Tampilkan postingan dengan label dokter anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dokter anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Agustus 2012

Abaikan ASI, Siapapun Terancam Pidana


JAKARTA, KOMPAS.com - Air susu ibu (ASI) sangat penting bagi bayi yang baru dilahirkan. Selama enam bulan ke depan hingga 12 bulan, seorang bayi wajib diberikan ASI bagi kesehatan dan masa pertumbuhannya.

Sementara susu formula apapun, dengan dalih apapun, tak boleh diberikan kepada bayi yang baru dilahirkan.

Oleh sebab itu, pemerintah tidak main-main dengan ASI. Melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif, yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 1 Maret lalu, pemerintah bukan hanya melarang kegiatan-kegiatan yang dianggap menghambat program pemberian ASI Eksklusif. Pemerintah  juga mewajibkan adanya kegiatan bagi ibu untuk dapat menyusui bayinya, meskipun tengah bekerja atau berada di tempat umum.

"Pelanggaran terhadap PP Nomor 33 Tahun 2012 memang tidak memberikan sanksi yang tegas. Pasal 36 PP itu hanya menetapkan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Penjelasan Pasal 36 PP tersebut hanya menyatakan, yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan adalah peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan," ujar Dokter Utami Rusli dan Dokter Ayu Pertiwi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, saat berbicara di Redaksi Kompas, Jakarta, Kamis (3/5/2012) petang.

Namun, tambah kedua dokter, menurut Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, semua pihak yang dengan sengaja menghalangi pemberian ASI eksklusif, bisa dipidana paling lama satu tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

"Bahkan, PP Nomor 33 Tahun 2012 menegaskan, tenaga dan fasilitas kesehatan yang memberikan susu formula harus menaati beberapa ketentuan, termasuk dilarang melakukan kegiatan promosi," lanjutnya.

Kegiatan promosi itu di antaranya mulai dari memajang produk susu formula bayi, memberikan potongan harga, memberikan sampel susu formula bayi, memberikan hadiah, memberikan informasi melalui saluran telepon, media cetak dan elektronik, memasang logo atau nama perusahaan, pada perlengkapan persalinan dan perawatan bayi hingga membuat dan menyebarkan brosur, leaflet, poster, atau sejenis lainnya.

Editor :Agus Mulyadi

Rabu, 25 April 2012

Refluks Gastroesofagus (RGE)

Bila Anda memberi bayi Anda minum, dan sesaat kemudian bayi mengalami muntah. Apakah Anda pernah/sering mengalami hal seperti itu pada bayi Anda? Hal itulah yang dinamakan Refluks Gastroesofagus. Makanan yang masuk melalui mulut kemudian ditelan akan melewati pipa lambung (esofagus) sebelum masuk ke dalam lambung (gaster). Perbatasan antara esofagus dan lambung terdapat sebuah katup yang mencegah makanan yang ada di dalam lambung untuk kembali lagi ke atas (esofagus). Pada bayi (terutama di bawah usia 3 bulan) katup dan mekanisme ini belum sempurna sehingga seringkali makanan kembali (refluks) ke atas.

Refluks gastroesofagus dibedakan menjadi gumoh dan muntah. Gumoh adalah keluarnya makanan dari dalam lambung tanpa usaha (seperti mengalir keluar), sedangkan muntah adalah keluarnya makanan dengan usaha dari bayi untuk mengeluarkannya (dorongan dari otot perut). Sekitar 50% bayi usia 0-3 bulan mengalami gumoh dan ini normal saja. RGE dapat menjadi tidak normal bila refluks tersebut disertai dengan tanda dan gejala lainnya seperti: muntah berulang, rewel, bayi menjadi tidak mau minum/makan, berat badan tidak naik, atau sulit minum/makan.
RGE pada umumnya tidak memerlukan tindakan atau terapi apapun. Beberapa langkah dapat dilakukan untuk mengatasi RGE seperti misalnya: berikan makan dalam porsi yang lebih kecil atau sedikit-sedikit, membuat bayi bersendawa setiap habis makan dengan jalan menepuk-nepuk pelan punggungnya setiap habis makan, dan jangan langsung menidurkan bayi sehabis makan (diposisikan duduk atau tegak kurang lebih 30 menit). Bila Anda merasa khawatir dengan keadaan bayi, cobalah konsultasikan mengenai keadaannya dengan dokter anak.
Bawa bayi ke dokter anak, bila:
  • Muntah sangat banyak
  • Ada darah dalam muntahnya
  • Bayi terlihat sulit bernapas
  • Refluks masih terjadi setelah anak lebih besar dari 1 tahun
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com

