Bila Anak Anda mengalami demam, lalu 2 hari kemudian timbul bintik-bintik merah, gatal dan berisi cairan. Tentunya Anda akan bertanya-tanya apakah ini cacar atau bukan. Mungkin saja anak terkena cacar air, karena memang cacar air cukup sering terjadi pada anak. Bahkan berkembang suatu anekdot di masyarakat bahwa setiap orang dalam sepanjang hidupnya pasti akan pernah menderita cacar air. Penyakit cacar air adalah suatu penyakit infeksi yang sangat menular disebabkan oleh virus Varisela-zoster. Meskipun umumnya penyakit ini ringan saja, tetapi pada kasus yang jarang dapat menyebabkan komplikasi bahkan kematian. Kejadian cacar air seringkali serentak, semisal dalam satu kelas ada seorang anak terkena cacar air, maka sebagian besar anak dalam kelas akan tertular. Atau misalnya dalam keluarga ada salah seorang anggota keluarga yang terkena cacar air, maka akan menular ke anggota keluarga yang lain.
Penyakit cacar air cukup mudah dikenali oleh orangtua. Anak pada awal permulaan penyakit akan mengeluh sakit kepala, demam, lemas dan kemudian muncul bintik-bintik gatal berisi cairan di tubuh (kurang lebih 2 hari setelah gejala awal timbul). Bintik tersebut biasa pertama kali timbul di daerah dada atau perut dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Bila didiamkan bintik akan mengering dengan sendirinya dalam waktu 4-7 hari kemudian. Penularan virus ini terjadi melalui droplet (air liur) yang biasanya keluar pada saat seseorang batuk atau bersin. Cacar air hanya bisa mengenai seseorang 1 kali saja sepanjang hidupnya, tetapi bila virus yang tertinggal di dalam tubuh sewaktu-waktu kembali aktif maka akan menimbulkan penyakit Herpes zoster (cacar ular).
Cacar air termasuk penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya, biasanya orangtua hanya perlu memberikan obat parasetamol serta cairan yang cukup. Pemberian obat antiviral oleh dokter (asiklovir) hanya diindikasikan untuk keadaan tertentu saja. Sekarang ini di Indonesia telah tersedia vaksin cacar air yang diberikan cukup 1 kali saja dan dapat dimulai pada usia 5 tahun ke atas (sesuai dengan jadwal yang dikeluarkan oleh IDAI). Paska penyuntikkan imunisasi terkadang dapat terjadi demam ringan atau nyeri di daerah suntikan (pada kurang lebih 1% kasus), tetapi hal ini tidak perlu dikhawatirkan.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com
Tampilkan postingan dengan label bersin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bersin. Tampilkan semua postingan
Kamis, 09 Februari 2012
Senin, 19 Desember 2011
Campak Jerman
Campak Jerman atau biasa juga disebut dengan Rubella adalah penyakit infeksi virus yang umumnya ringan saja. Campak Jerman bukan berasal dari Jerman, tetapi asal katanya dari germain yang artinya menyerupai. Memang penyakit ini sangat mirip dengan campak biasa, tetapi campak Jerman memiliki tanda dan gejala yang jauh lebih ringan. Sejak ditemukannya vaksin MMR, angka kejadian campak Jerman menurun dengan drastis dan sekarang ini sudah jarang ditemukan. Penularan melalui air liur, kontak kulit dan juga droplet
yang keluar pada saat penderita rubella batuk atau bersin.
Tanda dan gejala pada anak: demam yang tidak terlalu tinggi dan berlangsung singkat, munculnya ruam kemerahan yang menyerupai campak, pembengkakan kelenjar di belakang telinga, dan terkadang dapat disertai sakit tenggorokan. Penyakit ini dapat sembuh sendiri dan jarang menimbulkan komplikasi yang serius. Yang paling ditakutkan dari Campak Jerman ini justru bila terkena pada ibu hamil karena dapat menyebabkan Sindrom Rubella Kongenital. Bayi yang dikandung akan menderita kerusakan mata, saraf, telinga, jantung, bahkan bisa terjadi lahir prematur dan kematian.
