Kamis, 17 November 2011

Kiat jitu usir batuk

Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu meredakan batuk anak? Sebagian besar batuk pada anak tidak berbahaya, terutama yang timbulnya akut dan baru berlangsung sebentar. Hal-hal sederhana berikut ini memang tidak dapat secara langsung menghilangkan batuk, namun paling tidak anak dapat merasa lebih nyaman.
  • Tingkatkan kelembaban udara: Suhu dan kelembaban lingkungan di sekitar anak perlu disesuaikan supaya anak merasa nyaman. Udara yang lembab akan mengurangi iritasi saluran napas, serta mencegah lendir menjadi kering sehingga mudah dikeluarkan.
  • Menghirup uap air hangat juga dapat membantu, namun jangan sampai terlalu panas karena malahan dapat membuat udara semakin kering.
  • Banyak minum. Usahakan anak Anda mendapatkan banyak cairan untuk mengencerkan lendir di tenggorokannya dan mengurangi demam. Air hangat yang ditambahkan perasan lemon dan sedikit madu dapat membantu mengurangi rasa gatal di tenggorokan. Sup ayam atau susu hangat juga baik diberikan pada si kecil.
  • Upayakan anak banyak beristirahat: Istirahat diperlukan agar kondisi tubuhnya cepat kembali pulih seperti semula.
  • Jangan lupa, kebiasaan mencuci tangan perlu diajarkan pada seluruh anggota keluarga sehingga dapat mencegah penularan penyakit.

Kapan perlu obat batuk?

Apabila setelah beberapa hari batuk tidak membaik, atau batuknya hebat dan mengganggu tidur, dapat dipertimbangkan untuk memberikan obat batuk. Obat batuk ada yang dapat dibeli bebas dan ada pula yang dengan resep dokter. Obat ini boleh dipakai apabila dapat membuat anak merasa lebih nyaman, dan yang paling penting obat tersebut tidak menimbulkan efek samping yang berat.

Tips menggunakan obat batuk

  1. Hindari obat yang berkhasiat menyembuhkan banyak gejala (batuk, pilek, hidung tersumbat, demam) kecuali semua gejala itu memang ada pada si kecil.
  2. Ikuti petunjuk dokter mengenai jumlah dan frekuensi obat yang diberikan pada anak. Jangan memberikan obat lebih banyak atau lebih sering daripada yang dianjurkan dokter.
  3. Jika membeli obat bebas, ikuti aturan dosis yang tertera pada kemasan obat. Jangan mengkira-kira sendiri jumlah obat yang diberikan.
  4. Ukur obat yang bentuknya sirup dengan menggunakan sendok obat. Kocok dahulu botol obat.
  5. Jika terlewat satu kali pemberian, berikan obat tersebut sesegera mungkin. Namun jika waktunya sudah mendekati pemberian obat berikutnya, tunggu dan berikan dosis selanjutnya.
  6. Hubungi dokter jika terjadi efek samping obat misalnya sulit bernapas, timbul merah-merah di kulit yang gatal, ngantuk berlebihan, gelisah, nyeri perut, dan sebagainya. \
  7. Simpan obat dalam suhu ruangan di wadah khusus yang tertutup dan terlindung dari sinar matahari langsung, panas dan kelembaban. Jangan dibekukan di freezer.
  8. Simpan obat dengan aman, jangan sampai si kecil bisa bermain-main dengan obat tanpa sepngetahuan kita

Berbagai macam obat batuk

Obat batuk pilek yang dijual bebas seringkali dikombinasi dengan obat turun panas (misalnya parasetamol) dan pereda hidung tersumbat (dekongestan). Berbagai macam obat batuk yaitu:
  • Penahan batuk. Bila batuknya sangat mengganggu, dokter seringkali memberikan obat antitusif (bersifat menekan batuk) supaya nyaman dan tidurnya tidak terganggu. Obat ini jangan diberikan terus-menerus, cukup bila batuk sangat hebat. Dextrometorphan merupakan obat penekan batuk yang dijual bebas, bekerja dengan menaikkan ambang rangsang batuk. Obat resep misalnya kodein yang merupakan turunan morfin, tergolong dalam obat narkotik. Obat ini tergolong antitusif yang kuat. Cara kerjanya yaitu menghambat refleks batuk sehingga hanya ditujukan bagi batuk kering, gatal, nyeri dan mengganggu tidur. Obat ini jarang digunakan. Dosis besar dan pemakaian berulang tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi).
  • Pengencer dahak atau expectorant. Tujuan pemberian pengencer dahak adalah mempermudah pengeluaran dahak, menghilangkan iritasi, serta mencegah terangsangnya reseptor batuk secara berlebihan. Bromhexin, guaifenesin dan amonium klorida dapat dibeli bebas. Ambroxol dan asetilsistein merupakan obat resep.
  • Antialergi atau antihistamin. Obat ini bekerja dengan menekan pusat batuk batuk. Antihistamin dapat mengurangi pilek yang disebabkan alergi. Efek samping obat ini yaitu mengantuk seringkali bermanfaat untuk membuat anak banyak beristirahat. Efek samping lain yaitu mulut dan hidung menjadi kering. Contoh obatnya ialah diphenhydramine dan chlorpheniramine.
  • Dekongestan atau obat batuk pilek sering dicapurkan ke dalam obat batuk. Gunanya mengurangi gejala pilek atau hidung tersumbat, sehingga dapat meredakan batuk yang disebabkan oleh tetesan cairan dari hidung (post nasal drip). Contoh dekongestan yaitu pseudoephedrine. Kadang-kadang dapat timbul efek samping yang ringan yaitu anak menjadi rewel dan agak sulit tidur.

Apakah antibiotik selalu diperlukan untuk batuk?

