Tampilkan postingan dengan label trombosit. demam berdarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label trombosit. demam berdarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2011

Jus Jambu Atasi Demam Berdarah?

Penyakit demam berdarah (DBD)kembali membuat gundah. Jambu biji merah punmenjadi buah yang paling dicari. Jus buah ini dianggap dapat mengobati penyakityang disebarkan oleh nyamuk aedes aegypti itu. Benarkah demikian?

Musim hujan kembali datang dan penyakitdemam berdarah kerap meningkat dimusim ini. Dimusim hujan hampir tidak ada daerah di Indonesia yang terbebas dari serangan penyakit DBD. Penelitian terakhir menyebutkan bahwa penyakit ini sudah ditemukan di seluruh propinsi di Indonesia. Maklumlah, penyakit ini lebih sering berkembang di daerah tropis atau subtropis.

Penyakit ini cukup membuat kita resah karena jika tidak diatasi dengan segera dapat menimbulkan kematian. Meskipun, patut disayangkan karena kecemasan ini tidak diikuti dengan tindakanuntuk mengurangi kemungkinan munculnya si penyebarpenyakit (baca: nyamuk aedes aegypti). Masyarakat sering lupa melaksanakan tindakan 3 M ( menguras, mengubur, dan memberikan bubuk abate) yang sesungguhnyamenjadicara awal untuk menangkal penyakit ini.

Akibatnya penyakit demam berdarah pun semakin merajalela. Di kalangan masyarakat umum, berkembang anggapan bahwa untuk mengobati demam berdarah penderita DBD harus mengkonsumsi jus jambu dalam jumlah banyak. Akibatnya buah jambu biji merah ini pun menjadi primadona. Bahkan harganya bisa naik jadi dua kali lipat. Benarkah jus jambu merah ini ampuh mengobati demam berdarah?

Fakta yang sebenarnya

Demam berdarah adalah penyakit infeksi yang diakibatkan oleh virus dengue. Virus ini masuk ke dalam pembuluh darah dan menyerang dinding pembuluh darah. Di dalam tubuh terjadi reaksi yang komplek, yang mengakibatkan kebocoran pembuluh darah. Akibatnya terjadi penurunan jumlah trombosit.

Jika hal ini tidak ditanggulangi, akan terjadi perdarahan saluran cernayang ditandai dengan warna tinja yang hitam. Terjadi pula perdarahan pada organ tubuh lain seperti ginjal dan paru-paru.Pada stadium akhir dapat terjadi muntah darah.

Namun, sebelum hal ini terjadi, tubuh akan bereaksi terhadap virus. Pada tahap awal tubuh akan mencoba melawan virus dengan menetralisir virus.Jika tidak berhasil virus akan menganggu fungsi pembekuan darah dan timbul perdarahan. Supaya tubuh kita berhasil melawan virus dibutuhkan daya tahan tubuh yang kuat.

Untuk mendapatkan daya tahan tubuh yang baik, salah satu yang diperlukan adalah asupan makanan yang kaya gizi dan vitamin. Salah satu jenis vitamin yang cukup penting adalah vitamin C. Jambu biji adalahsatu dari banyak jenis buah-buahan yang mengandung banyak vitamin C.Ini berarti bahwa jus jambu biji akan efektif sebagai pembangun daya tahan tubuh untuk melawan virus dengue bukan untuk menyembuhkan penyakit demam berdarah. 

Untuk mengobati penyakit demam berdarah, sebagai langkah awal dokter akan memberikan cairan agar penderita DBD tidak mengalami dehidrasi. Jika pemberian cairan melalui mulut tidak mencukupi atau derajat kebocoran plasma cukup berat, cairan harus diberikan melalui infus yang dimasukkan lewat pembuluh darah vena.

Cairan melalui infus biasanya diberikan jika penderita muntah setiap kali makan atau minum. Dokter juga akan memberikan obat penurun panas guna mengurangi demam dan rasa nyeri.Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan dan memantau perkembangan penderita DBD.Jika terjadi perdarahan cerna, dokter mungkin akan melakukan transfusi darah.

Pada saat penderita mengalami demam berdarah dan harus dirawat di rumah sakit, dokter bisa jadi melarang konsumsi jus jambu. Terutama jika hal ini menimbulkan munta-muntah. Tapi, pada penderita demam berdarah stadium awal, ketika penderita masih bisa makan dan minum, pemberian jus jambu masih diperbolehkan. Dengan harapan, dapat membantu memperbaiki daya tahan tubuh.

Waspadai gejala demam berdarah seperti berikut ini:

  • Demam mendadak tanpa sebab yang jelas
  • Demam disertai kemerahan di wajah dan leher serta muntah
  • Timbul perdarahan, baik dari gigi, mulut, hidung, kulit, atau tinja
  • Anda juga patut curiga jika terjadi penurunan suhu secara tiba-tiba setelah beberapa waktu penderita mengalami demam. Gejala ini diiringi dengan rasa gelisah, sakit perut, dan badan lemas. Ini menandakan DBD akan memasuki fase syok yang sangat berbahaya. 