Penanganan Campak Jerman bersifat simtomatik dan suportif saja. Pemberian obat demam, istirahat yang cukup, vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh biasanya sudah dapat menyembuhkan. Perlu diingat untuk memisahkan anak dengan anak lainnya yang sehat karena campak Jerman sangat mudah menular. Sekarang ini juga sudah tersedia vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella) yang dapat digunakan untuk mencegah mumps/gondongan, measles/campak, dan rubella/campak jerman. Vaksin diberikan 2 kali yaitu pada usia 15 bulan dan diulang pada usia 6 tahun.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com
yang keluar pada saat penderita rubella batuk atau bersin.
Tanda dan gejala pada anak: demam yang tidak terlalu tinggi dan berlangsung singkat, munculnya ruam kemerahan yang menyerupai campak, pembengkakan kelenjar di belakang telinga, dan terkadang dapat disertai sakit tenggorokan. Penyakit ini dapat sembuh sendiri dan jarang menimbulkan komplikasi yang serius. Yang paling ditakutkan dari Campak Jerman ini justru bila terkena pada ibu hamil karena dapat menyebabkan Sindrom Rubella Kongenital. Bayi yang dikandung akan menderita kerusakan mata, saraf, telinga, jantung, bahkan bisa terjadi lahir prematur dan kematian.
Penanganan Campak Jerman bersifat simtomatik dan suportif saja. Pemberian obat demam, istirahat yang cukup, vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh biasanya sudah dapat menyembuhkan. Perlu diingat untuk memisahkan anak dengan anak lainnya yang sehat karena campak Jerman sangat mudah menular. Sekarang ini juga sudah tersedia vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella) yang dapat digunakan untuk mencegah mumps/gondongan, measles/campak, dan rubella/campak jerman. Vaksin diberikan 2 kali yaitu pada usia 15 bulan dan diulang pada usia 6 tahun.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com
Selasa, 06 Desember 2011
Tuberkulosis (TB)
Tuberkulosis atau sering disebut dengan TB disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini ditemukan pertama kali oleh Robert Coch pada tahun 1822. Bakteri berbentuk basil/batang, tahan asam, dan mutlak memerlukan oksigen agar tetap dapat hidup. Berbeda dengan kebanyakan bakteri lainnya, Mycobacterium tuberculosis membelah diri dengan sangat lambat, dan infeksi yang terjadi terhadap seseorang tidak selalu menimbulkan atau menyebabkan sakit (tergantung dari daya tahan/imunitas orang tersebut).
TB masih merupakan masalah kesehatan masif di Negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia. Indonesia merupakan Negara urutan ketiga terbanyak penderita TB, dengan kasus baru setiap tahunnya hampir mencapai 450.000 kasus dengan angka kematian 175.000 (sumber: WHO). Prevalens TB di Indonesia sekitar 0,2%. Infeksi TB yang menimbulkan sakit umumnya akan berupa TB paru, tetapi dapat juga menjadi jenis TB lainnya seperti TB otak, TB tulang, dan lain-lain. TB ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui droplet (air liur) yang dikeluarkan seseorang waktu bersin ataupun batuk. Anak kecil sangat rentan terhadap penularan bakteri ini, sedangkan orang dewasa lebih tahan. Seringkali anak kecil tertular penyakit ini dari orang dewasa yang mengidap TB.
Untuk mendiagnosis TB pada anak terkadang agak sulit. Tanda dan gejala klinis kadangkala tidak khas, seperti demam berkepanjangan, batuk yang tidak sembuh-sembuh, sering keringat malam hari, tidak nafsu makan serta gagal tumbuh kembang. Bila seorang anak dicurigai terkena TB, maka diperlukan beberapa pemeriksaan tambahan untuk lebih dapat memastikan diagnosisnya. Pemeriksaan tambahan tersebut berupa: Tes Mantoux, foto Roentgen dada, dan juga kalau memungkinkan kultur dahak (agak sulit pada anak yang masih sangat kecil usianya).