Sebagian besar batuk pada anak disebabkan virus, terutama common cold. Infeksi virus tidak memerlukan antibiotika. Batuk karena common cold bisa berlangsung sampai seminggu, jadi yang penting adalah memberi nutrisi yang cukup, banyak istirahat, banyak minum (jangan minum air es), dan menjaga kelembaban udara ruangan. Batuk disebabkan asma juga tidak memerlukan antibiotika. Tentunya asma tidak akan sembuh dengan obat-obat biasa. Batuk karena asma memerlukan obat khusus
Bijak-bijaklah sebelum memutuskan untuk memberikan obat batuk pada anak. Batuk bukanlah musuh, namun justru diperlukan oleh tubuh. Bila benar-benar mengganggu, barulah obat batuk boleh diberikan, namun perhatikan benar dosisnya, jangan sampai berlebihan.
Referensi
  1. Ganiswarna SG, Setiabudy R, Suyatna FD, dkk, penyunting. Farmakologi dan terapi. Edisi keempat. Jakarta: 2001.
  2. Iannelli V. Before you buy children’s cold medicines. http://pediatrics.about.com/cs/pharmacology/a/byb_cold_meds.htm
  3. Loyola university health system. Antitussives. http://www.luhs.org/HEALTH/kbase/htm/mdx-/qudr/403/mdx-qudr403.htm
Bersumber dari : www.anakku.net

Rabu, 16 November 2011

Anak yang Selalu Mengantuk

Kok anakku sering tertidur di kelas? Raportnya jadi jelek. Dan anak sering marah-marah. Jangan terlalu menyalahkan anak bila raportnya jelek atau temperamental sepanjang hari. Karena ini bisa terjadi karena gangguan tidur. Anak jadi mengantuk, kurang konsentrasi, sulit mengingat saat belajar sehingga nilai raport mereka jelek. Mengapa mengantuk terus?

Pola Tidur berubah

Bayi baru lahir belum punya jadwal tidur. Baru usia 3-6 bulan, bayi sudah tidur sepanjang malam dan terbangun di siang hari, yang makin stabil di usia 9 bulan. Jumlah waktu tidur makin berkurang dari sekitar 13 jam di usia 3 tahun menjadi 11 jam pada 5 tahun. Anak juga mulai sulit tidur siang, menolak jika disuruh tidur, dan pengaruh lingkungan makin besar. Pada usia sekolah dasar, anak seringkali tidak tidur siang tetapi mudah tidur di malam hari.
Saat remaja, anak cenderung tidur malam dan bangun makin siang. Anak usia 9-10 tahun bisa tidur sekitar 10 jam baik saat jadwal sekolah maupun liburan dan tak akan lebih dari itu, sedangkan remaja (13 tahun ke atas) akan tidur lebih sedikit di jadwal sekolah dan tidur berlebihan di waktu libur seolah “berhutang” tidur. Normalnya, remaja masih membutuhkan 9-10 jam tidur.

Tidur pun ada yang mengatur

Tidur diatur oleh sistem sirkadian dan sistem keseimbangan tidur yang kesemuanya bersumber di otak. Sistem sirkadian dipengaruhi oleh siklus terang dan gelap dan ini sesuai dengan perputaran siang dan malam. Diawali tahun 1993, sebuah teori mengatakan masa pubertas menyebabkan sistem sirkadian berubah yang menyebabkan “jam tidur” bergeser hingga anak puber cenderung tidur lebih malam. Anak yang belum puber atau awal puber tidak jatuh tertidur saat diminta berbaring di siang hari, sebaliknya anak puber atau akhir puber lebih mudah jatuh tertidur. Ini menunjukkan selain adanya perubahan pusat tidur di otak, remaja puber juga lebih membutuhkan waktu tidur ketimbang saat anak-anak.

Remaja cenderung tak cukup tidur

Tidur malam, bangun kesiangan, siang mengantuk terus, inilah gangguan tidur khas anak sekolahan. Kebanyakan anak yang mengantuk di siang hari tidak cukup tidur baik kualitas ataupun kuantitas. Selain faktor pubertas, orang tua, jadwal sekolah, dan ekstrakurikuler juga ikut mempengaruhi.
Makin besar anak, orang tua cenderung tak lagi mematok jam tidur sehingga anak bisa tidur sesuka hatinya dan bangun makin siang. Jam masuk sekolah yang terlalu pagi juga mengurangi jumlah tidur anak. Dilaporkan anak sekolahan berkurang tidurnya sebanyak dua jam dibandingkan saat mereka libur. Mereka yang jadwal masuknya pagi hari juga mengeluh lebih mengantuk, kurang konsentrasi, dan lebih terpaksa ketimbang yang masuk lebih siang. Anak dengan kegiatan ekstrakurikuler padat ataupun kerja paruh waktu (lebih dari 20 jam seminggu), mengaku lebih sering mengantuk saat menyetir, di kelas, saat membaca, belajar, atau mengerjakan pe-er.

Sering mengantuk dan raport jelek

Kurang tidur saat jadwal sekolah membuat anak lebih mudah tertidur di setiap kesempatan. Manifestasinya tertidur di kelas atau curi-curi tidur di sela waktu belajar. Anak dengan nilai bagus (B ke atas) mengaku tidur lebih banyak dan lebih awal ketimbang anak dengan nilai kurang (C ke bawah). Di akhir pekan, jadwal tidur tetap, sedangkan anak dengan nilai kurang cenderung “berhutang tidur” dan akhirnya tidur berlebihan. Anak yang kualitas tidurnya baik juga menyadari mereka lebih termotivasi untuk berprestasi, lebih respon terhadap pelajaran, dan memiliki imej positif terhadap diri sendiri. Anak-anak 10-14 tahun yang tidur hanya lima jam sehari dibandingkan mereka yang tidur sebelas jam memiliki penurunan fungsi kognitif dan berpikir abstrak yang signifikan.

Tidur dan gangguan mood juga banyak diteliti di kalangan ahli. Remaja depresi dikaitkan dengan tingginya gangguan tidur. Seperti lingkaran, masalah emosi membuat remaja sulit tidur dan akhirnya kurang tidur membuat mereka cepat marah dan memiliki mood negatif. Gangguan mood dan motivasi membuat mereka lebih stres lagi di sekolah dan akhirnya makin susah tidur.
Orang tua dengan anak-anak hiperaktif (Attention-Deficit/Hiperactivity Disorder) banyak melaporkan anaknya memiliki masalah tidur. Dicurigai adanya efek pengobatan dan gangguan pengaturan bangun dan tidur di otak. Sebaliknya, anak yang kurang tidur juga banyak yang menunjukkan gejala hiperaktif.

