Pembangunan di negara kita ini sedang marak-maraknya, dimana-mana kita bisa melihat bangunan baru yang sedang dibangun. Kita belum menyadari bahwa semen dan beton turut andil dalam pemanasan global bagi bumi.
Semen dan beton memang menghasilkan gas rumah kaca yang mampu membuat suhu atmosfir bumi menjadi semakin panas. Bila kita sedang mengaduk semen dan mencampur beton maka dari adonan tersebut sebetulnya mengeluarkan gas CO2 atau karbondioksida. Gas ini sama dengan yang dihasilkan dari pembakaran minyak bumi dari mesin-mesin industri dan kendaraan bermotor.
Oleh karena itu kini di Eropa dan Amerika sedang dikembangkan suatu semen dan bahan bangunan lainnya yang tidak mengeluarkan gas rumah kaca tersebut. Namun sayang sekali material tersebut masih sedang diuji coba dan belum turun ke pasaran. Bahan bakunya bukanlah kapur seperti yang terdapat pada semen biasa. Sebab bahan tersebutlah yang dicurigai membuat panas dan menghasilkan gas CO2.
Justru bahan yang dipakai adalah endapan dari cerobong asap industri yang dipadatkan. Melalui serangkaian proses kimia maka nantinya material ini malahan bisa secara aktif mengikat Karbondioksida dari udara. Sehingga malah bisa membantu mengurangi polusi.
Tentunya nanti bila material ini telah turun ke pasaran kita harapkan agar para ahli bangunan seperti kontraktor bangunan atau arsitek mempunyai kemauan moril untuk menggunakannya walaupun mungkin harganya masih mahal. Mungkin malah ada baiknya dibuatkan peraturan pemerintah yang mewajibkan para ahli bangunan mulai dari Kontraktor Bangunan, Arsitek hingga Konsultan Bangunan untuk memakainya. Dan dikenakan sangsi bila menggunakan material yang menghasilkan gas CO2.
Tampilkan postingan dengan label semen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semen. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 April 2012
Rabu, 01 Februari 2012
Ground Cover, Makin Rimbun Makin Cantik
Karena ingin yang praktis, lahan kosong di depan rumah biasanya ditutup dengan lapisan semen. Padahal cara tersebut justru menyebabkan terjadinya panas berlebih dan tingginya ancaman kecelakaan ringan. Ironisnya, justru inilah kecenderungan lingkungan perumahan sekarang.
Akan lebih bermanfaat jika sebagai ganti semen, digunakan beragam tanaman penutup tanah (ground cover). Selain mata disejukkan karena halaman rumah menjadi hijau, area tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang bermain anak atau pun pesta kebun.
Tidak semua tanaman dapat disebut ground cover, walaupun sama-sama menutupi tanah. Ada syarat ketinggian tertentu. “Ketinggiannya sekitar 4-5cm,” jelas Arief Zul Akbar, Asisten Manager Marketing PT Istana Alam Dewi Tara.
Jenis tanaman ini tergolong bandel. Setelah tertanam dengan baik, setidaknya setelah 5 hari, Anda cukup menyiraminya 1 kali setiap hari. Untuk menjaga bentuk, tanaman dipangkas setiap 2 bulan sekali dan setelah 3 pemangkasan, tanaman kempali dipupuk.
Beberapa pilihan tamanan ground cover yang tetap diminati adalah rumput gajah mini (Pennisetum purpureum schamach), ubi hias (Ipomea batatas ‘Marguerite’), dan kacang hias (Arachis pintoi).
Namun kini rumput gajah mini variegata tengah menjadi primadona. Perawakannya serupa rumput gajah mini, hanya saja daunnya berbelang-belang.
Berbagai jenis tanaman ini biasanya dijual per meter persegi (m2). “Untuk tiap meter persegi, harganya berkisar antara Rp 12.000,- – Rp 20.000,-,” ujar Arief. Tertarik ? (Bernadetta Tungga Aditya)
Bersumber dari : www.tabloidrumah.com
Akan lebih bermanfaat jika sebagai ganti semen, digunakan beragam tanaman penutup tanah (ground cover). Selain mata disejukkan karena halaman rumah menjadi hijau, area tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang bermain anak atau pun pesta kebun.
Tidak semua tanaman dapat disebut ground cover, walaupun sama-sama menutupi tanah. Ada syarat ketinggian tertentu. “Ketinggiannya sekitar 4-5cm,” jelas Arief Zul Akbar, Asisten Manager Marketing PT Istana Alam Dewi Tara.
Jenis tanaman ini tergolong bandel. Setelah tertanam dengan baik, setidaknya setelah 5 hari, Anda cukup menyiraminya 1 kali setiap hari. Untuk menjaga bentuk, tanaman dipangkas setiap 2 bulan sekali dan setelah 3 pemangkasan, tanaman kempali dipupuk.
Beberapa pilihan tamanan ground cover yang tetap diminati adalah rumput gajah mini (Pennisetum purpureum schamach), ubi hias (Ipomea batatas ‘Marguerite’), dan kacang hias (Arachis pintoi).
Namun kini rumput gajah mini variegata tengah menjadi primadona. Perawakannya serupa rumput gajah mini, hanya saja daunnya berbelang-belang.
Berbagai jenis tanaman ini biasanya dijual per meter persegi (m2). “Untuk tiap meter persegi, harganya berkisar antara Rp 12.000,- – Rp 20.000,-,” ujar Arief. Tertarik ? (Bernadetta Tungga Aditya)
Bersumber dari : www.tabloidrumah.com
Langganan:
Postingan (Atom)