Pengobatan TB seringkali menimbulkan problema tersendiri. Banyak orangtua yang khawatir dengan begitu lamanya regimen pengobatan yang diberikan oleh dokter. Sebagai informasi, pengobatan TB memerlukan regimen yang diberikan dalam jangka waktu minimal 6 bulan, dan kepatuhan berobat sangat menentukan kesembuhan penyakit ini. Walaupun anak sudah terlihat membaik sebelum 6 bulan (misalnya sudah terlihat berat badan naik, tidak batuk, tidak demam), pengobatan tetap harus dilanjutkan sampai selesai. Obat ada yang diberikan setiap hari, ada juga yang tiga kali seminggu tergantung regimen yang diberikan oleh dokter.
TB sampai saat ini belum dapat dicegah dengan efektif. Pemberian vaksinasi BCG (Bacille Calmette-Guerin) hanya efektif melindungi sampai 80%. Tujuan dari pemberian vaksin BCG ini sendiri lebih kepada mencegah terjadinya TB berat pada anak (seperti TB otak atau TB milier). Vaksin BCG dibuat dari Mycobacterium bovis hidup yang sudah dibiak berulang kali sehingga tidak memiliki kemampuan menginfeksi lagi. Vaksinasi diberikan 1 kali pada usia antara 0-2 bulan, dan biasanya sebelum diberikan vaksin perlu dites Mantoux. Sekarang ini sedang diteliti mengenai vaksin TBC yang lebih efektif dibandingkan dengan vaksin yang sudah ada sekarang.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com
TB masih merupakan masalah kesehatan masif di Negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia. Indonesia merupakan Negara urutan ketiga terbanyak penderita TB, dengan kasus baru setiap tahunnya hampir mencapai 450.000 kasus dengan angka kematian 175.000 (sumber: WHO). Prevalens TB di Indonesia sekitar 0,2%. Infeksi TB yang menimbulkan sakit umumnya akan berupa TB paru, tetapi dapat juga menjadi jenis TB lainnya seperti TB otak, TB tulang, dan lain-lain. TB ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui droplet (air liur) yang dikeluarkan seseorang waktu bersin ataupun batuk. Anak kecil sangat rentan terhadap penularan bakteri ini, sedangkan orang dewasa lebih tahan. Seringkali anak kecil tertular penyakit ini dari orang dewasa yang mengidap TB.
Untuk mendiagnosis TB pada anak terkadang agak sulit. Tanda dan gejala klinis kadangkala tidak khas, seperti demam berkepanjangan, batuk yang tidak sembuh-sembuh, sering keringat malam hari, tidak nafsu makan serta gagal tumbuh kembang. Bila seorang anak dicurigai terkena TB, maka diperlukan beberapa pemeriksaan tambahan untuk lebih dapat memastikan diagnosisnya. Pemeriksaan tambahan tersebut berupa: Tes Mantoux, foto Roentgen dada, dan juga kalau memungkinkan kultur dahak (agak sulit pada anak yang masih sangat kecil usianya).
Pengobatan TB seringkali menimbulkan problema tersendiri. Banyak orangtua yang khawatir dengan begitu lamanya regimen pengobatan yang diberikan oleh dokter. Sebagai informasi, pengobatan TB memerlukan regimen yang diberikan dalam jangka waktu minimal 6 bulan, dan kepatuhan berobat sangat menentukan kesembuhan penyakit ini. Walaupun anak sudah terlihat membaik sebelum 6 bulan (misalnya sudah terlihat berat badan naik, tidak batuk, tidak demam), pengobatan tetap harus dilanjutkan sampai selesai. Obat ada yang diberikan setiap hari, ada juga yang tiga kali seminggu tergantung regimen yang diberikan oleh dokter.
TB sampai saat ini belum dapat dicegah dengan efektif. Pemberian vaksinasi BCG (Bacille Calmette-Guerin) hanya efektif melindungi sampai 80%. Tujuan dari pemberian vaksin BCG ini sendiri lebih kepada mencegah terjadinya TB berat pada anak (seperti TB otak atau TB milier). Vaksin BCG dibuat dari Mycobacterium bovis hidup yang sudah dibiak berulang kali sehingga tidak memiliki kemampuan menginfeksi lagi. Vaksinasi diberikan 1 kali pada usia antara 0-2 bulan, dan biasanya sebelum diberikan vaksin perlu dites Mantoux. Sekarang ini sedang diteliti mengenai vaksin TBC yang lebih efektif dibandingkan dengan vaksin yang sudah ada sekarang.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com
Selasa, 18 Oktober 2011
Benarkah Kehujanan Bikin Sakit?
