Kamis, 13 Oktober 2011

Rumah Bali Memiliki Pagar Dan Gapura Yang Khas

Inilah istimewanya rumah khas bali. Biasanya pagarnya terbuat dari tembok batu atau bata merah. Di dalam pagar tersebut masih disekat-sekat lagi antar bangunan. Sehingga yang namanya Landscape atau tata ruang luar merupakan hal penting dalam rumah Bali.

Kontraktor bangunan bisa menyediakan pembangunan model ini. Mereka tinggal menyuruh Arsitek untuk medesainnya berdasarkan pakem rumah khas Bali. Dan itupun ada banyak petunjuk dan contohnya di buku-buku abik nasional maupun internasional. Sementara itu Konsultan Bangunan bisa kita ajak diskusi untuk memperhitungkan anggarannya yang pas sehingga mutunya tetap terjamin namun harganya pantas.

Di desa-desa di Bali rumah rakyat kecil pun juga demikian desainnya. Hanya saja banyak yang pagarnya tidak mahal sehingga terbuat dari batu bata yang direkatkan dengan tanah liat yang bagus. Namun yang utama adalah pintu gerbangnya. Semuanya sama memiliki gapura yang terbuat dari pintu kayu kembar dan tinggi serta berukir.

Ukiran itulah yang sangat bermutu dan menarik hingga dibeli oleh bangsa asing. Bahkan banyak rumah di luar negeri yang juga dibangun dengan gaya Bali seperti ini. Hal itu karena desain gaya Bali sangat serasi dengan lingkungan dan menciptakan suasana yang asri dan damai. Ornamen ukiran pada pintu kayu tersebut biasanya dinamakan dengan Janggutan.

Rabu, 12 Oktober 2011

Jangan Abaikan Sibling ABK

Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah mereka yang menderita cacat fisik, keterbelakangan mental, cerebral palsy, gangguan pemusatan perhatian, autis, kesulitan belajar, dan epilepsi. Umumnya mereka butuh perhatian lebih dari orangtua dan juga saudara yang lain. Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah mereka yang menderita cacat fisik, keterbelakangan mental, cerebral palsy, gangguan pemusatan perhatian, autis, kesulitan belajar, dan epilepsi. Umumnya mereka butuh perhatian lebih dari orangtua dan juga saudara yang lain. Sementara saudara sekandung (sibling) ABK seringkali tersisihkan dalam hal perhatian.
 
Stres yang dirasakan oleh sibling biasanya lebih tinggi, bukan saja karena tingkah laku ABK, tetapi juga perbedaan pola pengasuhan orangtua dan adanya tanggung jawab tambahan. Biasanya perhatian orangtua tersedot ke ABK, dan kebutuhan sibling terabaikan. Contoh sederhana, ketika ABK dapat berkata “Papa mama”, dia mendapat pujian, sedangkan bila sibling berprestasi, orangtua menganggapnya sebagai hal biasa.
Sesungguhnya, sibling ABK juga akan memiliki pengalaman, kebutuhan, dan perasaan yang khusus dibandingkan teman sebaya mereka pada umumnya.

Orangtua perlu menyadari kebutuhan, pemikiran, perasaan dari sibling agar dapat membantu mereka menyesuaikan diri dengan baik, di rumah maupun di sekolah.