Minggu, 01 April 2012

Kenali Gejala Alergi Susu Sapi

JAKARTA, RABU - Kasus alergi dalam satu dekade terakhir ini diperkirakan para ahli telah mengalami peningkatan. Alergi susu sapi merupakan bentuk alergi makanan yang paling sering ditemukan pada anak berusia kurang dari dua tahun, dan diperkirakan 2-7,5 persen anak pada kelompok umur ini mengalami alergi protein susu sapi.

Karena itu workshop bagi para dokter anak mengenai tata laksana alergi susu sapi akan diadakan di empat kota yaitu Medan, Jakarta, Semarang, dan Surabaya sepanjang bulan Januari 2009 dan akan diikuti oleh 325 dokter spesialis anak bekerja sama dengan IDAI di masing-masing daerah.

"Kami menyadari, tenaga medis memegang peran sangat penting bagi kesehatan bayi dan anak, termasuk dokter anak. Oleh karena itu, kami selalu ikut berpartisipasi aktif dalam meningkatkan pengetahuan, wawasan serta kualitas para dokter anak dalam memberi pelayanan kesehatan prima bagi bayi dan anak," ujar Presiden Direktur Mead Johnson Indonesia Martin Ibarreche.

Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto A D Pasaribu menyatakan, kasus alergi terhadap anak perlu tata laksana yang standar. Melalui workshop itu, diharapkan para tenaga medis, terutama dokter anak, dapat memberi penanganan yang cepat, tepat dan komprehensif. Penatalaksanaan alergi pada anak, khususnya alergi susu sapi, perlu ada standarisasi, ujarnya.

Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI dr Badriul Hegar alergi susu sapi sering ditemukan pada anak usia di bawah tiga tahun, terutama di bawah usia 12 bulan. Hal ini dihubungkan dengan pematangan sistem saluran cerna. Gejala klinis paling sering terlihat adalah gangguan saluran cerna (50-80 persen), mulai dari muntah , diare berlanjut yang kadang-kadang disertai darah, konstipasi atau sembelit, bahkan bisa mengganggu tumbuh kembang anak.

Karena gejalanya bisa beragam atau tidak terlalu spesifik, maka banyak orangtua maupun tenaga kesehatan sulit mendiagnosis terjadinya alergi susu sapi. Cara paling mudah adalah, dengan melakukan tes alergi dan memantau adanya penyimpangan dibanding anak normal. Sebagai contoh, bila seorang anak terus menderita diare meski telah diobati selama lebih dari seminggu, maka harus dicurigai apakah anak tersebut alergi, kata Badriul.

Penanganan dasar dan efektif untuk alergi protein susu sapi adalah dengan menghindari protein susu sapi atau produk turunannya, ujarnya menambahkan. Selama penanganan alergi susu sapi, pemberian air susu ibu atau ASI kepada bayi yang menderita alergi tersebut tidak boleh dihentikan terutama selama masa pemberian ASI eksklusif pada saat bayi berusia 0-6 bulan.

Bersumber dari : www.kompas.com

Minggu, 11 Maret 2012

Dokter Anak, Seperti Apa yang Ideal?

Bayi dan balita memang lebih mudah terserang penyakit. Batuk, flu, atau demam adalah penyakit yang sering jadi "langganan" si kecil. Tak heran bila Anda harus bolak-balik membawanya ke dokter, selain juga untuk mendapatkan vaksinasi. Oleh karena itu, memilih dokter anak yang berkualitas, atau paling tidak memenuhi syarat tertentu adalah hal yang mutlak. 

Ada beberapa syarat dokter anak yang ideal. Untuk mengetahuinya Anda bisa mencari rekomendasi dari teman, kerabat, atau tetangga. Ada orangtua yang melihat ramainya praktek dokter sebagai ukuran dokter yang ideal. Tempat praktek yang ramai biasanya menunjukkan dokter yang komunikatif, bisa menjawab pertanyaan orangtua, obatnya manjur, atau tarifnya terjangkau. Namun bukan berarti dokter yang praktiknya sepi, jelek lho.

Nah, apa saja yang perlu dimiliki seorang dokter anak yang ideal?

