.anakku.net
Ditulis oleh : Hardiono Pusponegoro ( Dokter Spesialis Anak, Konsultan Saraf Anak. Bekerja di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/ RS Dr. Cipto Mangunkusumo. Praktek di Klinik Anakku Kelapa Gading. Founder Klinik Anakku Check My Child dan Sekolah Anakku. Juga menjadi pimpinan redaksi Majalah Anakku.)