Bagaimana perasaan anak yang memiliki saudara kandung dengan kebutuhan khusus?
  • Perasaan malu
Rasa malu sering dialami sibling akibat penampilan fisik ABK yang tidak normal (menggunakan kursi roda, cacat fisik) atau tingkah laku yang ‘aneh’ (bersuara tidak biasa, bicara memalukan). Belum lagi berbagai komentar negatif dari teman di sekolah atau anggota keluarga. Hal ini bisa membuat sibling menarik diri dari pergaulan.
  • Merasa bersalah
Sebagian sibling merasa bersalah karena merasa bahwa merekalah penyebab kakak/adiknya mengalami gangguan. Mereka kadang juga merasa bersalah karena normal, sementara ABK sering berobat, sulit bicara, memiliki keterbatasan, kurang pandai di sekolah. Pada anak yang beranjak dewasa, ada rasa bersalah bila meninggalkan rumah untuk kuliah atau bila tidak ikut merawat ABK.
  • Merasa sendirian, kurang perhatian, dan kesepian
Sibling seringkali merasa terisolasi, tidak ada yang bisa memahami perasaannya, dan tidak ada teman lain yang senasib. Umumnya sibling enggan mengajak teman-temannya bermain ke rumah karena malu memiliki kakak/adik yang berperilaku ‘aneh’. Bila dalam keluarga hanya terdapat 2 anak maka sibling sangat berharap memiliki kakak/adik yang bisa diajak ngobrol.
  • Marah dan kesal
Ini bersumber dari perlakuan orangtua yang dirasakan tidak adil. Mereka harus mengikuti aturan, mendapat tanggungjawab tambahan, kurang diperhatian. Sementara ABK cenderung dimanja dan amat diperhatikan. Sibling sering kesal bila barang-barangnya dirusak akibat agresifitas dari ABK. Kadang-kadang sibling marah kepada orang-orang yang menertawakan ABK, bahkan kepada Tuhan karena tidak memberi adik/kakak yang normal.
  • Cemburu dan iri
Sibling merasa perlakukan dan perhatian orangtua cenderung berat sebelah, kadang sibling ingin menjadi ABK demi memperoleh perhatian dan tidak dituntut terlalu tinggi. Mereka merasa sudah berprestasi namun kurang mendapat pujian dan penghargaan dari orangtua.
  • Khawatir dan cemas
Kurangnya informasi tentang ABK, tanggung jawab berlebihan, tidak bisa memenuhi tuntutan orangtua, sampai membayangkan masa depan ABK membuat sibling diliputi kekhawatiran. Kecemasan berlebihan dapat muncul dalam bentuk simptom fisik, prestasi tidak optimal, menarik diri, tingkah laku agresif.

Berikan informasi yang tepat

Sibling amat membutuhkan informasi yang tepat mengenai masalah pada ABK, karenanya berikan penjelasan sesuai dengan usia dan pemahaman anak. Jangan menutup kondisi anak atau memberikan informasi yang tidak tepat. Bila orangtua bersikap terbuka dan bisa menerima kondisi ABK, proses penerimaan pada sibling juga lebih cepat.

Waktu khusus

Bila Anda selama ini banyak meluangkan waktu untuk ABK, luangkan waktu khusus bersama sibling sehingga kegiatan yang dilakukan tidak terganggu. Ciptakan suasana di mana sibling merasa bahwa dirinya juga istimewa dan memperoleh perhatian penuh dari orangtua.

Tanggung jawab yang sesuai

Tanpa disadari orangtua sering memberi tanggung jawab berlebih pada sibling—terutama kakak/adik perempuan. Beri tanggung jawab secara bertahap sesuai usia sibling (bandingkan dengan teman sebayanya) dan beri kesempatan bagi sibling untuk memilih tugasnya. Jangan lupa, ungkapkan penghargaan secara tulus atas kerja keras sibling dalam menjaga dan menemani ABK.

Dengarkan dengan empati

Sibling biasanya memiliki banyak emosi negatif, mereka butuh orangtua yang mau mendengarkan tanpa memberi penilaian atau kritik. Luangkan waktu untuk berbicara dengan sibling, pahami dan terimalah pemikiran serta perasaannya. Luangkan waktu Anda untuk berbicara dengan sibling, pahami dan terima pemikiran serta perasaannya. Jangan tuntut sibling untuk menjadi anak yang tegar.

Beri penghargaan

Sama halnya dengan orangtua, sibling juga menghadapi masa-masa sulit dalam menyesuaikan diri dengan kondisi ABK. Berikan penghargaan dengan tulus atas segala usaha dan bantuan yang telah dilakukannya.
Berikan kesempatan yang luas bagi sibling untuk mengembangkan diri di luar rumah, misalnya dengan mengikuti olahraga, musik, seni, berbagai lomba, dan sebagainya. Selain mengurangi stres, kegiatan ini bisa memberi rasa bangga jika mereka berhasil berprestasi.
Berkumpul dengan sesama sibling ABK merupakan kegiatan yang amat bermanfaat, sebagai ajang untuk saling berbagi pengalaman dan memperoleh dukungan emosional. Jika perlu ikut sertakan sibling dalam kegiatan Siblings Support Group. Seperti halnya orangtua, sibling ABK membutuhkan kelompok yang memahami pengalaman khusus mereka.

