Tampilkan postingan dengan label nyeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nyeri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Januari 2012

Vaksinasi

Ada pepatah yang mengatakan Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kiranya peribahasa ini sangat cocok untuk menggambarkan vaksinasi. Tindakan preventif/mencegah merupakan tindakan yang menjadi prioritas utama dalam bidang kesehatan. Sekarang ini pencarian terhadap berbagai jenis vaksin baru terus digalakkan dan sudah semakin banyak penyakit yang diketahui dapat dicegah dengan vaksinasi (seperti misalnya karsinoma serviks yang dapat dicegah dengan vaksin HPV). Vaksinasi sekarang sudah menjadi sesuatu yang wajib, terutama pada anak, karena semakin dini diberikan vaksinasi maka semakin terlindungi anak dari suatu penyakit.
Vaksin pertama kali diperkenalkan oleh seorang ilmuwan dari Inggris bernama Edward Jenner. Ia memperkenalkan vaksin untuk cacar (smallpox) pada tahun 1796. Sebenarnya jauh sebelum Edward Jenner memperkenalkan vaksin, diyakini bangsa Cina dan India sudah mulai mencoba menggunakan bahan tertentu untuk mencegah penularan suatu penyakit. Sejak Edward Jenner memperkenalkan vaksin itulah maka banyak peneliti atau ilmuwan di dunia yang berusaha untuk menemukan vaksin-vaksin lain yang efektif untuk penyakit lainnya, diantaranya Louis Pasteur.

Jenis vaksin dan cara pemberian
Vaksin dibagi menjadi 2 dilihat dari komponen dalam vaksin tersebut, yaitu:
  • Vaksin hidup (bakteri atau virus hidup yang dilemahkan)
  • Vaksin mati (bakteri, virus, atau komponennya, dibuat tidak aktif)
Vaksinasi umumnya diberikan dengan cara disuntikkan, tetapi ada juga yang diberikan oral (lewat mulut) seperti vaksin polio oral (OPV). Pada anak di bawah usia 3 tahun pada umumnya disuntikkan di daerah paha, dan di atas 3 tahun disuntikkan di daerah lengan atas. Pemberian vaksin sekarang ini juga sudah banyak yang dikombinasi , seperti misalnya DPT kombo.

IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mewajibkan 5 vaksinasi untuk setiap anak, yaitu DPT,Hepatitis B,BCG, Polio, dan Campak. Vaksinasi lainnya (seperti MMR, Varisela,Hepatitis A, dll) dianjurkan oleh IDAI.

Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI)
Setelah seseorang anak diberikan imunisasi tidak jarang timbul reaksi dari tubuh seperti demam, nyeri dan sebagainya. Reaksi tersebut dinamakan dengan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI). Reaksi yang terjadi dapat berupa reaksi lokal saja (seperti bengkak di daerah penyuntikkan, nyeri, kemerahan dan bernanah di tempat penyuntikkan), atau bahkan reaksi sistemik baik ringan atau yang berat (demam, syok anafilaksis, sinkope, mual, muntah). Hal-hal tersebut dapat terjadi tanpa dapat diperkirakan. Sebagai orangtua Anda perlu menanyakan kepada dokter Anda kira-kira reaksi apa yang dapat timbul pada anak Anda setelah penyuntikkan dan apa yang harus atau perlu dilakukan. Reaksi yang berat memerlukan penanganan medis segera.

Bersumber dari : www.kiddiecarecenter.com

Minggu, 04 Desember 2011

Apendisitis (Radang Usus Buntu)

Apendisitis atau radang usus buntu adalah peradangan  yang terjadi pada usus buntu (apendiks). Usus buntu adalah suatu bagian kecil usus yang terletak di daerah ujung usus besar (perut sebelah kanan bawah), dekat tempat peralihan dari usus kecil ke usus besar. Bentuknya seperti cacing (sering juga disebut dengan umbai cacing) dengan rongga sempit di dalamnya. Apendisitis terjadi apabila ada makanan atau feses yang berjalan dari usus halus masuk ke usus besar, tetapi kemudian tersangkut di dalam apendiks dan terjadi peradangan (inflamasi) di sana. Apendisitis akut termasuk kegawatdaruratan dalam bidang kesehatan anak, dan bila terjadi apendisitis akut, maka usus buntu perlu dibuang dengan jalan operasi yang dinamakan apendektomi.
Tanda dan gejala apendisitis:
  • Sakit perut
Ini merupakan keluhan pertama kali yang timbul. Biasa sakit dirasakan awal mulanya di daerah pusar, kemudian bergeser ke arah kanan bawah. Sakit terasa sangat nyeri dan anak seringkali sampai melipat kakinya untuk mengurangi rasa nyeri. Bila ditekan di daerah perut kanan bawah akan terasa sakit sekali.
  • Muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Demam
Biasanya demam tidak terlalu tinggi, tetapi apabila apendisitis tersebut sangat berat dan terjadi peradangan yang hebat sampai kemudian pecah maka akan ditandai dengan demam yang tinggi. Keadaan ini patut diwaspadai karena sangat berbahaya.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com

Terkadang dokter mengalami kesulitan dalam menegakkan diagnosis apendisitis karena tidak jarang juga gejala yang timbul tidak khas, seperti misalnya hanya sakit perut biasa, diare, mual dan muntah. Pemeriksaan tambahan seperti X-ray ataupun USG seringkali lebih dapat memastikan diagnosisnya. Bila telah dapat dipastikan, maka tindakan operasi untuk membuang usus buntu yang meradang tersebut adalah prioritas utama. Setelah dilakukan operasi, biasanya akan diberikan obat-obat  antibiotik untuk mencegah dan mengobati infeksi yang terjadi di dalam perut.