Tampilkan postingan dengan label flu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flu. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Oktober 2012

Ingat Antibiotik Itu untuk Membunuh Bakteri Bukan Virus


Jakarta, Tidak semua penyakit memerlukan antibiotik dalam proses penyembuhannya. Untuk itu ketahui penyakit apa saja yang benar-benar antibiotik dalam membantu proses penyembuhannya?

Antibiotik adalah molekul kecil yang bisa membunuh atau menghentikan pertumbuhan bakteri dengan cara menghambat fungsi penting dari sel bakteri. Untuk itu antibiotik akan diberikan jika suatu penyakit disebabkan oleh infeksi bakteri, dan menjadi sia-sia jika diberikan pada penyakit akibat virus.

"Yang butuh antibiotik itu jika disebabkan oleh infeksi bakteri," ujar dr Sandra Utami Widiastuti, SpPD dari RS Siloam Kebun Jeruk saat dihubungi detikHealth dan ditulis Rabu (5/9/2012).

dr Sandra menuturkan banyak sekali keluhan pasien karena virus, jamur atau protozoa lain. Jika penyakit-penyakit ini diberikan antiiotik maka penangannya menjadi tidak tepat.

"Sebagian infeksi saluran pernapasan atas disebabkan oleh virus yang bisa sembuh sendiri, meski kadang disebabkan oleh bakteri juga. Untuk itu diperlukan pemeriksaan yang tepat, bisa dengan pemeriksaan fisik atau laboratorium," ungkapnya.

Umumnya infeksi seperti demam, flu, batuk pilek, radang tenggorokan, diare dan beberapa penyakit infeksi telinga disebabkan oleh virus sehingga tidak mempan jika diberikan antibiotik. Ini karena antibiotik tidak membunuh virus.

Antibiotik ini harus dibeli dengan menggunakan resep dokter, karena penggunaannya harus tepat dan sesuai dengan kebutuhan atau dosis yang diberikan. Hal ini karena ada risiko terjadinya resistensi atau kekebalan bakteri terhadap antibiotik.

Untuk itu pasien sebaiknya tidak menebus antibiotik dengan menggunakan resep yang sudah lama, atau berusaha mengobati diri sendiri dengan membeli antibiotik langsung tanpa resep.

"Jika 2-3 hari penyakit tidak kunjung sembuh, sebaiknya periksakan ke dokter. Melalui anamnesis atau wawancara dan pemeriksaan dokter bisa mengetahui apakah pasien butuh antibiotik atau tidak," ujar dr Sandra.

Antibiotk memang obat yang telah menyelamatkan banyak jiwa, tapi ia tidak bisa menyembuhkan semua macam penyakit. Hal yang penting diketahui adalah antibiotik hanya dapat menyembuhkan penyakit infeksi bakteri.

Bersumber dari : Vera Farah Bararah - detikHealth

Selasa, 16 Oktober 2012

Demam


Demam adalah peningkatan temperatur tubuh diatas normal. Temperatur normal tubuh tergantung pada tempat mengukur suhu tubuh tersebut.

Anak dikatakan demam bila :

  • Suhu rektal  (pengukuran melalui anus)  > 38°C
  • Suhu oral > 37,8°C
  • Suhu ketiak > 37,2°C
  • Suhu telinga > 38°C
  • Suhu dahi > 38°C


Suhu ketiak, telinga dan dahi lebih mudah diukur dibandingkan suhu rektal (anus) maupun oral, tetapi hasilnya tidak seakurat suhu rektal atau anus. Demam merupakan reaksi normal berbagai kondisi, yang paling umum disebabkan oleh infeksi.

Apa penyebab demam ?

Penyebab demam contohnya dapat dikarenakan :

  • Infeksi saluran nafas, misalnya flu
  • Infeksi usus
  • Infeksi saluran kemih
  • Sehabis imunisasi


Kapan perlu ke Dokter bila anak demam ?


  • Bayi berumur < 3 (tiga) bulan dengan demam (suhu rektal ? 38°C) perlu dibawa kedokter walaupun anak tidak tampak sakit.
  • Antara usia 3 (tiga) bulan – 36 (tiga puluh enam) bulan bila anak demam lebih dari 3 (tiga) hari atau lebih cepat sakit, rewel atau menolak minum.
  • Antara usia 3 (tiga) bulan – 36 (tiga puluh enam) bulan dengan suhu tubuh ? 38,9°C.