Hati-hati penyebab lain

Selain karena kurang tidur, anak yang sering mengantuk bisa disebabkan oleh:
  • Narkolepsi. Biasanya dimulai saat remaja. Anak tiba-tiba mengantuk siang hari dan akhirnya tidur disertai tubuh seperti lumpuh.
  • Gangguan bernapas saat tidur. Kebanyakan penyebab adalah amandel yang besar dan kegemukan. Gejalanya anak mengorok keras, seringkali berhenti bernapas dan terbangun seperti tersedak, serta sering mengantuk.
  • Periodic limb movement during sleep. Ada anak yang kakinya bergerak-gerak saat tidur. Biasanya berhenti setelah 2 detik dan muncul di awal fase tidur tiap 5 hingga 90 detik. Kelainan ini disebabkan gangguan tidur yang tak disadari dan mengakibatkan anak mengantuk terus, atau mencetuskan anak untuk bangun dan tak bisa tidur lagi.
  • Insomnia dan gangguan irama sirkadian. Paling banyak dikeluhkan anak remaja yaitu sulit jatuh tidur dan sulit bangun pagi. Cirinya, anak sering absen atau terlambat sekolah karena tak mampu bangun meskipun sudah dibangunkan orang tua. Jika di kelas, ia akan tertidur, nilainya jelek, dan sering dicap bermasalah. Keluhan akan berkurang jika anak dibiarkan tidur dan masuk sekolah siang.
  • Efek pengobatan. Obat untuk anak hiperaktif, obat depresi, hingga obat batuk pilek bisa menyebabkan kantuk. Kopi, teh, softdrinks yang mengandung kafein bisa menyebabkan anak sulit tidur hingga siangnya mereka mengantuk dan malamnya membutuhkan lebih banyak kafein.

Jenis Terapi

Terapi untuk anak yang selalu mengantuk tergantung dari penyebabnya, bisa berupa terapi sikap dan perilaku, terapi cahaya, dengan obat, dan lain-lain. Terapi cahaya diduga dapat memperbaiki irama sirkadian anak. Prinsipnya, cahaya terang secara teratur tiap pagi akan memperbaiki pola tidur anak hingga tak mengantuk lagi, namun hasilnya masih meragukan. Memberi pemahaman pada anak tentang pentingnya cukup tidur dan prestasi di sekolah dapat memotivasi untuk menjadwal tidurnya, terutama saat beranjak puber. Selain itu, mengatur jadwal ujian lebih siang untuk remaja perlu pula dipikirkan.

Apakah anakku punya gangguan tidur?

  1. Gangguan waktu tidur (Apakah anak sulit jatuh tertidur meskipun sudah waktunya tidur atau sudah di tempat tidur?)
  2. Mengantuk berlebihan di siang hari (Apakah anak mengantuk di siang hari? Di sekolah? Saat berkendaraan/menyetir?)
  3. Gangguan bangun di malam hari (Apakah anak sering bangun di malam hari?)
  4. Gangguan jumlah dan keteraturan tidur (Jam berapa biasanya anak tertidur pada jadwal sekolah? Di akhir pekan? Berapa jam tidur dalam semalam?)
  5. Gangguan bernapas saat tidur (Apakah anak mengorok tiap tidur?)

Apa yang bisa dilakukan?

  1. Buatlah harapan dan target yang sesuai bagi si anak.
  2. Aturlah waktu bangun pagi dan konsisten pada waktu tersebut. Cara ini paling baik untuk memperbaiki pola tidur-bangun si anak.
  3. Atur waktu tidur dan paksa anak mematuhi jadwal tidur malam dengan beberapa fleksibilitas tergantung aktivitas keluarga dan disesuaikan dengan usia anak.
  4. Biasakan melakukan ritual sebelum naik ke tempat tidur agar tidur lebih mudah.
  5. Hindari aktivitas berlebihan 1 hingga 2 jam sebelum waktu tidur.
  6. Hindari minuman berlebihan di malam hari, terutama makanan, minuman, dan obat yang mengandung alkohol atau kafein. Obat tersebut diberikan beberapa jam sebelum waktu tidur.
  7. Siapkan lingkungan tidur yang sepi dan gelap tanpa televisi, telefon, radio, atau komputer (internet atau games).
  8. Pastikan suhu cukup dingin.
  9. Pastikan anak dapat tidur tanpa bantuan siapapun atau apapun, misalnya harus ditemani orang tua atau televisi
  10. Tidur yang baik adalah tidur yang cukup dan tidak berlebihan sesuai usianya.
  11. Jumlah jam tidur siang harus disesuaikan dengan perkembangan anak agar anak tetap dapat tidur malam hari.

Referensi:

  1. American Academy of pediatrics. Millman, RP. Excesssive Sleepiness in adolescents and young adults: causes, consequences, and treatment strategies. Pediatrics 115: 6(2005): 1774-83
  2. The Pediatric Clinic of North America. Glaze DG. Childhood insomnia: why Chris can’t sleep. Pediatr Clin N Am 51 (2004): 33-50
  3. Hansen, M, Janssen, I, Schiff A, CZ Phyllis, Dubocovich ML. The Impact of School daily schedule on adolescent sleep. Pediatrics 115: 6(2005): 1555-61

Bersumber dari : www.anakku.net

Selasa, 15 November 2011

Air Susu Ibu cegah Infeksi Neonatus

Berdasarkan laporan WHO tahun 2000, hanya15% bayi diberi ASI eksklusif selama 4 bulan, dan pemberian makanan pendamping ASI seringkali tidak sesuai dan tidak aman.
Sejak tahun 1982 literatur medis telah mendata bahwa air susu tiap mamalia termasuk manusia punya daya proteksi terhadap turunannya karena mengandung antibodi terhadap berbagai antigen. Bayi yang tidak pernah mendapat ASI dua kali lebih sering masuk rumah sakit dibanding yang dapat ASI. Banyak penelitian memperlihatkan ASI mengandung antibodi terhadap berbagai bakteri, virus, dan protozoa.

Faktor Protektif ASI

Sistem imunologi neonatus belum terbentuk sempurna, hingga pemberian ASI memegang peranan penting untuk mencegah infeksi. Immunoglobulin utama dalam ASI adalah IgA sebagai respon dari limfosit usus hingga mencerminkan antigen enterik dan respiratorik ibu.
Air susu ibu juga mengandung faktor non imunologik, ,yang berperan sebagai faktor protektif serta menunjang pertumbuhan dan pematangan sistem imun dan metabolik. ASI juga mengandung berbagai komponen anti inflamasi, hormon (insulin, tiroksin, dan faktor pertumbuhan saraf) yang tak terdapat dalam susu formula.
Berbagai penelitian epidemiologik menunjukkan ASI pada bayi punya keuntungan terhadap kesehatan pada umumnya, pertumbuhan, perkembangan, dan pengurangan risiko terkena penyakit akut dan kronik. ASI mengurangi kejadian dan atau beratnya diare, infeksi paru bagian bawah, otitis media, sepsis, meningitis bakterialis, botulismus, infeksi saluran urogenitalis, dan enterokolitis nekrotikans. Seperti dilaporkan, hampir 90% kematian balita terjadi di negara berkembang dan lebih dari 40% kematian disebabkan diare dan ISPA, penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian ASI eksklusif.