Karakter positif

Selama orangtua berhasil menanamkan pengertian dan memerhatikan mereka dengan baik, sibling memiliki karakteristik positif:
  • Senang membantu orang lain
  • Menghargai perbedaan
  • Memahami perasaan orang lain
  • Lebih matang secara emosional
  • Bangga akan prestasi kakak/adik ABK
  • Motivasi yang tinggi untuk berprestasi

Referensi:

  1. Meyer, Donald J. & Vadasy, Patricia. Living with a brother or sister with special needs, II-nd ed. Washington: The University of Washington Press.
  2. Meyer, Donald J. & Vadasy, Patricia, 1994. Workshop for siblings of children with special needs, Baltimore: Paul H. Brookes Pub co.

Bersumber dari : www.anakku.net

Selasa, 11 Oktober 2011

Kuliner Sate merangi di warung enak

SATE MERANGI DI 'WARUNG ENAK'Sate merangi sebenarnya kuliner sate sapi seperti pada umumnya, dinamakan sate merangi hanya untuk membedakan saja. Bahannya dari daging sapi. Bumbunya kecap, disertai lalapan irisan brambang, cabe, mentimun dan tomat. Sate dan kecap beserta bumbunya menyatu sehingga terlihat satenya ‘berlumuran’ kecap. Menggigit satu tusuk sate, dagingnya empuk. Tidak menyertakan gajih. Hanya daging sapi yang disajikan.
Kuliner ini bisa ditemukan di ‘Warung Enak’. Ya, namanya memang ‘warung enak’, agaknya bertusaha mensugesti orang untuk mampir sekaligus memberitahukan, bahwa kuliner di “warung enak’ memang enak untuk dinikmati. Lokasi warungnya juga mudah dicari. Tepatnya di jalan Pramuka, Melikan, Bantul. Satu kompleks dengan toserba ‘Purnama’.
Mungkin untuk menarik pengunjung, bangunan warungnya dibuat (seolah) eksotik. Bahan bangunan dari bambu, meski ada batu batanya ketika masuk di warungnya. Ruagannya luas SATE MERANGI DI 'WARUNG ENAK'dan terbuka, sehingga ada suasana lengang memasuki ruangan ‘warung enak’. Selain bisa memilih duduk di kursi, tersedia pula lesehan.
Pilihan kulinernya memang macam-macam, yang barangkali agak berbeda, ada satu kuliner yang mungkin di tempat lain belum ada, yakni ‘Gulu Sapi Bakar’. Kuliner lainnya bisa ditemukan di warung-warung yang lain. Hanya variasinya yang mungkin membedakan dari warung lainnya.
Pada sate merangi, yang kebetulan ‘kuliner Tembi’ memesannya, rasa pedas manis sangat terasa. Bahkan ada rasa asamnya sedikit. Satu porsi sate seharga Rp. 17.500 terdiri dari 5 tusuk sate. Satu tusuk ada 4 potongan daging. Jadi, ada 20 potongan daging pada 5 tusuk sate. Satu porsi belum termasuk sepiring nasi. Maka, perlu memesan nasi untuk menikmatinya. Selain itu, ada aneka jenis kuliner minuman yang tersedia. Termasuk aneka juice: juice guava, juice SATE MERANGI DI 'WARUNG ENAK'sirsak, juice mangga dan lainnya.
‘Warung Enak’ memang belum lama. Baru beberapa bulan yang lalu warung ini dibuka. Tepatnya bulan Agustus 2011. Sebut saja, untuk di Bantul, ‘Warung Enak’ merupakan salah satu pilihan kuliner yang lain. Karena, ada sejumlah kuliner lainnya yang sudah dikenal. Pada warung enak, nuansa bersih pada warungnya nampak kelihatan.
Kuliner tambahan lainnya yang disediakan berupa sambal, misalnya sambal rempah, sambal momand, sambal terasi dan sambal bawang’ Satu porsi sambal harganya Rp, 2.500,- Selain itu ada beberapa jenis kuliner nasi goreng, misalnya nasi goreng sea food, nasi goreng kambing, nasi goreng ikan jamal. Bermacam pilihan kuliner ini, rupanya upaya untuk SATE MERANGI DI 'WARUNG ENAK'menarik orang untuk datang.
Biasanya, yang banyak ditawarkan oleh warung-warung selama ini, adalah jenis daging iga sapi. Di ‘warung enak’, agaknya kuliner spesialnya berupa gulu sapi yang dimasak dalam beberapa jenis: ada gulu sapi bakar madu, gulu sapi bakar pedas, gulu sapi lada hitam. Pada menu gulu sapi, di list menu dijelaskan sebagai berikut:
“Daging leher atau gulu sapi sejatinya adalah bagian yang paling sehat dinikmati karena tidak berlemak, namun bertekstur keras. Dengan olahan resep khusus gulu sapi dapat disajikan empuk, lezat khas warung enak’.
Pada pilihan daging, kiranya yang menentukan kualitas dari kuliner ‘warung enak’. Kalau gajih disertakan pada sate misalnya, atau kuliner daging lainnya, bisa mengganggu konsumen, yang sudah mengurangi kolelstrol. Syukurlah hanya daging yang disertakan.
‘Warung Enak’, sebut saja, salah satu pilihan yang lain dari sejumlah kuliner yang sudah ada di Bantul. Mudah2an memiliki daya tahan panjang warung ini untuk terus melayani (calon) pelanggannya.
Ons Untoro