Setiap anak pada semua usia perlu dibawa ke dokter apabila :

  • Suhu oral, rektal, telinga, atau dahi ? 40°C
  • Suhu ketiak  ? 39,4°C
  • Kejang yang disebabkan demam
  • Demam yang terus menerus tinggi
  • Demam pada keadaan medis lainnya seperti penyakit jantung dan kanker
  • Demam dengan kemerahan kulit


Apa yang dapat orang tua lakukan supaya anak merasa lebih baik ?


  • Tawarkan anak untuk minum banyak
  • Anjurkan anak untuk beristirahat/tidur sebanyak mungkin, tetapi jangan paksa untuk tidur. Bila telah bebas demam 24 jam anak bisa kembali sekolah


Pengobatan demam

Demam perlu dicari penyebabnya. Bila diketahui penyebabnya, pengobatan ditujukan pada penyebab tersebut. Tidak semua demam perlu diturunkan dengan obat. Bayi berusia 3 (tiga) bulan dengan temperatur  ? 38,9°C yang tampak tidak sakit dan masih aktif, tidak membutuhkan terapi untuk menurunkan demam.  Terapi penurun demam lebih ditujukan untuk mengurangi rasa tidak nyaman anak yang demam.

Pada anak yang akan diturunkan demamnya, obat yang dapat digunakan misalnya Asetaminofen.  Terapi ini dapat mengurangi ketidaknyamanan dan menurunkan temperatur sebesar 1 – 1,5°C. Jadi suhu tubuh belum tentu akan normal.
Obat aspirin tidak direkomendasikan untuk penurun demam pada anak berusia kurang dari 18 (delapan belas) tahun karena dapat menyebabkan penyakit serius walaupun jarang, yang disebut Sindrom Reye.

Asetaminofen / Parasetamol dapat diberikan setiap 4 – 6 jam, maksimal 5 kali sehari dalam 24 jam.  Dosis Asetaminofen ditentukan berdasarkan berat badan.  Dosis Asetaminifen yang akan diberikan adalah 10 mg/kg/hari.  Contoh pada anak dengan berat badan 10 kg dapat diberikan Asetaminofen 100 mg, 3 -5 kali sehari.

Selain obat, pemberian cairan (minum) perlu ditambah agar anak tidak dehidrasi.  Anjurkan anak untuk minum lebih banyak. Bila anak tidak mau makan masih tidak masalah, asalkan anak perlu mendapat cairan (minum) yang cukup.
Selain obat dan minum yang cukup, anak perlu dianjurkan untuk istirahat yang cukup.

Bersumber dari : http://www.kiddiecarecentre.com/infeksi/demam.html

Rabu, 08 Agustus 2012

Alasan Bayi Susah Tidur dan Cara Mengatasinya


Jakarta, Seperti orang dewasa, balita juga dapat mengalami gangguan tidur seperti gelisah dan rewel. Sebagai orang tua, Anda perlu mengetahui hal-hal yang menyebabkan masalah tidur dan mengatasinya dengan cara yang tepat agar balita Anda dapat tidur dengan baik.

Berikut adalah alasan paling umum terhadap gangguan tidur pada balita, seperti dilansir whattoexpect, Rabu (18/7/2012) antara lain:

1. Bergesernya rutinitas tidur

Balita memerlukan kebiasaan atau aktivitas yang teratur setiap harinya. Kebiasaan tersebut dapat berubah secara alami seiring perkembangan balita menjadi dewasa. Anda perlu menetapkan jam tidur balita Anda setiap malamnya.

Jika Anda telah memiliki jadwal rutin bagi balita Anda untuk mandi, makan dan tidur setiap harinya, pastikan untuk konsisten menerapkannya. Balita yang telah terbiasa mengikuti jadwal tidur setiap malam, akan merasa gelisah ketika Anda terlambat atau terlalu cepat membimbingnya tidur.

Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, cenderung berimbas pada rutinitas tidur anaknya. Patuhilah kebiasaan yang Anda buat untuk anak Anda agar balita mendapatkan tidur yang berkualitas. Tidur yang cukup dan nyenyak sangat diperlukan oleh balita untuk pertumbuhannya.

2. Ketakutan dan mimpi buruk

Ketakutan terhadap kegelapan atau hal menyeramkan yang membayang-bayangi pikiran anak ketika akan tidur di malam hari, membuat balita Anda mengalami gangguan tidur. Hal kecil seperti tokoh monster dalam cerita atau tayangan TV dapat membuat anak ketakutan dan kesulitan untuk tidur.

Jika hal ini yang mengganggu tidur anak, dampingilah anak Anda ketika akan tidur dan tenangkan perasaannya. Balita Anda akan merasa lebih aman jika Anda berada di sisinya. Cobalah untuk tidak terlalu khawatir di depan anak agar dirinya merasa tenang dan nyaman.

