Tampilkan postingan dengan label sel darah putih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sel darah putih. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2011

Demam Pada Anak

Demam adalah alasan terbanyak orangtua membawa anaknya ke dokter. Demam terkadang menjadi momok tersendiri bagi orangtua, dan banyak orangtua yang takut dan khawatir bila anaknya demam. Para orangtua beranggapan bahwa demam yang tinggi selalu akan menjadi kejang dan menimbulkan masalah di otak atau bahkan kematian. Sebenarnya demam merupakan suatu respons dari tubuh sebagai pertanda adanya suatu ketidakberesan di dalam tubuh. Infeksi merupakan penyebab tersering ketidakberesan tersebut.

Seorang anak dikatakan demam apabila suhu tubuhnya di atas 37,5°C pada pengukuran ketiak dengan menggunakan temperatur air raksa. Suhu tubuh normal pada anak bervariasi (0,5-1°C) sepanjang hari dengan suhu yang meningkat sedikit di sore hari. Demam pada anak sangat jarang yang menimbulkan masalah serius. Hampir sebagian besar demam yang terjadi pada anak disebabkan oleh infeksi virus dan jarang yang disebabkan oleh bakteri. Demam membantu tubuh melawan infeksi tersebut, meningkatkan sistem imun dan memproduksi lebih banyak sel darah putih untuk melawan kuman. Ketakutan terhadap terjadinya kejang pada saat demam sebenarnya tidak perlu, mengingat kalaupun terjadi kejang pada saat demam itupun tidak berbahaya (lihat topik tentang kejang demam).

Sebelum dibawa ke dokter, sebenarnya orangtua dapat mencoba untuk meredakan demam terlebih dahulu di rumah. Orangtua dapat memberikan obat parasetamol untuk anaknya dengan dosis 10 mg/kg berat badan setiap kali pemberian. Parasetamol dapat diberikan sampai maksimal 5 kali dalam sehari (maksimal 50 mg/kg berat badan per hari) dengan jarak antara pemberian sekitar 4 jam. Penggunaan aspirin tidak disarankan karena dapat menyebabkan sindrom Reye yang berbahaya. Untuk pengompresan terkadang orangtua juga masih bingung apakah menggunakan air hangat, air dingin, atau bahkan alkohol. Disarankan untuk menggunakan air hangat sewaktu mengompres, karena menggunakan air dingin dapat menyebabkan anak menggigil. Penggunaan alkohol untuk mengompres tidak disarankan karena dapat menyebabkan keracunan alkohol karena alkohol dapat terserap masuk ke dalam darah melalui kulit. Jangan lupa untuk memberikan cairan minum yang banyak dan istirahat yang cukup sewaktu anak demam.

Bawa anak demam ke dokter bila:

  • Berusia kurang dari 3 bulan.
  • Tidak mau makan atau menelan apapun.
  • Selalu menangis bila anda menyentuhnya.
  • Lehernya menjadi kaku.
  • Suhunya lebih dari 39°C.
  • Demam sudah berlangsung 3 hari.
  • Anak mengalami kejang.
  • Muntah-muntah.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com

    Senin, 14 November 2011

    Mengenal Cangkok Sumsum Tulang

    Alternatif lain selain cangkok sumsum tulang untuk terapi bagi berbagai penyakit kelainan darah seperti talasemia atau pun leukemia. Seorang anak berkulit gelap, berbibir pucat, dengan dahi lebar dan tulang pipi menonjol tampak duduk gelisah menunggu panggilan suster. Perutnya yang besar agaknya membuat ia kesulitan bernapas. “Saya sedang mengantri untuk transfusi darah, seperti biasa”. Kata ibunya. Dengan ciri khas wajah seperti itu, bisa diduga ia menderita talasemia. Setelah dirunut, saudara dari ibunya pun ada yang harus ditransfusi terus-menerus karena penyakit keturunan ini. Obat memang masih terus dicari, dari cangkok sumsum tulang yang sampai saat ini masih menjadi satu-satunya harapan, hingga yang terbaru yang masih dalam penelitian, yakni terapi genetik.

    Sumsum tulang (bone marrow) dan produksi darah

    Sumsum berada di tulang panggul, dada, iga, tulang belakang, dan tengkorak. Di dalamnya terdapat sel-sel yang memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit yang berguna untuk penggumpalan darah. Sumsum tulang adalah pabrik darah. Setiap sel darah ini berawal dari stem cell (sel induk) yaitu sel yang bisa berkembang menjadi sel apa saja yang berfungsi normal. Sel stem adalah sel yang paling penting dalam cangkok sumsum tulang. Jika ditanam, sel stem ini akan masuk ke sumsum dan diarahkan oleh rangsangan hormon pembentuk sel darah tertentu menjadi sel darah yang diperlukan tubuh.

