Tampilkan postingan dengan label ketupat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ketupat. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2012

Bleng, Bahan Kimia Mirip Boraks Biasa Dipakai untuk Kerupuk


Jakarta - Industri kerupuk banyak memakai bleng. Bahan kimia ini dipakai untuk mengembangkan dan mengenyalkan adonan. Sebenarnya bahan ini tidak boleh digunakan untuk makanan. Apa sebenarnya bleng itu?

Bleng (natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat) adalah campuran garam mineral konsentrasi tinggi. Bentuknya panjang dan berwarna agak kuning. Zat ini adalah bentuk tidak murni dari asam borat, sementara bentuk murninya banyak dikenal dengan nama boraks. Di Indonesia, bleng sudah diproduksi sejak tahun 1700 dalam bentuk air bleng. Cairan ini biasanya dihasilkan dari ladang garam atau kawah lumpur.

Penggunaan bleng dalam makanan bertujuan untuk memberikan aroma dan rasa khas di samping mengenyalkan dan membuat adonan mengembang. Tekstur dan rupa makanan menjadi bagus. Bleng membuat kerupuk gendar/karak/puli mekar saat digoreng dan terasa renyah. Zat ini juga berperan sebagai pengawet dan pengeras mie, lontong, ketupat, bakso, kecap, cenil, lupis, dan sosis.

Boraks atau bleng hanya diperbolehkan dalam makanan dengan batas maksimal 1 gram per 1 kilogram atau 1:1000. Zat ini akan menumpuk dalam tubuh seiring seringnya mengonsumsi makanan yang mengandung boraks atau bleng. Dosis berlebihan akan menyebabkan demam, kerusakan ginjal, hingga kematian.

Bagaimana cara mengenali makanan yang mengandung bleng/boraks? Menurut Matoa.org, inilah ciri-cirinya:

- Kerupuk: renyah dan terasa getir
- Bakso: sangat kenyal, warna cenderung putih, tidak cokelat seperti warna daging
- Mie basah: kenyal, lebih mengilat, tidak lengket, dan tidak mudah putus
- Lontong: sangat kenyal, terasa tajam, sangat gurih, terasa getir

Sebenarnya ada pengganti bleng/boraks yang aman dipakai dan memberikan efek sama. Air abu yang berasal dari pembakaran merang (tangkai bulir pagi) dan klaras (daun pisang kering) dapat digunakan sebagai pengenyal dan pengawet alami.

Bahan lainnya yang juga aman adalah air kapur sirih dan sodium tripolyphosphate (STPP atau E451). Penggunaan STPP memiliki beberapa kelebihan dibanding bleng. Selain aman dikonsumsi, harganya pun lebih murah. Hanya butuh sedikit STPP untuk membuat adonan mengembang dan kenyal agar makanan lebih renyah dan enak

(fit/odi)

Bersumber dari : Fitria Rahmadianti - detikFood

Kamis, 08 Desember 2011

Gado gado depan pku

GADO-GADO 'DEPAN PKU'Ah, gado-gado. Rasa segar, gurih dan manis. Siang hari menikmati gado-gado, merasakan kesegaran sayuran, dan gurihnya bumbu kacang. Meski menikmatinya di tepi jalan, ramai kendaraan, dan tentu saja, terik matahari menyengat kulit, dan hanya duduk di kursi plastik. Warung yang menyediakan kuliner gado-gado dan lotek ini ada di depan PKU, atau RS. PKU jalan KH, Dahlan, Yogyakarta. Warung dorong ini, di kacanya bertuliskan ‘Depan PKU’.
Rupanya, warung ini sudah mempunyai pelanggan, sehingga secara bergantian pembelinya datang. Ada yang makan di warung. Ada yang pesan untuk dibawa pulang. Ternyata, warung ini sudah lama. Ibu Irwan sebagai penjual gado-gado dan lotek ini sudah 20 tahun, dan ketika itu anak-anaknya masih kecil. Sekarang, tentu saja anak-anaknya sudah dewasa.
Di jalan KH. Dahlan ada banyak warung, tepat di depan PKU, disebelah selatan jalan dan mengambil trotoar, gerobag GADO-GADO 'DEPAN PKU'dorong Ibu Irwan mengambil tempat. Di lokasi ini, sejak pukul 11 ibu Irwan sudah membuka warungnya, dan biasanya pukul 5 sore, warungnya sudah tutup.
Bumbu gado-gadonya terasa gurih, dan kental. Sayuran hijau, kentang, irisan tomat memberi rasa segar gado-gadonya. Selain ketupat sebagai pengganti nasi, sebutir telur sebagai kelengkapan lauk. Variasi lainnya, ada kerupuk dan emping. Jadi, rasa gurih kerupuk dan emping melengkapi kacang. Nyus..nikmatnya.
Kuliner Tembi, Sabtu siang (3/12) lalu mampir di warung ‘Depan PKU’. Dan baru sekali ini mencobanya’ Sebelumnya pernah mendengar warung ‘Depan PKU’ yang menyediakan kuliner lotek dan Gado-gado. Memesan satu porsi gado-gado, ternyata cukup banyak dan membuat kenyang. Kentang dan ketupat, ditimbun bumbu kacang dan dilengkapi sayuran, segera minta untuk disantap.
Seorang teman, Mustofa W Hasyim namanya, yang tinggal di GADO-GADO 'DEPAN PKU'Kauman, telah menjadi pelanggan. Atau setidaknya berulangkali makan di warung ini. Karena menurut Mustofa, gado-gado dan loteknya memang enak dan memberi rasa ‘kangen’ kalau lama tidak mencicipinya.
“Biasanya kalau saya memesan gado-gado memilih tidak pakai kubis dan emping” kata Mustofa.
Di Yogya memang mudah ditemukan warung-warung yang menyediakan kuliner lotek dan gado-gado. Ada warung lotek dan gado-gado yang membuka cabang di beberapa tempat. Tapi ada juga yang tidak membuka cabang dan hanya mengambil disatu lokasi, setidaknya seperti warung gado-gado ‘Depan PKU’.
GADO-GADO 'DEPAN PKU'Berapa harga satu porsi gado-gado?
Tidak terlalu mahal, atau sebut saja harganya cukup, apalagi memang rasanya nendang. Satu piring gado-gado cukup mengeluarkan uang Rp 10.000,-
Gado-gado ‘Depan PKU’ memang hanyalah salah satu dari sejumlah warung gado-gado dan lotek yang ada di Yogya. Artinya, warung sejenis itu, yang menyediakan lotek dan gado-gado tidak susah dicari. Dari lokasi di tengah kota sampai agak ke pinggir, bisa ditemukan kuliner serupa itu. Namun, meski kulinernya sama, tetapi rasanya bisa berbeda. Setidaknya, pada ramuan bumbu yang membuatnya berbeda.
Pada warung ‘Depan PKU’ ini, selain tersedia garam. Tersedia pula terasi, sehingga penjualnya tinggal mencuil sedikit terasi yang kemudian diulek bersama bumbu lainnya, yang agaknya membuat gado-gadonya mempunyai cita rasa yang membuat kangen.
Cobalah, kalau kebetulan melewati jalan KH. Dahlan, sempatkan mampir di warung dorong ‘Depan PKU’.
Ons Untoro

Bersumber dari : www.tembi.net