Ketika siang hari, ajak anak berbicara tentang rasa takutnya dan habiskan waktu di kamarnya. Pasanglah lampu malam yang menarik dan ajak anak memeriksa kolong ranjangnya bahwa disana benar-benar tidak ada tokoh monster seperti yang ditakutinya.

3. Sakit

Ketika anak sedang sakit, misalnya flu atau pilek, anak akan kesulitan untuk tidur di malam hari. Pilek mambuatnya susah bernapas dan cenderung rewel ketika akan pergi tidur. Anak juga dapat terbangun di malam hari karena kondisi badannya yang menganggu.

Atasi masalah ini dengan meredakan rasa sakit yang dialami anak. Periksakan kondisi anak ke dokter anak jika flu atau pilek lebih dari dua hari. Kondisi yang menganggu tidur anak harus segera diatasi agar tidak berkelanjutan dan menganggu perkembangannya.

Bersumber dari : Linda Mayasari - detikHealth

Senin, 23 Juli 2012

Ini Serangan Jantung atau Cuma Cegukan Ya?


Jakarta, Mudahnya akses informasi di era internet membuat banyak orang merasa tahu segalanya. Soal kesehatan misalnya, banyak yang kemudian salah mendiagnosis gara-gara sumber sesat di internet. Akhirnya, cegukan saja dibilang sakit jantung.

Menurut sebuah penelitian di Journal of Consumer Research, seseorang cenderung memilih kemungkinan paling buruk ketika mencari tahu informasi tentang kesehatan di internet. Kecenderungan ini sering memicu diagnosis yang berlebihan alias lebay.

"Kebiasaan mencocok-cocokkan gejala lebih sering memicu orang untuk berlebihan dalam menilai kemungkinan kena penyakit serius," tulis Dengfeng Yan dan Jaideep Sengupta dari Hong Kong University dalam laporan ilmiahnya seperti dikutip dari Medindia, Kamis (19/7/2012).

Saat sakit dan belum ingin pergi ke dokter untuk periksa, beberapa orang cenderung lari ke internet untuk mencari tahu kondisinya. Banyaknya informasi kesehatan yang tersedia membuat orang-orang merasa terlalu percaya diri untuk menilai kondisinya sendiri.

Akhirnya jika menemukan beberapa informasi yang berbeda, ada kecenderungan untuk memilih kemungkinan-kemungkinan yang terburuk. Tidak diketahui mengapa, tetapi menurut penelitian tersebut kecenderungan ini teramati di hampir semua kalangan pengguna internet.

Sebagai contoh, para ilmuwan menyebut gangguan pencernaan sebagai keluhan yang termasuk paling sering dicari informasinya di internet. Gangguan pencernaan atau indigestion yang sering disertai gejala nyeri dada dan cegukan sering juga dikira sakit jantung karena ada kemiripan gejala.

Demikian juga ketika seseorang mengalami batuk-batuk, demam dan hidung meler. Meski ada kemungkinan cuma pilek atau flu biasa, tidak sedikit yang pilih mendramatisir penyakitnya berdasarkan informasi di internet, bahwa dirinya kena flu burung atau flu babi.

Bersumber dari : AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Minggu, 26 Februari 2012

Mengapa Anak Sering Demam, Batuk, Pilek?

Seorang bayi seharusnya jarang sakit karena masih ditopang imunitas tinggi sewaktu dikandung atau menyusu ibunya. Penyakit sehari-hari seperti flu (yang ditandai demam anak, batuk, pilek), penyakit virus lain, atau bahkan infeksi kuman dapat ditolaknya. Sejak lama fakta ini telah disadari. Coba saja, bila bayi Anda tinggal serumah dengan seseorang penderita campak, maka biasanya ia tidak akan gampang tertular.

Namun nyatanya, banyak anak dan bayi menjadi pelanggan dokter setiap 2 - 3 minggu karena penyakit yang sama, bolak-balik demam, batuk, dan pilek. Sampai orang tuanya tidak tahu harus bagaimana lagi. Pencetus penyakit pada anak memang sulit ditentukan karena dapat bermacam-macam, misalnya lingkungan kurang sehat, polusi tinggi, dan ada perokok di rumah. Penggunaan penyejuk udara (AC) di malam hari bisa menimbulkan alergi suhu dingin, membuat hidung anak mampet sehingga ia harus bernapas lewat mulut. Kipas angin dipasang di kamar tidur yang lalu meniup debu ke segala penjuru kamar. Belum lagi penularan virus di sekolah dan tempat-tempat ramai seperti mal. Juga perawat yang sedang batuk dan pilek. Tak langka pula kejadian sakit gara-gara mengonsumsi makanan ringan tidak sehat yang membuat tenggorokan tergelitik.