    Penyakit-penyakit akibat kelainan darah dan terapinya

    Talasemia, anemia aplastik, ataupun leukemia adalah beberapa penyakit kelainan darah yang dapat diterapi lewat cangkok sumsum tulang ataupun sel induk darah tali pusat. Talasemia masih menjadi penyakit darah keturunan yang terbanyak di Indonesia dan belum ada obatnya kecuali cangkok. Penyakit ini disebabkan salah satu gen-nya bermutasi di duga “tertutup” sehingga fungsinya terganggu.
    Gen yang bermutasi ternyata merupakan gen yang bertanggung jawab membentuk rantai globin yang merupakan bagian penting dari hemoglobin yang merupakan isi sel darah merah. Akibatnya sel darah merah tidak berfungsi baik dan berumur pendek. Karena talasemia merupakan kelainan genetika, terapi terbaik adalah mengembalikan bagian gen yang bermutasi ini dengan “switch on gene”. Saat ini sedang dicari cara untuk memperbaiki dengan rekayasa genetika. Selama obat ini belum ditemukan, alternatif penyembuhan adalah lewat cangkok sumsum tulang atau dengan cangkok sel induk darah tali pusat. Diharapkan dengan mengganti “pabriknya”, sel yang semula secara genetik rusak akan digantikan dengan yang sehat.
    Sedangkan anemia aplastik adalah penyakit kelainan darah yang ditandai berkurangnya produksi semua sel darah. Gejalanya anak akan pucat sekali, sering berdarah, dan sering sakit. Bila dengan terapi obat anak tidak juga sembuh, terapinya lagi-lagi cangkok sumsum tulang atau dengan cangkok sel induk darah tali pusat. Dengan mengganti “pabriknya” diharapkan produksi darah bisa kembali normal. Sementara leukemia atau kanker darah merupakan keganasan terbanyak yang menyerang anak, cangkok stem cell menjadi salah satu pilihan untuk kesembuhannya.

    Cangkok sumsum tulang bukan tanpa risiko

    Karena yang bermasalah adalah sel darah, maka yang dicangkokkan adalah sel darah. Seorang anak harus menjalani “pengosongan” sumsum tulang, agar sel sumsum tulang yang dimasukkan dapat tumbuh leluasa. Setelah itu, barulah dilakukan cangkok sel stem. Selama proses itu yang masih membutuhkan waktu cukup lama—paling tidak 1-2 bulan—anak rentan terhadap infeksi, perdarahan, hingga kegagalan proses cangkok yang disebabkan tubuh menolak sel yang ditanam. Meski masih menjadi alternatif penyembuhan beberapa kelainan darah, dalam beberapa hal, cangkok sumsum tulang memang perlu banyak pertimbangan—khususnya dalam hal biaya.

    Sel induk darah tali pusat (stem cell)

    Sel ini bisa diambil dari si anak sendiri ataupun dari donor dengan tipe jaringan sama, bisa saudara sekandung, orangtua, atau orang lain. Stem cell dapat diperoleh dari tali pusat bayi begitu dilahirkan. Stem cell yang diambil dari darah tali pusat pada saat kelahiran lebih cepat dan lebih efektif dibandingkan sel stem yang diambil dari anak lain atau orang dewasa. Selain itu, sel ini belum mengandung sel limfosit T yang kerap mencetuskan kegagalan cangkok sumsum tulang. Sel stem yang diambil dengan cara ini dianggap paling aman. Keunggulan lain dari terapi stem cell jenis ini, selain tingkat kecocokan yang lebih besar juga proses transplant yang lebih cepat dan tidak menyakitkan dibandingkan dengan cangkok sumsum tulang.

    Manfaat cangkok sumsum tulang

    • Pada pasien anemia aplastik, talasemia, dan leukemia. Stem cell dan sumsum tulang dapat menggantikan sumsum tulang yang tidak berfungsi dan berpenyakit dengan sumsum tulang yang sehat.
    • Pada kasus tertentu, misalnya limfoma, neuroblastoma (tumor saraf) yang sulit diobati, dapat dipertimbangkan transplantasi sel induk darah tali pusat (stem cell).
    • Mengganti sumsum tulang yang rusak secara genetika.

    Alternatif terapi penyakit kelainan darah

    Cangkok sumsum tulang (bone marrow transplant).
    Diambil dari sumsum tulang orang dewasa. Bersifat mature yang mana tidak dapat berkembang menjadi apa saja. Sel ini mengandung sel limfosit T yang dalam beberapa kasus dapat memicu kegagalan transplant.
    Cangkok sel induk darah tali pusat (stem cell transplant).
    Diambil dari tali pusat bayi pada saat proses kelahiran. Sel induk ini dapat berkembang menjadi sel apa saja yang dibutuhkan tubuh dan dapat berfungsi normal.

    Referensi:

    1. David G. Nathan and Stuart H. Orkin: Hematology of Infancy and Childhood. Fifth ed. WB Saunders Company. 1998.
    2. P.A. Voute, C. Kalifa, and A. Barrett: Cancer in Children Clinical Management. Fourth ed. Oxford Medical Publications. 1998.
    3. Philip A. Pizzo and David G. Poplack: Principles and Practice of Pediatric Oncology. Fourth ed. 2002.
    Bersumber dari : anakku.net