Orangtua sering panik jika anaknya kehujanan. Benarkah kehujanan membuat anak sakit?
Benarkah kehujanan membuat anak sakit?
Bersumber dari : www.anakku.net
Tik tik tik bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok
dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua…
dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua…
Anak-anak biasanya hapal dengan baik lagu ini. Lagu tentang hujan yang mudah diingat dan
gampang didendangkan. Meskipun lagu tentang hujan ini sering diajarkan orangtua pada anak-anaknya, tapi mereka umumnya tak memberi kesempatan anak merasakan air hujan itu sendiri. Apalagi berhujan-hujanan. Alasannya takut sakit.
gampang didendangkan. Meskipun lagu tentang hujan ini sering diajarkan orangtua pada anak-anaknya, tapi mereka umumnya tak memberi kesempatan anak merasakan air hujan itu sendiri. Apalagi berhujan-hujanan. Alasannya takut sakit.
Benarkah kehujanan membuat anak sakit?
Sebagian besar orangtua percaya, kehujanan dapat membuat anak sakit. Mulai dari demam,
influenza, atau diare. Bahkan, air hujan yang turun untuk pertama kalinya setelah musim kemarau panjang dianggap mengandung sejumlah penyakit. Pandangan ini memang sangat wajar, sebab tak sedikit anak-anak yang jatuh sakit setelah berhujan-hujanan. Tapi, jika benar kehujanan menyebabkan anak sakit, mengapa banyak pula anak-anak yang tetap sehat wal afiat setelah asyik bermain bola di bawah guyuran air hujan?
influenza, atau diare. Bahkan, air hujan yang turun untuk pertama kalinya setelah musim kemarau panjang dianggap mengandung sejumlah penyakit. Pandangan ini memang sangat wajar, sebab tak sedikit anak-anak yang jatuh sakit setelah berhujan-hujanan. Tapi, jika benar kehujanan menyebabkan anak sakit, mengapa banyak pula anak-anak yang tetap sehat wal afiat setelah asyik bermain bola di bawah guyuran air hujan?
Fakta yang Sebenarnya
Apa yang terjadi saat anak Anda kehujanan? Mereka pasti kedinginan karena tubuhnya basah kuyup oleh air hujan. Saat kedinginan, tubuh dipaksa mengeluarkan energi secara berlebihan. Jika daya tahan tubuh anak sedang lemah, tubuh tidak dapat mengimbangi adanya perubahan suhu tubuh yang terlalu drastis. Akibatnya, daya tahan tubuh semakin menurun dan kesehatannya pun terganggu. Penyakit yang muncul dapat bermacam-macam, seperti influenza, batuk dan flu, demam, diare, atau gatal-gatal. Umumnya, penyakit yang lebih mudah timbul adalah penyakit yang sedang marak (baca: sedang musim) pada waktu anak kehujanan. Tetapi, sakit yang diderita anak umumnya tidak terlalu parah. Bahkan dapat sembuh tanpa pengobatan atau hanya dengan semangkuk sup panas dan baluran minyak kayu putih ke seluruh badannya.
Jadi, sebenarnya kehujanan tidak akan menimbulkan masalah kesehatan pada anak bila daya tahan tubuh mereka cukup baik. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua tidak terlalu protektif. Biarkan sesekali anak berhujan-hujanan. Hal ini baik agar tubuh anak membangun daya tahan terhadap hujan (baca; suhu dingin).
Tetapi, Anda perlu berhati-hati pada anak asma dan anak yang alergi. Kehujanan bisa memicu kambuhnya asma dan serangan alergi. Berupa gatal-gatal, batuk, atau bersin-bersin. Begitu pula pada anak-anak yang mengidap penyakit kronis. Kehujanan bisa menurunkan daya tahan tubuhnya dan penmyakitnya bisa jauh lebih parah.
Langganan:
Postingan (Atom)