Zat protektif ASI

Komponen Selular

Sel dalam ASI misalnya makrofag, limfosit, neutrofil, dan sel epitel, berjumlah sekitar 4000/mm3. Jumlah ini akan cepat menurun setelah 2-3 bulan. Leukosit ASI terutama terdiri dari makrofag (90%) dibandingkan dengan neutrofil dan limfosit
Makrofag
Makrofag adalah sel fagosit besar yang mengandung lisosom, mitokondria, pinosom, dan aparat Golgi. Fungsi makrofag adalah memfagositosis mikroorganisme bakteri dan jamur, membuat C3 dan C4, lisosom, dan laktoferin, membantu pelepasan IgA intraselular ke jaringan, membentuk sel raksasa, meningkatkan aktivitas limfosit, membantu pengangkutan dan penyimpanan imunoglobulin, dan berpartisipasi dalam pembentukan laktoperidase; suatu faktor pertumbuhan sel epitel usus dan maturasi enzim dalam brush border usus
Leukosit polimorfonuklear (PMN)
Kolostrum (hari 1-4 postpartum) mengandung 5 juta leukosit/mm3 dan 40-60% diantaranya adalah PMN yang makin menurun seiring maturnya ASI. Fungsi PMN terutama proteksi jaringan kelenjar mama dan bukan untuk proteksi neonatus.
Limfosit
Limfosit T dan B merupakan bagian sistem imun ASI yang terdapat dalam kolostrum dan ASI matur. Fungsi limfosit antara lain Mensintesis IgA, merespon mitogen dengan cara berproliferasi, meningkatkan interaksi makrofag-limfosit, dan melepaskan mediator-mediator,
Di dalam ASI, sel B termasuk sel yang mengandung IgA, IgG, dan IgM Surface immunoglobulin. Orga dan Orga dalam penelitiannya melaporkan limfosit ASI akan berespon terhadap antigen rubela, sitomegalovirus, dan mumps. Kolostrum ibu juga berespon terhadap E.coli.

Komponen humoral

Komposisi imunoglobulin dalam ASI berbeda degan serum. ASI mengandung IgA jauh lebih tinggi daripada serum. IgA dan IgG dalam ASI sebagian berasal dari IgA dan IgG serum, sebagian lagi dari kelenjar payudara.
Imunoglobulin A dalam ASI terutama IgA sekretori yang stabil dalam pH rendah dan tahan terhadap enzim proteolitik. Fungsi sIgA ini adalah memproteksi mukosa usus terhadap virus dan bakteri, dan tetap ditemukan dalam ASI setelah satu tahun. Selain itu, faktor antibakterial dalam kolostrum dan ASI sama antara wanita dengan gizi baik maupun buruk.

Komponen non imunoglobulin

Faktor bifidus
Telah diketahui bahwa usus bayi mengandung laktobasilus bifidus yang merupakan bakteri baik usus, juga mengandung faktor bifidus yang menunjang pertumbuhan kuman baik ini yang tak ada dalam susu sapi.
Antistaphylococcal factor
Pada percobaan binatang dengan tikus yang diberi infeksi Staphylococcus dibuktikan ASI mengandung substansi yang dapat mencegah bayi dari infeksi Staphylococcus.
Lisozim
Lisozim adalah enzim yang memiliki sifat bakteriolitik, berada dalam konsentrasi tinggi dalam ASI tapi sangat rendah dalam susu sapi.Enzim ini bersifat bakteriolitik terhadap enterobaktericeae dan bakteri gram positif.
Nukleotid
Nukleotid adalah senyawa yang berasal dari hidrolisis asam nukleat. Nukleotid bekerja sebagai pertahanan terhadap berbagai bakteri, virus, dan parasit. Carver pada penelitiannya membuktikan bahwa aktivitas sel NK dan produksi IL 2 lebih tinggi pada bayi usia 2-4 bulan yang diberi ASI dan susu formula ditambahkan nukleotid dibandingkan formula tanpa tambahan nukleotid
Laktoferin
Laktoferin adalah protein yang dapat mengikat zat besi, mirip dengan transferin dalam serum. Laktoferin bersifat bakteriostatik terhadap berbagai bakteri gram positif, bakteri gram negatif baik aerob maupun anaerob , dan jamur, kecuali Helicobakcter pylori dan spesies Neisseria, Treponema, dan Shigella.
Laktoferin mengikat zat besi hingga bakteri tidak memperoleh zat besi untuk pertumbuhannya. Afinitas terhadap zat besi adalah 300 kali transferin. Laktoferin juga meningkatkan pelepasan sitokinin dari sel dan menekan pelepasan IL1, IL2 dan TNF alpha.
Interferon
Secara in vitro, diketahui interferon diproduksi oleh sel T dalam ASI. Fungsinya memang belum diketahui pasti, tapi interferon dapat meningkatkan fungsi makrofag dan menekan produksi IgE dan IL-10.
Komplemen
ASI mengandung komponen C3 dan C4 walau dalam jumlah sedikit. C3 teraktivasi oleh IgA dan IgE yang diketahui dapat merusak bakteri yang terikat pada antibodi spesifik.
Protein pengikat vitamin B12
ASI mengandung sejenis protein bermolekul besar yang mengikat vitamin B12. Secara tak langsung, protein ini menghambat pertumbuhan E.coli yang memerlukan vitamin B12.
Gangliosid
Gangliosid adalah glikolipid yang terdapat dalam plasma sel membran terutama di substansi kelabu otak. Gangliosid memblokir aktivitas enterotoksin E.coli dan Vibrio cholerae dan Campylobacter jejuni di usus dengan cara mengikat toksin dan membentuk kompleks stabil yang mencegah toksin terikat pada sel usus.
Interleukin
Interleukin berefek terhadap aktifasi dan diferensiasi limfosit, serta terhadap produksi berbagai sel lainnya.
Sitokin
Sitokin adalah salah satu substansi yang banyak diteliti akhir-akhir ini. Meski sudah lama diduga keberadaannya dan perannya terhadap imunologi serta proteksi ASI.