Bersumber dari : www.tembi.net

Senin, 10 Oktober 2011

Kenali Guru Anak Kita

Walau ada pepatah mengatakan “it takes a village”  untuk membesarkan dan mendewasakan seseorang dari anak menjadi orang dewasa, tetap kita tak bisa pungkiri bahwa orang yang paling  dekatlah yang paling berpengaruh.  Setelah orang tua, siapakah  orang dewasa lain yang paling dekat dengan anak ? Salah satunya adalah guru sang anak.  Dengan kedudukan dan rutinnya seorang guru berada dekat anak, mau tak mau guru ikut menyumbang peran yang besar bagi perkembangan anak. Baik mental, intelektual, kepribadian, sosial, dan lain sebagainya.
Dengan makin banyaknya  pengaruh-pengaruh luar yang tidak baik bagi anak dalam hidup sehari-hari,   sangat penting untuk lebih memberi perhatian dalam proses mendidik  anak menjadi dewasa. Oleh karena itu, anak benar-benar membutuhkan guru yang dapat memberinya bimbingan, dorongan motivasi, teladan, selain sekedar mengajarkan suatu materi pelajaran. Singkat kata, anak perlu untuk mendapatkan guru  yang baik.

Tapi masalahnya, bagaimana kriteria “guru yang baik” itu ?

  1. Guru yang baik tidak selalu terpaku dengan materi yang ada di buku saja, melainkan dapat membuat anak mengerti  penerapan ilmu dan budi pekerti dalam hidup sehari-hari.
  2. Guru yang baik , adalah guru yang benar-benar peduli dan menyayangi anak didiknya, dan akan berusaha semaksimal mungkin demi kemajuan si anak.  
  3. Guru yang baik adalah guru yang mampu membuat muridnya berusaha lebih baik lagi.
  4. Guru yang baik adalah guru yang  mendapat hormat dan penghargaan dari muridnya, bukan yang membuat muridnya ketakutan.
Bagaimanakah guru anak kita ? Alangkah baiknya bila kita dapat menyempatkan diri mendengarkan bagaimana  anak kita memberi komentar terhadap gurunya. Apakah anak kita sungguh-sunggh dididik dan diajar dengan baik oleh gurunya ?  Apakah guru anak kita memang mampu untuk membimbingnya ? Apakah guru anak kita dapat memotivasi anak untuk belajar lebih giat ?
Tidak ada salahnya untuk mengenal guru anak kita lebih baik, agar kita tahu bagaimana anak kita dididik. Bukankah semua orang tua menginginkan hal yang terbaik bagi anaknya, termasuk dalam hal pendidikan ?

Bersumber dari : www.anakku.net

Minggu, 09 Oktober 2011

Leukemia Bisa Sembuh, Asal…

Sampai saat ini penyebab kanker anak belum diketahui pasti.
Diperkirakan faktor genetik dan faktor lingkungan dapat mencetuskan pertumbuhan sel yang tak normal.
Cermati gejalanya, Leukemia bisa sembuh….



Kanker pada anak banyak jenisnya, beberapa yang cukup sering ditemukan adalah kanker darah (leukemia), tumor otak, tumor mata (retinoblastoma), kanker kelenjar getah bening (limfoma), dan kanker saraf (neuroblastoma). Sampai saat ini penyebab kanker anak belum diketahui pasti. Diperkirakan faktor genetik dan faktor lingkungan dapat mencetuskan pertumbuhan sel yang tak normal. Faktor lingkungan seperti radiasi, obat-obatan, dan hormon tertentu yang dikonsumsi ibu saat hamil muda dapat menjadi faktor pencetus kanker anak.