1. Punya waktu yang fleksibel
Sebelum memilih dokter, pastikan apakah si dokter memiliki aturan istimewa untuk anak yang sakit dan butuh penanganan darurat. Jangan sampai Anda tetap harus mengantri berjam-jam padahal demam si kecil sudah mencapai 40 derajat. 

2. Komunikatif
Seorang dokter yang baik selayaknya membuka komunikasi lebar-lebar, salah satu indikasinya adalah mau menerima konsultasi lewat telepon, terutama untuk hal yang darurat. Apalagi kesehatan anak sangat ringkih, bisa saja pada malam hari si kecil demam tinggi dan kejang-kejang. Selain komunikatif dengan orangtua, dokter juga idealnya komunikatif dengan anak sehingga anak tidak merasa takut.

3. Jarak dekat
Bila memungkinkan, pilih dokter yang tempat praktiknya tidak terlalu jauh dari rumah sehingga Anda tidak membuang waktu lama di jalan.

4. Kesesuaian filosofi
Sebaiknya Anda memiliki kesamaan konsep kesehatan dan pengasuhan dengan dokter. Misalnya dokter mendukung niat dan usaha Anda untuk memberikan ASI eksklusif, atau tidak memaksa Anda memberikan vaksin untuk anak jika Anda tidak merasa yakin.


Bersumber dari : www.kompas.com

Sabtu, 18 Februari 2012

Tonsilitis

Tonsil mungkin lebih dikenal di kalangan orangtua dengan sebutan amandel. Banyak orangtua yang mengatakan bahwa menurut dokter, amandel anaknya perlu diangkat dengan jalan operasi. Seringkali kemudian timbul pertanyaan mengenai hal ini. Apa itu amandel, mengapa bisa meradang, kapan perlu dibuang merupakan pertanyaan yang seringkali diajukan ke dokter anak.

Amandel atau tonsil merupakan bagian dari sistem imun yang terletak di kiri dan kanan tenggorokan. Pada waktu masih kecil amandel masih berguna untuk mencegah infeksi kuman dan berperan dalam sistem pertahanan tubuh, tetapi pada orang dewasa amandel sudah tidak memiliki peranan lagi karena fungsinya telah diambil organ lainnya. Amandel dapat membesar dan meradang apabila terjadi infeksi disana. Inilah yang disebut dengan tonsillitis.

Tonsillitis ditandai dengan peradangan amandel, yang biasanya disertai nyeri menelan, demam ringan, atau perubahan suara (serak). Anak seringkali menjadi malas untuk makan. Pengobatan tonsillitis disesuaikan dengan tanda dan gejalanya, seperti misalnya pemberian parasetamol untuk demam, atau antibiotik bila dicurigai infeksi disebabkan oleh bakteri (jarang). Dengan beristirahat yang cukup, biasanya tonsillitis akan sembuh dengan cepat kurang dari 3 hari.

Peradangan dan infeksi yang terjadi seringkali berulang. Hal inilah yang menyebabkan semakin lama amandel semakin membesar dan kemerahan. Bila memang sudah membesar dan meradang terus menerus, maka hal inilah yang seringkali menjadi indikasi untuk mengangkat dan membuang amandel. Selain itu masih ada beberapa keadaan lain sehingga diperlukan pengangkatan amandel, yaitu: sleep apneu (henti napas pada waktu tidur), mengorok hebat, dan amandel yang bernanah. Setiap kekhawatiran dan pertanyaan mengenai operasi amandel sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter anak anda.

Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com

Selasa, 14 Februari 2012

Mengukur Suhu Tubuh

Suhu tubuh yang normal pada anak-anak berkisar antara 36-37.2°C. Perubahan suhu ini  bergantung dari waktu dan jumlah kegiatan yang anak anda lakukan. Suhu tubuh di atas 37.2°C (pada pengukuran suhu ketiak) mengindikasikan bahwa anak anda sedang tidak sehat (demam), dan pertimbangkan untuk memberikan sirup parasetamol kepada anak anda. Segeralah bawa anak anda ke dokter anak bila suhunya di atas normal lebih dari 24 jam atau lebih dari 40°C.
Anda boleh mengukur temperatur anak anda kapan saja, terutama bila anak anda memiliki gejala berikut ini: sakit tenggorokan, muntah-muntah, diare, pilek, nyeri di telinga, menggigil, sakit kepala, atau kemerahan pada kulitnya. Pilihah cara yang anda dan anak anda paling sukai, buat catatan kecil dari hasil pengukurannya.
Anda dapat mengukur suhu tubuh anak anda di mulut, ketiak, atau di telinga. Berikut ini diterangkan masing-masing tempat pengukuran:
  • Mulut: meletakkan termometer di bawah lidah memberikan nilai terbaik untuk suhu anak, tetapi tidak untuk anak yang masih terlalu kecil karena apabila menggunakan termometer air raksa bisa tergigit dan mengeluarkan air raksa beracun. Dikatakan demam apabila pengukuran di mulut lebih dari 37.5°C.
  • Ketiak  menggunakan termometer di ketiak merupakan cara yang aman dan mudah jika anak anda dapat duduk diam untuk waktu yang cukup lama. Dikatakan demam apabila hasil pengukuran lebih dari 37.2°C.
  • Anus: cara ini cukup akurat, hanya tidak nyaman dilakukan untuk anak yang sudah besar. Dikatakan demam apabila hasil pengukuran lebih dari 38°C.
  • Telinga: ini merupakan cara yang paling cepat, tetapi hasil pengukuran terkadang menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari seharusnya. Sebaiknya ditera terlebih dahulu dengan termometer air raksa untuk mendapat hasil pengukuran yang lebih baik. Dikatakan demam apabila hasil pengukuran lebih dari 38°C.
Termometer harus selalu dibersihkan setiap digunakan dan jauhkan dari jangkauan anak-anak. Selalu baca dahulu petunjuk pengunaannya, beberapa jenis termometer berbeda cara penggunaanya.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com

Rabu, 08 Februari 2012

Diare Akut

Diare akut masih merupakan masalah kesehatan anak terutama di dunia dan menjadi penyebab no.1 kematian anak di Negara berkembang. Kematian terutama disebabkan oleh dehidrasi (kekurangan cairan) akibat terlalu banyak cairan yang keluar pada saat diare. Diare sendiri didefinisikan sebagai BAB yang lebih sering dan lebih encer. Diare akut pada anak di bawah usia 5 tahun terutama disebabkan oleh virus rotavirus (60-80%). Penyebab lainnya adalah infeksi bakteri, atau karena pemberian antibiotik yang tidak tepat (antibiotic associated diarrhea) serta infeksi sistem lain diluar saluran pencernaan.


Penanganan diare menjadi masalah tersendiri, WHO dan banyak negara di dunia berusaha untuk menemukan pedoman atau panduan yang paling tepat dalam penanganan diare ini. Sekarang ini dikenal isitilah 5 steps to threat diarrhea atau lima langkah tuntaskan diare (LINTAS diare), yang poin-poinnya adalah sebagai berikut:

1. Berikan oralit
Bila anak diare segera berikan oralit. Hal ini diperlukan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi. Oralit dapat diberikan dengan dosis 10cc/kg berat badan setiap kali anak mencret.

2. Teruskan pemberian ASI dan makanan lain
ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dan seperti menu pada saat anak sehat untuk mencegah kehilangan berat badan serta pengganti nutrisi yang hilang.

3. Berikan Zinc
Dalam beberapa penelitian terakhir telah dibuktikan manfaat pemberian zinc pada anak diare. Zinc terbukti dapat mengurangi lama dan beratnya diare, dan zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut. Pemberian zinc adalah 10 mg setiap hari untuk anak di bawah 6 bulan dan 20 mg setiap hari untuk anak di atas 6 bulan.

4. Antibiotik selektif
Jangan berikan antibiotik kecuali atas petunjuk dokter. Pemberian antibiotik yang tidak tepat pada diare terkadang dapat memperburuk diare. Antibiotik juga dapat menyebabkan diare pada anak (antibiotic associated diarrhea).

5.Nasihat untuk ibu
Segera bawa anak ke dokter anak bila anak mengalami: demam, tinja berdarah, muntah berulang, tidak mau makan dan minum, sangat haus, atau diare makin sering serta tidak membaik dalam waktu 3 hari.
Pemberian obat penghenti diare (seperti loperamide, kaolin pectin, attapulgite) tidak direkomendasikan untuk diberikan pada anak. Sebentar lagi akan ada vaksin Rotavirus yang akan tersedia di Indonesia yang dapat mencegah infeksi virus rotavirus sebagai penyebab diare akut utama.

Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com

Senin, 06 Februari 2012

Penyakit Kawasaki

Apakah Anda pernah mendengar tentang penyakit Kawasaki? Belakangan ini penyakit ini mulai sering diperbincangkan, baik di kalangan medis ataupun masyarakat awam. Angka kejadian penyakit ini mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir, meskipun masih tergolong jarang. Topik yang seringkali dibahas tentang Kawasaki ini adalah akibat atau komplikasi pada jantung yang ditimbulkan pada anak dengan penyakit Kawasaki ini. Lalu apa penyakit Kawasaki itu sebenarnya?

Penyakit Kawasaki adalah penyakit peradangan yang menyerang pembuluh darah. Pertama kali dilaporkan di Jepang, lalu mulai ditemukan di Negara lainnya termasuk Indonesia. Tanda dan gejala penyakit ini adalah demam yang lama (lebih dari 5 hari) dengan beberapa gejala tambahan yang spesifik yaitu:
  1. Konjungtivitis atau peradangan pada kedua mata.
  2. Lidah yang membengkak dan berwarna kemerahan (strawberry tongue) dengan bibir yang kemerahan dan pecah-pecah.
  3. Tangan dan kaki bengkak, kemerahan dan disertai kulit mengelupas.
  4. Timbul ruam kemerahan di tubuh.
  5. Pembesaran kelenjar getah bening di leher.
Walaupun pada umumnya penyakit ini dapat sembuh sendiri, tetapi pada sebagian kecil kasus, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi ke jantung. Inilah yang ditakutkan, karena tidak jarang komplikasi ini berakibat kematian. Penanganan penyakit ini memerlukan dokter anak konsultan jantung. Pemberian pengobatan dengan Imunoglobulin dapat mengurangi kemungkinan komplikasi, tetapi harganya sangat mahal.

www.kiddiecarecentre.com

Rabu, 18 Januari 2012

Vaksinasi

Ada pepatah yang mengatakan Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kiranya peribahasa ini sangat cocok untuk menggambarkan vaksinasi. Tindakan preventif/mencegah merupakan tindakan yang menjadi prioritas utama dalam bidang kesehatan. Sekarang ini pencarian terhadap berbagai jenis vaksin baru terus digalakkan dan sudah semakin banyak penyakit yang diketahui dapat dicegah dengan vaksinasi (seperti misalnya karsinoma serviks yang dapat dicegah dengan vaksin HPV). Vaksinasi sekarang sudah menjadi sesuatu yang wajib, terutama pada anak, karena semakin dini diberikan vaksinasi maka semakin terlindungi anak dari suatu penyakit.
Vaksin pertama kali diperkenalkan oleh seorang ilmuwan dari Inggris bernama Edward Jenner. Ia memperkenalkan vaksin untuk cacar (smallpox) pada tahun 1796. Sebenarnya jauh sebelum Edward Jenner memperkenalkan vaksin, diyakini bangsa Cina dan India sudah mulai mencoba menggunakan bahan tertentu untuk mencegah penularan suatu penyakit. Sejak Edward Jenner memperkenalkan vaksin itulah maka banyak peneliti atau ilmuwan di dunia yang berusaha untuk menemukan vaksin-vaksin lain yang efektif untuk penyakit lainnya, diantaranya Louis Pasteur.

Jenis vaksin dan cara pemberian
Vaksin dibagi menjadi 2 dilihat dari komponen dalam vaksin tersebut, yaitu:
  • Vaksin hidup (bakteri atau virus hidup yang dilemahkan)
  • Vaksin mati (bakteri, virus, atau komponennya, dibuat tidak aktif)
Vaksinasi umumnya diberikan dengan cara disuntikkan, tetapi ada juga yang diberikan oral (lewat mulut) seperti vaksin polio oral (OPV). Pada anak di bawah usia 3 tahun pada umumnya disuntikkan di daerah paha, dan di atas 3 tahun disuntikkan di daerah lengan atas. Pemberian vaksin sekarang ini juga sudah banyak yang dikombinasi , seperti misalnya DPT kombo.

IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mewajibkan 5 vaksinasi untuk setiap anak, yaitu DPT,Hepatitis B,BCG, Polio, dan Campak. Vaksinasi lainnya (seperti MMR, Varisela,Hepatitis A, dll) dianjurkan oleh IDAI.

Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI)
Setelah seseorang anak diberikan imunisasi tidak jarang timbul reaksi dari tubuh seperti demam, nyeri dan sebagainya. Reaksi tersebut dinamakan dengan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI). Reaksi yang terjadi dapat berupa reaksi lokal saja (seperti bengkak di daerah penyuntikkan, nyeri, kemerahan dan bernanah di tempat penyuntikkan), atau bahkan reaksi sistemik baik ringan atau yang berat (demam, syok anafilaksis, sinkope, mual, muntah). Hal-hal tersebut dapat terjadi tanpa dapat diperkirakan. Sebagai orangtua Anda perlu menanyakan kepada dokter Anda kira-kira reaksi apa yang dapat timbul pada anak Anda setelah penyuntikkan dan apa yang harus atau perlu dilakukan. Reaksi yang berat memerlukan penanganan medis segera.

Bersumber dari : www.kiddiecarecenter.com

Kamis, 27 Oktober 2011

Cerdas Memilih Dokter Anak

VIVAnews - Saat memiliki anak pertama, pasti akan ada banyak pertanyaan di kepala Anda tentang kondisi pertumbuhan kesehatan si kecil. Untuk mengetahui bagaimana kondisi kesehatan si kecil secara detail adalah dengan berkonsultasi dengan dokter anak.

Keberadaan dokter anak memang sangat penting. Komunikasi antara Anda dan dokter anak pun harus lancar. Karena, Anda akan banyak berkonsultasi dengan dokter anak terkait kesehatan si kecil. Seperti
imunisasi, pemeriksaan rutin atau bila si kecil sakit. Untuk itu dalam memilih dokter anak, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan. 

Reputasi Profesional

Sebelum Anda memilih dokter anak, tidak ada salahnya untuk melakukan survei kecil-kecilan. Dokter anak yang memiliki reputasi baik dan profesional pasti akan banyak diketahui orang. Anda bisa menggali informasi dari orang tua, teman atau dari pihak rumah sakit. Bergabung dengan milis kesehatan juga menjadi salah satu cara untuk mengetahui dokter anak bereputasi baik dan profesional.  

Proaktif

Jika Anda sudah menentukan dokter anak untuk buah hati, cobalah menjadi ibu yang kritis. Tanyakanlah sedetail mungkin hal yang ingin Anda ketahui terkait kesehatan si kecil. Jawaban dari dokter bisa menjadi penilaian, apakah ia dokter yang komunikatif dan informatif atau tidak. Pilih dokter anak yang proaktif dan memberikan informasi sebanyak mungkin kepada pasiennya. Dengan begitu Anda juga bisa menjadi pasien yang cerdas.

Jam Kerja
Tanyakanlah pada dokter Anak, kapan ia bisa dihubungi untuk berkonsultasi. Apakah hanya saat dalam praktek saja, atau juga  dalam keadaan darurat. Tanyakan juga apakah Anda bisa mendapatkan nomor
ponselnya. Jika sewaktu-waktu si kecil sakit, Anda bisa menghubunginya.

Dokter Pengganti
Tanyakan juga pada dokter anak, apakah ia merefensikan dokter lain jika ia sedang tidak praktek. Karena, sewaktu-waktu bisa saja dokter kepercayaan Anda tidak ada di tempat dan digantikan dokter lain. Jika demikian, Anda sudah memegang nama dokter lain yang sudah direferensikan oleh dokter kepercayaan Anda.

Lokasi
Ketahui lokasi tempat praktek dokter anak. Karena, biasanya dokter juga membuka praktek di tempat lain. Bisa saja lokasi tempat praktek lain, lebih dekat dari rumah.

Suasana Tempat Praktek
Atmosfer atau suasana di tempat praktek juga akan berpengaruh pada si kecil. Untuk itu Anda juga harus mempertimbangkan keramahan dokter dan para stafnya dalam memberikan pelayanan.

Telepon
Tanyakan apakah Anda bisa menelepon jika sewaktu-waktu Anda membutuhkan konsultasi. Dan Jika menelepon, apakah Anda akan langsung berhubungan dengan dokter atau melalui suster.
  
Harga
Biaya tentunya akan selalu menjadi pertimbangan. Ketahui harga konsultasi dengan dokter, sebelum Anda melakukan pemeriksaan. Dengan begitu Anda bisa menyiapkan dana tiap bulan dengan terencana.

• VIVAnews