Simpulan

Bayi mendapat perlindungan dari ibu sejak kandungan. Saat janin, plasenta yang mengambil peran ini, tetapi setelah lahir ASI sudah siap menggantikannya. ASI mengandung banyak zat protektif berupa komponen selular, imunoglobulin dan non imunoglobulin yang memberikan proteksi terhadap bakteri, virus, jamur, dan protozoa. Sudah seharusnya semua bayi baru lahir diberikan ASI.

Referensi

  1. WHO 2000. Dalam: Kramer MS, Kakuma R, penyunting. The Optimal Duration of Exclusive Breast feeding a systematic Review. WHO/HHD/01.08
  2. Hanson LA. The Mammary Gland as an immunological organ. Immunol Today 1982; 3: 168
  3. Hamosh M. Bioactive Factors In Human Milk. Mammary Gland Biol Lactation Newslett. 2001; 48:69-86
  4. Aarifen S, Black RE, Antelman G, et al. Exclusive Breast feeding Reducves Acute Respiratory Infection and Diarhea Deaths among infants in Dhaka Slums. Pediatrics 2001; 108-67.
  5. Heine W, Braun OH, Mohr C. Enhancement of LysozymTrypsin mediated decay of intestinal bifidobacteria and lactolbacilli. J. Pediatr Gastroenterol Nutr 1995; 21: 54
Bersumber dari : www.anakku.net

Senin, 14 November 2011

Mengenal Cangkok Sumsum Tulang

Alternatif lain selain cangkok sumsum tulang untuk terapi bagi berbagai penyakit kelainan darah seperti talasemia atau pun leukemia. Seorang anak berkulit gelap, berbibir pucat, dengan dahi lebar dan tulang pipi menonjol tampak duduk gelisah menunggu panggilan suster. Perutnya yang besar agaknya membuat ia kesulitan bernapas. “Saya sedang mengantri untuk transfusi darah, seperti biasa”. Kata ibunya. Dengan ciri khas wajah seperti itu, bisa diduga ia menderita talasemia. Setelah dirunut, saudara dari ibunya pun ada yang harus ditransfusi terus-menerus karena penyakit keturunan ini. Obat memang masih terus dicari, dari cangkok sumsum tulang yang sampai saat ini masih menjadi satu-satunya harapan, hingga yang terbaru yang masih dalam penelitian, yakni terapi genetik.

Sumsum tulang (bone marrow) dan produksi darah

Sumsum berada di tulang panggul, dada, iga, tulang belakang, dan tengkorak. Di dalamnya terdapat sel-sel yang memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit yang berguna untuk penggumpalan darah. Sumsum tulang adalah pabrik darah. Setiap sel darah ini berawal dari stem cell (sel induk) yaitu sel yang bisa berkembang menjadi sel apa saja yang berfungsi normal. Sel stem adalah sel yang paling penting dalam cangkok sumsum tulang. Jika ditanam, sel stem ini akan masuk ke sumsum dan diarahkan oleh rangsangan hormon pembentuk sel darah tertentu menjadi sel darah yang diperlukan tubuh.

Penyakit-penyakit akibat kelainan darah dan terapinya

Talasemia, anemia aplastik, ataupun leukemia adalah beberapa penyakit kelainan darah yang dapat diterapi lewat cangkok sumsum tulang ataupun sel induk darah tali pusat. Talasemia masih menjadi penyakit darah keturunan yang terbanyak di Indonesia dan belum ada obatnya kecuali cangkok. Penyakit ini disebabkan salah satu gen-nya bermutasi di duga “tertutup” sehingga fungsinya terganggu.
Gen yang bermutasi ternyata merupakan gen yang bertanggung jawab membentuk rantai globin yang merupakan bagian penting dari hemoglobin yang merupakan isi sel darah merah. Akibatnya sel darah merah tidak berfungsi baik dan berumur pendek. Karena talasemia merupakan kelainan genetika, terapi terbaik adalah mengembalikan bagian gen yang bermutasi ini dengan “switch on gene”. Saat ini sedang dicari cara untuk memperbaiki dengan rekayasa genetika. Selama obat ini belum ditemukan, alternatif penyembuhan adalah lewat cangkok sumsum tulang atau dengan cangkok sel induk darah tali pusat. Diharapkan dengan mengganti “pabriknya”, sel yang semula secara genetik rusak akan digantikan dengan yang sehat.
Sedangkan anemia aplastik adalah penyakit kelainan darah yang ditandai berkurangnya produksi semua sel darah. Gejalanya anak akan pucat sekali, sering berdarah, dan sering sakit. Bila dengan terapi obat anak tidak juga sembuh, terapinya lagi-lagi cangkok sumsum tulang atau dengan cangkok sel induk darah tali pusat. Dengan mengganti “pabriknya” diharapkan produksi darah bisa kembali normal. Sementara leukemia atau kanker darah merupakan keganasan terbanyak yang menyerang anak, cangkok stem cell menjadi salah satu pilihan untuk kesembuhannya.

Cangkok sumsum tulang bukan tanpa risiko

Karena yang bermasalah adalah sel darah, maka yang dicangkokkan adalah sel darah. Seorang anak harus menjalani “pengosongan” sumsum tulang, agar sel sumsum tulang yang dimasukkan dapat tumbuh leluasa. Setelah itu, barulah dilakukan cangkok sel stem. Selama proses itu yang masih membutuhkan waktu cukup lama—paling tidak 1-2 bulan—anak rentan terhadap infeksi, perdarahan, hingga kegagalan proses cangkok yang disebabkan tubuh menolak sel yang ditanam. Meski masih menjadi alternatif penyembuhan beberapa kelainan darah, dalam beberapa hal, cangkok sumsum tulang memang perlu banyak pertimbangan—khususnya dalam hal biaya.

Sel induk darah tali pusat (stem cell)

Sel ini bisa diambil dari si anak sendiri ataupun dari donor dengan tipe jaringan sama, bisa saudara sekandung, orangtua, atau orang lain. Stem cell dapat diperoleh dari tali pusat bayi begitu dilahirkan. Stem cell yang diambil dari darah tali pusat pada saat kelahiran lebih cepat dan lebih efektif dibandingkan sel stem yang diambil dari anak lain atau orang dewasa. Selain itu, sel ini belum mengandung sel limfosit T yang kerap mencetuskan kegagalan cangkok sumsum tulang. Sel stem yang diambil dengan cara ini dianggap paling aman. Keunggulan lain dari terapi stem cell jenis ini, selain tingkat kecocokan yang lebih besar juga proses transplant yang lebih cepat dan tidak menyakitkan dibandingkan dengan cangkok sumsum tulang.