Leukemia bisa sembuh

Dari banyaknya jenis kanker pada anak, leukemia adalah salah satu kanker yang berdampak cerah. Selain cukup banyak dijumpai, leukemia mempunyai harapan sembuh bila diobati secara cepat, tepat, dan benar.

Cermati gejalanya

  • Adanya bintik putih pada mata atau “mata kucing”, penglihatan terganggu, bola mata nampak lebih besar dan/atau menonjol, perdarahan mata spontan, juling mendadak. Umumnya muncul sebelum usia 4 tahun
  • Teraba benjolan atau bengkak pada hati, limpa, leher, buah zakar, kelenjar getah bening, dan tulang
  • Nyeri pada tulang atau sendi
  • Sakit kepala terus menerus disertai mual muntah saat bangun tidur, pusing tujuh keliling, kesadarannya terganggu, kejang, perilaku berubah, lumpuh
  • Pucat, sering demam yang tidak diketahui sebabnya, sering berdarah (mimisan, memar, gusi berdarah, kencing berdarah), berat badan menurun, dan tidak nafsu makan.
Leukemia terbanyak pada anak adalah leukemia limfoblastik akut, dan untungnya inilah jenis leukemia yang selama ini relatif dapat disembuhkan.
Pada leukemia akut, terjadi pembelahan sel darah yang amat cepat hingga menghasilkan sel yang tidak matang dan tak berfungsi. Akibatnya, jumlah sel darah putih, sel darah merah, dan trombosit tidak cukup menimbulkan gejala anak sering sakit, anemia, dan mudah berdarah.

Butuh kesabaran

Harapan sembuh akan semakin besar bila leukemia diobati secara dini. Memang dalam mengobati kanker, dibutuhkan kesabaran baik dari anak maupun orangtua. Pengobatan leukemia yang utama saat ini hanyalah kemoterapi. Dan saat pengobatan, banyak efek samping yang harus dihadapi si kecil seperti risiko mudah infeksi, mual, muntah, rambut rontok, sariawan di mulut, diare, dan sebagainya. Sehingga, terapi kemoterapi harus disertai pula dengan terapi lainnya seperti nutrisi yang baik, obat-obatan penunjang, cairan yang cukup, ruangan yang khusus, dan jika perlu terapi psikologi untuk menunjang penyembuhannya. Seorang anak yang diduga leukemia tak hanya menjalani pemeriksaan darah biasa. Untuk memastikannya diperlukan biopsi yang diambil langsung dari sumsum tulang. Selain itu, dokter juga akan melihat apakah leukemia sudah menyerang organ-organ tubuh dengan serangkaian pemeriksaan seperti pengambilan cairan dari tulang belakang, CT-scan, dan sebagainya. Semua ini dibutuhkan untuk menentukan jenis terapi terbaik untuk si kecil juga kemungkinannya untuk sembuh.
Setelah kemoterapi, anak akan dievaluasi dan diikuti perkembangannya hingga 5-10 tahun untuk dinyatakan sembuh total. Bila di pertengahan, gejala muncul kembali dan ditemukan sel leukemia, maka anak dinyatakan kambuh dan diperlukan pengobatan lebih lanjut.

Referensi

The Leukemia & lymphoma society. Leukemia Facts & statistics. Diunduh dari www. Leukemia-lymphoma.org. Juni 2006
Pizzo PA, Poplack DG. Principles and practice of Pediatric oncology. 4th ed.. 2002
RH Sills. Practical Algorithme in Pediatric Hematology and Oncology, 2003
 
Bersumber dari : www.anakku.net
Ditulis oleh : Hardiono Pusponegoro ( Dokter Spesialis Anak, Konsultan Saraf Anak. Bekerja di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/ RS Dr. Cipto Mangunkusumo. Praktek di Klinik Anakku Kelapa Gading. Founder Klinik Anakku Check My Child dan Sekolah Anakku. Juga menjadi pimpinan redaksi Majalah Anakku.) 