Batuk dan pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi, observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun. Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya.

Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk dan pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Selain mubazir, pemberian antibiotik kadang-kadang justru menimbulkan efek sampingan berbahaya. Kalau dikatakan akan mempercepat penyembuhan pun tidak, karena penyakit virus memang bakal sembuh dalam beberapa hari, dengan atau tanpa antibiotik. Hal ini telah dibuktikan dengan studi terkontrol berulang kali sejak ditemukannya antibiotik di tahun 1950 - 1960-an. Hasilnya selalu sama sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.

Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya, anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi. Orang tuanya lalu langsung membeli antibiotik di apotek atau pasar hanya karena setiap kali ke dokter mereka diberi obat tersebut.

Lingkaran setan ini: sakit - antibiotik - imunitas menurun - sakit lagi, akan membuat si anak diganggu demam, batuk, dan pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun. Komplikasi juga sering akan terjadi yang akhirnya membawa anak itu ke kamar perawatan di rumah sakit.

Pengalaman menunjukkan, bila antibiotik dicoret dari resep (sementara obat batuk dan pilek yang adekuat diberikan), setelah 1 - 3 bulan, si anak tidak akan gampang terserang penyakit flu lagi. Pertumbuhan badannya pun menjadi lebih baik.

Salah kaprah kedua ialah gejala batuk dan pilek yang tidak diobati secara benar, artinya siasat pengobatan perlu diubah. Ini lantaran obat jadi yang dijual di apotek tidak selalu dapat mengatasi masalah setiap penderita. Bahkan, sering terjadi batuk dan pilek malah menjadi lebih parah dan berkepanjangan.

Suatu perubahan yang mendasar dan individual dalam resep, perlu dilakukan untuk memutus lingkaran setan demam, batuk, dan pilek ini. Yang utama ialah menghentikan antibiotik, tidak memberikan kortikosteroid secara terus-menerus, menghentikan pemberian obat penekan batuk dan menggantinya dengan bronkodilator, serta memberikan campuran obat pilek yang baru. Efedrin dosis kecil - dicampur dengan antihistamin yang efektif - merupakan obat pilek terbaik. Sementara, semua obat yang ternyata tidak terbukti efektif perlu dihentikan.

Terakhir, yang tidak kalah penting, carilah faktor pencetus yang dicantumkan di awal tulisan ini. Bila ditemukan, hindarilah. Semoga anak Anda tidak perlu lagi begitu sering berobat karena flu! Selamat mencoba!

(Sumber: Intisari)

Sabtu, 04 Februari 2012

5 Bumbu Rempah untuk Hangatkan Tubuh di Kala Hujan

Jakarta - Musim hujan seperti saat ini, membuat seseorang menjadi lebih mudah sakit. Flu, demam, atau masuk angin merupakan penyakit yang kerap dialami, terutama bagi Anda yang kerap beraktivitas di luar ruangan.

Salah satu cara untuk mencegah penyakit datang adalah dengan mengonsumsi bahan rempah. Bahan-bahan rempah berikut ini juga dapat menghangatkan tubuh. Seperti dirangkum iDiva, berikut 5 jenis rempah-rempah yang dapat dimanfaatkan untuk kesehatan tubuh.

1. Kunyit
Bumbu yang berasal dari India ini dianggap sebagai antibiotik alami. Beberapa studi di bidang medis mengklaim bahwa kunyit bekerja lebih baik dibanding cortisone dan phenylbutazon dalam menghangatkan tubuh. Kunyit juga bermanfaat untuk mengurangi sakit tenggorokan. Tambahkan kunyit ke dalam masakan atau bisa juga campurkan sedikit potongan kunyit ke dalam susu hangat, didihkan kembali bersama susu, aduk-aduk dan minum selagi hangat.

2. Kapulaga
Teh yang menggunakan campuran kapulaga dan cengkeh sangat membantu dalam mencegah flu dan dapat menghangatkan tubuh. Selain itu, Anda bisa juga merebus dua atau tiga kapulaga dalam secangkir air yang ditambah dengan satu sendok madu, dan minumlah sebelum tidur agar dapat menghangatkan tenggorokan dan memperlancar pernapasan. Bumbu yang memiliki rasa pedas campur pahit ini memiliki banyak manfaat lainnya, antara lain mengurangi kejang perut dan rematik, mencegah mual, menghilangkan bau badan, dan menyembuhkan radang amandel. Aroma dari kapulaga juga dipercaya dapat membuat tubuh menjadi rileks.