Manfaat cangkok sumsum tulang

  • Pada pasien anemia aplastik, talasemia, dan leukemia. Stem cell dan sumsum tulang dapat menggantikan sumsum tulang yang tidak berfungsi dan berpenyakit dengan sumsum tulang yang sehat.
  • Pada kasus tertentu, misalnya limfoma, neuroblastoma (tumor saraf) yang sulit diobati, dapat dipertimbangkan transplantasi sel induk darah tali pusat (stem cell).
  • Mengganti sumsum tulang yang rusak secara genetika.

Alternatif terapi penyakit kelainan darah

Cangkok sumsum tulang (bone marrow transplant).
Diambil dari sumsum tulang orang dewasa. Bersifat mature yang mana tidak dapat berkembang menjadi apa saja. Sel ini mengandung sel limfosit T yang dalam beberapa kasus dapat memicu kegagalan transplant.
Cangkok sel induk darah tali pusat (stem cell transplant).
Diambil dari tali pusat bayi pada saat proses kelahiran. Sel induk ini dapat berkembang menjadi sel apa saja yang dibutuhkan tubuh dan dapat berfungsi normal.

Referensi:

  1. David G. Nathan and Stuart H. Orkin: Hematology of Infancy and Childhood. Fifth ed. WB Saunders Company. 1998.
  2. P.A. Voute, C. Kalifa, and A. Barrett: Cancer in Children Clinical Management. Fourth ed. Oxford Medical Publications. 1998.
  3. Philip A. Pizzo and David G. Poplack: Principles and Practice of Pediatric Oncology. Fourth ed. 2002.
Bersumber dari : anakku.net

Minggu, 13 November 2011

Cara Jitu Atasi Demam

Demam bak tamu yang tak diundang, bayi dan anak-anak menjadi sasarannya. Daripada kawatir yang berlebihan, lebih baik ketahui bagaimana cara menghadapi demam.

Demam merupakan pertanda tubuh sedang berperang melawan infeksi, entah infeksi bakteri atau virus. Begitu ada infeksi, pengatur suhu tubuh yang ada di dalam otka menaikkan setting suhu tubuh, untuk menghambat masuknya infeksi tersebut. Namun, karena suhu tubuh meningkat, anak pun menjadi tidak nyaman, keinginan untuk makan, minum, tidur, dan bermain pun terganggu.

Obat Penurun Demam

Untuk mengatasi hal ni, solusinya adalah memberikan obat penurun demam, yang dapat menurunkan suhu tubuh tanpa mengganggu kemampuan tubuh dalam melawan infeksi. Obat-obatan ini, memberi sinyal kepada otak untuk menurunkan setting suhu tubuh, meski tidak berarti harus segera turun ke suhu normalnya. Setelah suhu tubuh menurun, anak pun akan lebih merasa nyaman, sehingga ia pun mau makan, minum, dan tidur.
Asetaminofen atau parasetamol merupakan obat yang bersifat analgesik (meredakan sakit) serta antipiretik (menurunkan demam), yang paling umum digunakan untuk menurunkan demam anak. Obat ini aman bagi anak dan tidak mengakibatkan efek samping yang berbeda seperti yang terjadi pada orangtua.
Asetaminofen tidak menyebabkan gangguan lambung, namun pada dosis yang besar, sekitar 15 kali dosis yang direkomendasikan dapat menyebabkan kerusakan organ hati dan ginjal. Mungkin itu sebabnya asetaminofen untuk bayi dan anak-anak dijual dalam kemasan kecil. Umumnya obat flu dan batuk juga mengandung asetaminofen, sehingga perlu mengecek pemakaian obat-obat ini sebelum mengonsumsi obat demam agar tidak overdosis.
Jika demam tidak turun dalam 1 jam setelah pemberian asetaminofen, Anda bisa menggantinya dengan obat yang berbahan aktif berbeda, misalnya ibuprofen. Asetaminofen dan ibuprofen mempunyai struktur kimia dan efek samping yang berbeda. Namun keduanya sama-sama efektif dalam meredakan rasa sakit maupun demam.

Asetaminofen, Ibuprofen, atau Aspirin?

Selama beberapa tahun, asetaminofen digunakan sebagai pilihan pertama untuk menggantikan aspirin dalam meredakan rasa sakit. Lalu sekitar 10 tahun yang lalu, ibuprofen dalam bentuk sirup mulai diperkenalkan dan dijual bebas, dan banyak dokter anak mulai merekomendasikan penggunaannya karena daya penurun demam yang lebih kuat dan efeknya lebih lama. Satu-satunya kekurangan ibuprofen ini adalah bisa mengiritasi lambung, meski ini jarang terjadi pada anak. Oleh karena itu, ibuprofen diberikan sesudah makan.
Sebenarnya masih ada obat penurun panas yang juga sama efektifnya, yakni aspirin atau asetil salisilat. Selain dapat menurunkan demam dan mengurangi rasa sakit, aspirin juga dapat mengurangi pembengkakan sendi akibat artritis, dan mengencerkan darah. Namun, dari berbagai kepustakaan, anak-anak dan remaja tidak boleh minum aspirin atau obat lain yang mengandung salisilat. Apalagi jika demam itu akibat cacar air atau flu, atau anak sedang dalam masa pemulihan akibat terkena kedua penyakit ini. Aspirin membuat anak lebih rentan terkena Reye’s Syndromme, gangguan yang jarang terjadi namun bisa menyebabkan kematian.
Jadi, Anda dapat memberikan obat demam yang berbahan aktif asetaminofen atau ibuprofen. Namun, konsultasikanlah ke dokter bila Anda tidak yakin. Paling penting, baca label obatnya, dan beri dosis yang tepat pada jangka waktu yang tepat. Jangan memberikan obat demam lebih dari yang dianjurkan.