 Bersumber dari : www.anakku.net

Kamis, 29 September 2011

DBD, Tak Selalu Perlu Transfusi Trombosit

Jumlah trombosit yang rendah bahkan sampai di bawah 20.000 tanpa pendarahan yang signifikan bukan merupakan indikasi untuk diberikan trombosit.
Jadi kadar trombosit yang rendah saja tidak memerlukan transfusi trombosit… Kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat, jumlah trombosit yang rendah saja bukan indikasi untuk mendapat transfusi trombosit.
Satu hal yang selalu menggelitik dan menimbulkan rasa prihatin adalah bila terjadi peningkatan kasus demam berdarah maka permintaan trombosit di PMI meningkat tajam. Di lingkungan Forum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) maupun Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, menekankan bahwa transfusi trombosit hanya diberikan pada pasien dengan perdarahan yang berat seperti muntah darah, mimisan yang terus menerus atau perdarahan dari saluran cerna bawah berupa BAB berdarah segar.
Jumlah trombosit yang rendah bahkan sampai di bawah 20.000 tanpa pendarahan yang signifikan bukan merupakan indikasi untuk diberikan trombosit sehingga kadar trombosit yang rendah saja tidak memerlukan transfusi trombosit.

Berat atau ringan?

Menurut WHO secara klinis seseorang yang terinfeksi virus dengue bisa tanpa gejala maupun dengan gejala. Yang bergejala dibagi 2 lagi yaitu Demam Dengue (DD) dan Dengue Haemorhagic Fever (DHF). Pasien dengan DHF biasanya dengan gejala yang lebih berat dan gejala perdarahan yang lebih jelas. Ini sesuai dengan klasifikasi WHO terakhir yang diterbitkan pada tahun 1997. Derajat berat ringannya DHF dibagi menjadi 4, tergantung perdarahan yang terjadi, serta ada tidaknya gangguan sistem sirkulasi pada saat seseorang masuk rumah sakit.
Semakin berat kondisi pada saat masuk semakin tinggi derajat sakitnya dan tentunya hal ini berhubungan dengan resiko terjadinya kematian. Selain demam tinggi yang mendadak kadang kala juga disertai nyeri di ulu hati, mual bahkan muntah, kepala pusing seperti melayang, pegal dan rasa nyeri di otot. Setelah 2-5 hari bisa terjadi manifestasi perdarahan baik berupa bintik merah pada kulit terutama di tangan, kaki dan dada, mimisan, gusi berdarah bahkan sampai muntah darah.
Penderita DHF selalu dihubungkan dengan trombosit yang rendah. Kadar trombosit yang rendah juga menjadi patokan kapan pasien harus dirawat. Walau sebenarnya selain trombosit yang rendah adanya darah yang semakin pekat (hemokonsentrasi) ditandai oleh hematokrit yang meningkat serta tanda-tanda perdarahan merupakan hal lain yang
juga dilihat sebelum memutuskan apakah pasien perlu dirawat atau tidak.
Pada pasien demam berdarah selain jumlah trombosit yang menurun, fungsi trombosit juga menurun. Oleh karena itu biasanya disebutkan bahwa pada pasien DHF trombosit terganggu baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Sebagai mana kita ketahui bahwa trombosit merupakan salah satu sel darah yang berperan pada sistem keseimbangan proses pembekuan dan perdarahan (hemostasis) di dalam tubuh kita. Oleh karena itu, adanya gangguan pada trombosit ini juga akan meningkatkan terjadinya proses pendarahan.

Trombosit rendah bukan berarti harus segera ditingkatkan

Lihat dulu penyebab penurunan kadar trombosit, apakah karena penekanan produksi di sumsum tulang, penggunaan trombosit yang berlebihan atau adanya antibodi anti-trombosit dalam darah. Transfusi trombosit yang tidak pada tempatnya justru akan memperburuk keadaan karena akan merangsang proses inflamasi lebih lanjut sehingga penghancuran trombosit akan lebih meningkat.

Kapan perlu transfusi trombosit?

Divisi Penyakit Tropis dan Infeksi Departemen Ilmu penyakit Dalam serta pakar dari Divisi Hematologi dan Onkologi Medis Departemen Ilmu Penyakit FKUI-RSCM menyatakan bahwa transfusi trombosit diberikan pada pasien dengan perdarahan spontan dan masif (banyak). Pemberian transfusi trombosit juga harus dilakukan dengan hati-hati dengan melihat komponen sistem pembekuan darah yang lain.
Oleh karena itu jumlah trombosit yang rendah bahkan lebih rendah dari 20.000 tanpa perdarahan yang signifikan bukan merupakan indikasi dilakukan transfusi trombosit. Karena faktor ketidaktahuan kadang keluarga pasien meminta kepada dokter agar keluarganya yang sedang dirawat diberi transfusi trombosit padahal tidak ada indikasi untuk pemberian transfusi trombosit.
Biasanya trombosit akan naik dengan sendirinya setelah hari ke-7 sejak mulai terjadinya demam. Selama perawatan jika tidak terjadi syok atau perdarahan masif, cairan infus yaitu cairan kristaloid seperti cairan ringer laktat atau asering yang diberikan untuk menjaga agar volume cairan di dalam pembuluh darah tetap terjaga baik.
Dengan penanganan pasien DBD sesuai prosedur, pemberian komponen darah trombosit dapat diberikan secara selektif. Sehingga pada saat dibutuhkan sesuai indikasi maka komponen trombosit tetap tersedia. Karena selain pada kasus DBD dengan perdarahan yang masif, transfusi trombosit juga dibutuhkan bagi pasien-pasien dengan kelainan darah atau pasien dengan gangguan liver yang berat.
Semoga informasi ini dapat menekan permintaan komponen darah trombosit yang tidak sesuai dengan indikasi.

Bersumber dari : www.anakku.net
Ditulis oleh : Hardiono Pusponegoro ( Dokter Spesialis Anak, Konsultan Saraf Anak. Bekerja di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/ RS Dr. Cipto Mangunkusumo. Praktek di Klinik Anakku Kelapa Gading. Founder Klinik Anakku Check My Child dan Sekolah Anakku. Juga menjadi pimpinan redaksi Majalah Anakku.)