Pintu Gapit Pada Bangunan Teradisional Jawa

Bangunan Jawa yang disebut sebagai Joglo merupakan bangunan khas yang umumnya hanya dimiliki oleh keturunan bangsawan Keraton.  Sebab dahulu rakyat jelata di Jawa kurang mempunyai bangunan khas Jawa.  Umumnya mereka hanya mempunyai rumah dari kayu atau bamboo yang berdinding gedeg atau bilik yang terbuat dari anyaman bamboo dan beratap biasa saja.  Sedangkan Joglo beratap khas dan mempunyai puncak yang tinggi.  Sudah barang tentu membangunnya agak sulit dan membutuhkan kayu-kayu yang besar untuk tiang penyangga puncak tengahnya. Dan harus memiliki pondasi kuat untuk menyangga bagian tengah tersebut.

Umumnya rumah Priyayi Jawa walaupun di desa memiliki cirri khas tersendiri yaitu sudah pasti Joglo dan walaupun kecil tapi rapih.  Dan yang paling menonjol biasanya ada pintu Gapitnya di halaman. 

Pintu tersebut adalah pintu gerbang masuk ke halaman.  Bentuknya memiliki dua lembar daun pintu terbuat dari kayu jati atau yang sudah tua.  Pintunya tinggi dan agak berukir dan ada bingkainya yang atasnya ada atapnya dan di bawah atap tersebut bertuliskan nama pemilik rumah beserta gelar kebangsawanannya.  Tulisan tersebut juga terbuat dari ukiran kayu jati.  Gerbang Gapit tersebut adalah satu-satunya jalan keluar masuk ke jalanan umum.  Selebihnya adalah pagar tembok tinggi atau setengah.

Kini banyak pintu gapit aseli yang sudah berumur yang dibeli dari bongkaran rumah tua di Jawa.  Pintu-pintu tersebut umumnya diperjual belikan dengan harga tinggi di took-toko ukiran jati atau ukiran Jepara.  Pintu ini memang unik dan menyerupai gerbang kecil sebuah istana.

Kini bangunan moderen pun ada yang didesain menyerupai rumah bangsawan Jawa.  Sehingga menggunakan pintu Gapit juga.  Dan kini para arsitek juga telah memahami arsitektur kuno rumah ala Joglo.  Sehingga bila kita hendak membangun dengan gaya demikian maka mereka bisa melayani kita.   

Kita tinggal berkonsultasi dengan Konsultan Bangunan untuk memperhitungkan anggarannya.  Kemudian hasilnya tinggal kita konsultasikan lagi ke Kontraktor yang nantinya akan memerintahkan seorang Arsitek untuk merancangnya.

Anak ‘Clumsy’, Kenali Mereka Yuk…!

6% anak usia sekolah mengalami masalah koordinasi motorik yang cukup serius yang mengganggu prestasi akademis dan personal sosial anak. Sayangnya, orangtua dan dokter sering “lolos” mengenalinya.
Masalah seperti ini biasanya mulai muncul di tahun-tahun pertama usia sekolah, dan tampak sebagai kesulitan dalam menjalankan tugas motorik yang sederhana seperti berlari, mengancingkan baju atau memegang dan menggunting kertas. Anak seperti ini dikenal sebagai anak ‘Clumsy’.
Gangguan motorik ini akan tetap ada sampai usia anak menginjak remaja bahkan dewasa. Tak jarang gangguan koordinasi motorik ini malah ditambah dengan masalah lain seperti gangguan pemusatan perhatian-hiperaktivitas (GPPH) atau yang dikenal sebagai attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan belajar, keterampilan menggambar dan menulis yang buruk dan ketidakmatangan emosi.
Di usia remaja, masalah bisa menjadi tambah pelik, karena anak “clumsy” cenderung memiliki masalah emosi, sosial dan pendidikan yang lebih rumit dibandingkan anak normal. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk dapat mengenali gangguan ini, sehingga dapat memberikan intervensi terbaik bagi putra putri mereka.

Bagaimana mengenalinya?

  • Mereka tidak terlambat duduk, atau terlambat berjalan misalnya. Namun, keterlambatan jadi tampak jelas jika mulai berhubungan dengan perkembangan sosial-adaptif.
  • Anak “clumsy” nampak tidak seterampil anak lain dan harus “berjuang” dulu agar bisa terampil dalam bermain sepeda, menangkap bola, memegang pensil atau menggunting garis lurus pada kertas.
  • Terlambat menguasai keterampilan harian yang diperlukan untuk kemandirian, misalnya mengancingkan baju, melipat baju olahraga, menutup tutup termos minum,  menyimpulkan tali sepatu.
  • Di sekolah, hampir tiap saat anak “clumsy” menabrak temannya, atau menyenggol sudut meja saat berjalan, atau tidak sengaja membenturkan lututnya ke pinggir meja belajar saat bangkit dari tempat duduknya.
  • Tidak jarang pula anak “clumsy” dilaporkan menjatuhkan atau membenturkan barang yang sedang dipegangnya secara tidak sengaja. Mungkin juga anak mulai dikucilkan dari pergaulan teman sebayanya karena prilakunya yang cenderung sembrono dan “grasa grusu”.
  • Lama kelamaan menjadi tidak percaya diri, dan mengisolir diri dari keterlibatan aktivitas yang membutuhkan keterampilan koordinasi motorik, misalnya olahraga.