Tips Memberi Obat yang Tepat

  • Anda dapat memberikan asetaminofen setiap 4 jam sekali dan ibuprofen setiap 6 jam sekali.
  • Anak dibawah 12 tahun, tidak boleh mengonsumsi asetaminofen lebih dari 5 kali dalam sehari. Sedangkan anak dibawah usia 2 tahun, tidak boleh diberi obat bebas apapun, tanpa izin dokter.
  • Meskipun demam merupakan proses tumbuh kembang, orangtua harus tetap tahu kapan mesti menghubungi dokter. Untuk bayi dibawah 3 bulan, hubungi dokter jika suhu tubuhnya diatas 38 derajat Celsius.
  • Untuk bayi berusia 3 – 6 bulan, hubungi dokter jika suhu tubuh anak di atas 38,3 derajat Celsius.
  • Untuk bayi diatas 6 bulan, segera hubungi dokter jika suhu tubuhnya diatas 40 derajat Celsius.
 Referensi:
  1. John CC, Gilsdori JR. Recurrent fever in children. Pediatr Infect Dis J 2002;21:07-80
  2. American College of Emergency Physicians Clinical Policies Commitee. Clinical policy for children younger than three years presenting to the emergency department with fever. Ann Emerg Med 2003;42:530-45

Bersumber dari : www.anakku.net

Kamis, 10 November 2011

Kapan Demam Perlu Diwaspadai?

“Suhunya 390C…” mata Siane memelototi termometer di tangannya. Dengan terheran-heran Siane memandang Salwa, anaknya yang berusia 2 tahun sedang asyik bermain dengan puzzle-nya. Anak ini suhu tubuhnya seperti kompor, tapi kok masih bisa bermain?
 
Begitu anak demam kita diliputi pertanyaan, apakah demamnya membahayakan?
 
Ketahui dulu penyebabnya.
 
Jangan heran, anak yang demam tak selalu tampak lesu, tak bergairah, atau loyo, seringkali mereka masih bermain seperti biasa. Jika pun Anda pergi ke dokter, belum tentu Anda diberi obat selain obat penurun panas karena pengobatan ideal adalah menghilangkan penyebab demam, sementara tak semua demam bisa begitu mudah diketahui penyebabnya. Demam jenis ini disebut demam tanpa penyebab yang jelas atau fever without source, dan cukup sering
terjadi. Bila penyebabnya saja tidak diketahui, bagaimana bisa tahu demam ini berbahaya atau tidak?

Tampilan tak menipu

Ternyata tampilan anak saat demam—apakah loyo atau masih bermain—bisa menjadi pertimbangan apakah demam si buah hati berbahaya atau tidak. Sebuah pedoman praktis yang diadaptasi dari RS Cincinnati Children’s Hospital Medical Center membagi tampilan
anak demam menjadi tiga:

- Tampilan baik:

oAnak masih bisa tersenyum, tidak gelisah, mau makan, menangis kuat namun dapat dibujuk
oTidak ada tanda-tanda kekurangan cairan
oUjung kaki dan tangan kemerahan dan hangat
oTidak ada kesulitan bernapas
 
-Tampilan sakit:
 
oMeski masih bisa tersenyum, tapi tampak gelisah dan menangis, kurang aktif bermain, nafsu makan kurang
oKekurangan cairan derajat ringan atau sedang
oAliran darah tepi masih baik ditandai dengan tangan dan kaki hangat, kulit masih kemerahan, bila ujung jari ditekan, tampak cepat memerah kembali.
 
-Tampilan toksik
   
      anak tampak lemah, tidak ada kontak mata, gagal mengenal orangtua atau tak bisa berinteraksi, ada gangguan pernapasan, bibir atau kulit kebiruan, merupakan tampilan yang paling berat. 
 
Makin berat tampilan anak saat demam, Anda perlu memikirkan kemungkinan anak sakit serius yang disebabkan bakteri hingga memerlukan pengobatan lebih lanjut. Anak dengan tampilan baik berisiko kurang dari 3 persen untuk menderita infeksi bakteri serius, sedangkan tampilan sakit 26 persen, dan tampilan toksik 92 persen.
Pada bayi kecil, beberapa ahli menggunakan kriteria Rochester untuk memperkirakan apakah demam berisiko rendah atau tidak untuk menjadi bahaya.

Kriteria Rochester yang dimodifikasi

Bayi demam berisiko rendah apabila:
-Tampilan anak baik, sebelumnya sehat
-Tidak ada infeksi jaringan lunak, tulang, atau telinga
-Laboratorium normal
* Angka sel darah putih (leukosit) 5000-15000/mm3
* Hitung leukosit jenis batang kurang dari 1500/mm3
* Angka leukosit di urin kurang dari 10/LPB
* Angka leukosit di tinja kurang dari 25/LPB pada kasus diare
 
Salah satu pemeriksaan laboratorium, yaitu CRP (C-Reactive Protein) juga dapat memperkirakan apakah bayi kecil berisiko infeksi bakteri. Makin tinggi CRP, makin besar kemungkinan infeksi bakteri serius.

Cari kemungkinan sumber infeksi

Untuk memperkirakan penyebab demam anak, carilah gejala lain seperti telinga yang sakit akibat radang telinga, batuk karena pneumonia, muntah pada radang saluran cerna, atau nyeri saat kencing karena infeksi saluran kemih.
“Salah satu penyebab terbanyak infeksi bakteri serius pada demam yang sulit dideteksi adalah kuman pneumokok yang bisa dicegah dengan vaksin”

Kenali istilah ini

Demam :
Ketika temperatur rektal (anus) > 380C; namun lewat perabaan tangan cukup sensitif untuk
menyatakan demam pada anak.
 
Demam tanpa penyebab yang jelas
gejala demam yang akut (kurang dari tujuh hari) dengan penyebab tidak jelas berdasar hasil pemeriksaan dokter secara teliti (berdasar tanya jawab mau pun pemeriksaan badan)

Referensi:

  1. Abney KL, Smith RE,. Practice Guidelines: Managing Fever of unknown source in infants
    and children. J of Pediatr Health Care 1996;10:135-8
  2. Kourtis AP, Sullivan DT, Sathian U. Practice Guidelines or the management of febrile
    infants less than 90 days of age at the ambulatory network of a large pediatric
    health care system in the united states: Summary of new evidence. Clinical
    Pediatrics 2004;43(1):11-16

Bersumber dari : www.anakku.net

Rabu, 09 November 2011

Mungkinkah Anak Sakit Maag?