3. Jahe
Orang indonesia biasa meminum jahe yang telah dibuat menjadi jamu. Jahe juga bisa dicampur ke dalam sup atau susu. Kandungan anti-inflamasi pada jahe dapat membantu melawan sakit tenggorokan dan infeksi pernapasan.

4. Kayu Manis
Kayu manis merupakan salah satu jenis rempah-rempah tertua. Kayu manis diyakini dapat merangsang sirkulasi darah sehingga badan kita terasa lebih hangat, dan dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh di cuaca yang sedang tidak menentu ini. Satu sendok bubuk kayu manis dan satu sendok madu yang dicampur dengan air hangat dapat menyegarkan kondisi tubuh, sekaligus mengurangi rasa dingin. Rempah yang memiliki aroma khas ini juga dapat dicampur dengan jahe untuk mengatasi masuk angin.

5. Cengkeh
Cengkeh dapat digunakan untuk mengobati masalah pernapasan dan mengatur suhu tubuh. Tambahkan dua atau tiga cengkeh ke dalam sup, teh, atau kari untuk mengobati batuk. Selain itu, mengunyah cengkeh dapat mengatasi radang tenggorokan.

 Bersumber dari : www.wolipop.com by Rafenska Vania - wolipop

Selasa, 18 Oktober 2011

Benarkah Kehujanan Bikin Sakit?

Orangtua sering panik jika anaknya kehujanan. Benarkah kehujanan membuat anak sakit?
 
Tik tik tik bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok
dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua…
Anak-anak biasanya hapal dengan baik lagu ini. Lagu tentang hujan yang mudah diingat dan
gampang didendangkan. Meskipun lagu tentang hujan ini sering diajarkan orangtua pada anak-anaknya, tapi mereka umumnya tak memberi kesempatan anak merasakan air hujan itu sendiri. Apalagi berhujan-hujanan. Alasannya takut sakit.

Benarkah kehujanan membuat anak sakit?
Sebagian besar orangtua percaya, kehujanan dapat membuat anak sakit. Mulai dari demam,
influenza, atau diare. Bahkan, air hujan yang turun untuk pertama kalinya setelah musim kemarau panjang dianggap mengandung sejumlah penyakit. Pandangan ini memang sangat wajar, sebab tak sedikit anak-anak yang jatuh sakit setelah berhujan-hujanan. Tapi, jika benar kehujanan menyebabkan anak sakit, mengapa banyak pula anak-anak yang tetap sehat wal afiat setelah asyik bermain bola di bawah guyuran air hujan?

Fakta yang Sebenarnya

Apa yang terjadi saat anak Anda kehujanan? Mereka pasti kedinginan karena tubuhnya basah kuyup oleh air hujan. Saat kedinginan, tubuh dipaksa mengeluarkan energi secara berlebihan. Jika daya tahan tubuh anak sedang lemah, tubuh tidak dapat mengimbangi adanya perubahan suhu tubuh yang terlalu drastis. Akibatnya, daya tahan tubuh semakin menurun dan kesehatannya pun terganggu. Penyakit yang muncul dapat bermacam-macam, seperti influenza, batuk dan flu, demam, diare, atau gatal-gatal. Umumnya, penyakit yang lebih mudah timbul adalah penyakit yang sedang marak (baca: sedang musim) pada waktu anak kehujanan. Tetapi, sakit yang diderita anak umumnya tidak terlalu parah. Bahkan dapat sembuh tanpa pengobatan atau hanya dengan semangkuk sup panas dan baluran minyak kayu putih ke seluruh badannya. 

Jadi, sebenarnya kehujanan tidak akan menimbulkan masalah kesehatan pada anak bila daya tahan tubuh mereka cukup baik. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua tidak terlalu protektif. Biarkan sesekali anak berhujan-hujanan. Hal ini baik agar tubuh anak membangun daya tahan terhadap hujan (baca; suhu dingin).
Tetapi, Anda perlu berhati-hati pada anak asma dan anak yang alergi. Kehujanan bisa memicu kambuhnya asma dan serangan alergi. Berupa gatal-gatal, batuk, atau bersin-bersin. Begitu pula pada anak-anak yang mengidap penyakit kronis. Kehujanan bisa menurunkan daya tahan tubuhnya dan penmyakitnya bisa jauh lebih parah.

Bersumber dari : www.anakku.net