Bagaimana mendiagnosa?

Yang termasuk dalam kriteria anak ‘clumsy’ mempunyai tingkat kepandaian normal, tidak mempunyai gangguan kesehatan atau kelainan saraf (neurologis), tapi menunjukkan masalah dalam koordinasi, sehingga mengganggu prestasi akademis, dan atau kehidupan sosialnya.
Orangtua anak ‘clumsy’ biasanya datang dengan keluhan bahwa anak mengalami gangguan belajar, masalah prilaku, atau anak sering mengeluh sakit atau nyeri di bagian tertentu dari tubuhnya tapi sebetulnya tidak mengalami sakit apa-apa (psychosomatic ache or pain).
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara komprehensif, mulai dari tinggi badan, berat badan, lingkar kepala dan tentu saja pemeriksaan neurologis (saraf) termasuk pemeriksaan mata, saraf-saraf otak, kekuatan dan tonus otot, serta berbagai refleks dan tes-tes keseimbangan. Jika ditemukan adanya kelemahan otot, ketidak seimbangan motorik, atau tonus otot yang melemah atau meningkat, maka anak tidak termasuk kriteria “clumsy” seperti yang disepakati dalam DSM-IV.
Sifat “clumsy” pada anak DCD bukan merupakan sesuatu yang progresif. Jika seorang anak yang semula normal, tiba-tiba mundur ketrampilannya dari hari ke hari, hal tersebut bukan suatu “clumsy” yang disepakati sebagai DCD dalam DSM-IV.

Apa penyebabnya?

Penyebab pasti anak “clumsy” belum diketahui benar. Sebagian peneliti menduga terdapat gangguan fungsi perencanaan motorik, yang dikenal sebagai “dyspraxia”. Peneliti lain mengatakan bahwa anak ‘clumsy’ mengalami gangguan proprioseptif dan gangguan integrasi rangsang sensoris. Ada pula penelitian yang menunjukkan bahwa anak ‘clumsy’ mengalami gangguan dalam memproses input visual.

Mungkinkah sembuh?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan koordinasi pada anak DCD cenderung menetap sampai dewasa dan berpengaruh terhadap prestasi akademis, fungsi sosial emosi dan prilaku individu tersebut kelak.
Apa yang dapat dilakukan?
Mengurangi tingkat “keparahan” gangguan koordinasi motorik yang mereka alami. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa terapi okupasi yang disesuaikan untuk setiap individu DCD (individualized occupational therapy) dapat meningkatkan beberapa ketrampilan motorik tertentu, sehingga menumbuhkan kepercayaan diri pada individu “clumsy” dan keluarganya.
Ajak anak DCD untuk lebih banyak aktif dalam kegiatan olahraga seperti renang atau menunggang kuda. Selain itu lakukan konseling keluarga untuk memberikan wawasan kepada keluarga mengenai gangguan tersebut, dan dukung mereka dalam menciptakan kondisi yang lebih baik.
Referensi:
  • Hamilton SS. Evaluation of clumsiness in children. Am Fam Physician 2002;66:1435-40
  • Floet AMW. Motor Skills Disorder. www.emedicine.com. Download January 2007.
  • Lynn D. How to help a clumsy children. Scouting magazine. October 1999
  • Sigmundsson H, Hansen PC, Talcott JB. Do clumsy children have visual deficits.
  • Behavioural Brain Research 139 (2003) 123-129
 Bersumber dari : www.anakku.net
Ditulis oleh : Hardiono Pusponegoro ( Dokter Spesialis Anak, Konsultan Saraf Anak. Bekerja di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/ RS Dr. Cipto Mangunkusumo. Praktek di Klinik Anakku Kelapa Gading. Founder Klinik Anakku Check My Child dan Sekolah Anakku. Juga menjadi pimpinan redaksi Majalah Anakku.)