Tak hanya pada orang dewasa, si kecil pun dapat menderita sakit maag.
Sakit maag atau sakit lambung bisa menyerang setiap umur, bayi kecil sekalipun. Namun, proses terjadinya bisa berbeda-beda. Tidak semua sakit maag disebabkan kebiasaan makan yang tak teratur ataupun stres. Terutama di negara berkembang, juga perlu dipertimbangkan sakit maag akibat infeksi kuman Helicobacter pylori.

Dari salah minum obat hingga kuman

Sakit maag disebabkan reaksi radang di lambung yang muncul karena tidak seimbangnya faktor perlindungan dengan faktor luar. Normalnya, dinding lambung selalu terlindungi, tetapi adanya peningkatan asam, rusaknya pembuluh darah lambung, minum obat tertentu, alkohol, rokok, zat korosif, hingga stres emosional bisa merusak keseimbangan itu dan menimbulkan sakit maag. Bayi-bayi yang sakit keras bisa menderita sakit maag karena stres fisiknya.
Baru pada tahun 1982, ditemukan kuman Helicobacter pylori yang dihubungkan dengan sakit maag. Kuman ini bisa menginfeksi lambung anak tanpa gejala yang jelas. Selain lambung, bagian usus yang lain (duodenum) juga bisa terkena. Sebagian besar anak pengidap kuman ini tidak bergejala hingga sepanjang hidupnya.

Sakit maag yang bisa menular

Penularan kuman H. pylori belumlah jelas, diduga kuman yang berasal dari orang lain tertelan, masuk ke lambung, dan berkembang biak di sana. Lingkungan yang padat dengan sosial ekonomi rendah dianggap faktor risiko.
Orang tua yang terinfeksi terutama ibu juga memegang peranan. Sekitar 30-80%
anak di negara berkembang diduga mengidap H.pylori. Suatu penelitian pada 150 anak sekolah dasar di Jakarta, 27% dan 90%nya positif ditemukan H. pylori.

Aduh Bu, sakit perut…

Pada orang dewasa, gejala sakit lambung cukup khas yaitu nyeri di daerah ulu hati atau perut kiri bagian atas sesuai letak organ tersebut. Tapi, pada anak tidaklah demikian.
  • Sakit maag pada anak ditandai dengan keluhan sakit perut. Sakit biasanya tumpul dan tidak jelas. Pada anak pra sekolah, sakit terutama di sekitar pusar dan makin parah jika anak makan. Sedangkan setelah anak usia 6 tahun, gejala sakitnya mirip dengan orang dewasa.
  • Muntah berulang bisa terjadi terutama pada anak pra sekolah atau usia sekolah.
  • Perdarahan saluran cerna (ada darah dalam muntahan atau di feses) hingga kebocoran usus akibat luka di lambung bisa terjadi terutama pada bayi kecil yang sedang sakit keras
Secara klinis, sulit membedakan sakit maag yang disebabkan kuman atau bukan. Sakit perut berulang, oleh sebagian ahli, dianggap sebagai gejala yang berhubungan dengan H. pylori. Sekitar 22-37% anak dengan gejala ini terbukti terinfeksi H. pylori. Keluhan lain yang sering disampaikan anak pengidap H. pylori adalah nyeri ulu hati, terbangun malam hari, dan sering muntah. Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah gangguan penyerapan usus disertai berat badan menurun, gangguan pertumbuhan, anemia defisiensi besi, diare berulang, dan kurang gizi.

Kuman bisa dideteksi

Pada semua anak dengan gejala sakit maag, dianjurkan tes H. pylori lewat pemeriksaan sederhana yang tidak menyakitkan. Pemeriksaan lebih kompleks hanya dilakukan pada anak
dengan gejala kuat untuk selanjutnya akan diobati.
Saat ini berbagai pusat kesehatan sudah menyediakan tes untuk kuman H. pylori. Bila tes positif, dapat dilanjutkan dengan peneropongan ke lambung (endoskopi). Tindakan ini
direkomendasikan untuk anak dengan kecurigaan kelainan di lambung dan jika nanti ditemukan H. pylory, haruslah segera diterapi.
Endoskopi juga dilakukan untuk melakukan tes lainnya yaitu biopsi, membiak kuman, dan lain-lain. Kombinasi pemeriksaan akan meningkatkan kepastian diagnosis infeksi kuman tersebut agar bisa diobati dengan sebaik-baiknya.

Skrining dengan uji urea napas

Uji skrining atau tes yang dianggap paling akurat dan sederhana adalah uji napas urea. Anak diminta meminum sejumlah urea yang sudah diberi tanda zat radioaktif. Urea ini akan dimetabolisme oleh H. pylori dan dikeluarkan menjadi karbondioksida. Jika anak positif terinfeksi, akan ditemukan karbondioksida yang punya tanda radioaktif di udara napas si anak. Karena menggunakan zat radioaktif, pemeriksaan ini memang kurang disukai untuk anak-anak. Tetapi saat ini sudah ditemukan zat petanda lain yang tidak bersifat radioaktifdengan harga yang lebih mahal.

Tak sembarang mengobati

Bila memang ada kuman, pengobatan sakit maag haruslah mencakup antibiotika yang dapat membasmi H. pylori.
Karena kuman dapat berubah menjadi tidak mempan, digunakan kombinasi dua antibiotika. Anak dinyatakan sembuh apabila setelah pengobatan tersebut, tidak ditemukan lagi kuman di lambungnya.
Apakah anak bisa terinfeksi lagi? Ternyata infeksi kuman berulang pada anak lebih tinggi angkanya dibandingkan dewasa. Seringkali dikaitkan dengan pengobatan yang kurang optimal.

Bisa dicegah

Karena tingginya angka infeksi kuman H. pylori sebagai penyebab sakit maag kronis ataupun luka lambung pada anak, kita perlu waspada bila anak menunjukkan gejala sakit maag. Dengan perbaikan kebersihan lingkungan dan memutus rantai penularan, infeksi ini dapat dihindari.  
 
Referensi:
  1. Bourke B, Jones N, Sherman P. Helicobacter pylori infection and peptic ulcer disease in children. Pediatr infect Dis J 1996:1-13
  2. Vandenplas Y, Hegar B. Helicobacter pylori infection. Acta Paediatr Tw 1999;40:212-24
  3. Drumm B, Koletzko S, Oderda G. Helicobacter pylori infection in children: a consensus statement. J Pediatr Gastroenterol Nutr 1999;28:296-300

Bersumber dari : www.anakku.net